Rokok Membunuh Anakmu

image

Para perokok biasanya akan kesulitan menjawab pertanyaan ini: mengapa merokok? Ya, mengapa dulu ia mulai mencoba merokok lalu ketagihan? Ini pertanyaan kecil sehingga para perokok melupakan alasan pertama kali mereka merokok. Tapi ini juga pertanyaan serius karena dampak yang ditimbulkannya kini.

Dari mengobrol ringan dengan beberapa teman, alasan paling umum yang mereka kemukakan untuk menjawab mengapa merokok adalah alasan iseng dan ikut-ikutan teman, lalu alasan tanda dewasa, kemudian ingin terlihat keren. Ini alasan-alasan elementer yang bisa begitu problematik di kemudian hari. Mereka tak perlu alasan yang lebih penting dari itu karena merasa merokok sudah dianggap wajar dan budaya keseharian.

Bahkan dalam hubungan sehari-hari, ada istilah “uang rokok” untuk pengganti kata tips atau upah yang diberikan di luar dan tak sebesar gaji pokok. Si pemberi tak mempedulikan orang yang diberi uang itu merokok atau tidak. Istilah ini menunjukkan bahwa rokok telah dianggap barang umum seperti halnya jajan camilan. Rokok telah disejajarkan dengan combro atau bala-bala, jajanan yang umum dijumpai di Indonesia, mudah didapat, dan murah. Istilah itu juga menunjukkan bahwa orang Indonesia menganggap rokok barang yang dibutuhkan semua orang.

Maka tak heran jika orang menganggap merokok sebuah kewajaran, apalagi dilegalkan oleh negara dan ulama. Di kampung-kampung merokok bahkan dianggap tanda seseorang telah menjadi dewasa. Anak-anak dibolehkan merokok sehabis disunat. Anak-anak remaja disisihkan teman-temannya dan dianggap kurang bergaul jika tak merokok. Merokok bukan dianggap sebuah kegiatan membahayakan.

Fakta menunjukkan merokok tidak saja berbahaya bagi penghisapnya tapi juga orang di sekelilingnya. Para perokok pasif ini jauh lebih berisiko ketimbang mereka yang menghisap langsung. Para perokok pasif tak saja menghisap racun rokok tapi juga racun yang sudah bercampur dengan racun yang ada di tubuh para perokok yang melayang di udara menjadi radikal bebas.

Tak hanya itu. Racun nikotin akan menempel di rambut, baju, kulit penghisapnya. Ia akan terhisap orang lain yang berdekatan dengannya. Karena itu banyak kasus anak-anak yang terkena radang paru-paru, atau orang tua yang tiba-tiba terkena serangan jantung dan kanker saluran pernafasan, padahal tak merokok. Mereka menjadi korban orang lain yang menghisap rokok.

Dan perokok pasif jumlahnya pasti lebih banyak dibanding perokok. Karena seorang perokok akan menyebarkan asapnya kepada orang lain yang lebih banyak. Seorang ayah yang merokok akan meracuni anak dan istrinya dengan asap yang ia semburkan. Survei Kementerian Kesehatan menyebutkan 1 dari 3 rumah tangga terdapat satu orang perokok.

Para ayah dan perokok lain bisa berdalih mereka tak merokok di rumah, tapi di luar, di teras, atau lapangan yang jauh dari anak-anak. Mereka lupa bahwa asap yang mereka hisap akan menempel di baju dan rambut. Lalu ketika mereka memasuki rumah dan berpelukan dengan istri dan anak-anaknya, nikotin yang menempel itu terhisap oleh mereka.

Karena merasa tak merokok langsung itu, para perokok pasif selalu tak siap dan sadar tubuhnya telah teracuni nikotin. Banyak kasus orang yang menyepelekan batuk dan sesak napas yang mereka alami sehingga tak berpikir menghubungkannya dengan aktivitas merokok. Anggapan ini yang kerap kali membuat para perokok pasif tak cepat tertolong. Beda dengan perokok aktif yang sadar akan bahaya rokok lalu berhenti sebelum sakit atau bersiap-siap jika penyakit itu tiba.

Dengan melihat tak ada alasan bagus mengapa merokok, para perokok sebaiknya berhenti. Asap yang anda hisap tak hanya membinasakan anda, tapi juga orang sekeliling yang lebih banyak. Bahkan orang-orang yang anda cintai, anak dan istri anda. Dan mengingat bahaya yang dahsyat itu, negara sebaiknya tak diam tapi turun tangan mengaturnya.

Cukai sebagai sumber pendapatan sebaiknya tak menyilaukan pemerintah dengan terus berdalih rokok berguna bagi banyak orang. Pajak atas rokok seharusnya diperlakukan sebagai pajak tebusan, pajak dosa, karena produk ini membahayakan. Dan cukai tak berarti apa-apa jika ujungnya habis untuk asuransi kesehatan karena banyak orang yang sakit akibat menghisap racun rokok.

One Comment

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Article: Rokok Membunuh Anakmu | lordjampez
    4 June 2014 at 17:11 - Reply