Rokok Terbukti Bisa Membunuh

bunuh

Slogan “merokok membunuhmu” pada baliho iklan-iklan rokok sesungguhnya sebuah pengakuan dari industri rokok bahwa produk ini mematikan. Sebelum 1 Januari 2014, peringatan bahaya rokok datang dari pemerintah: merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Siapa yang peduli pada peringatan pemerintah?

Maka jumlah perokok naik dua kali lipat dibanding 1980, masa ketika peringatan bahaya rokok itu datang dari pemerintah. Peringatan pemerintah itu sebuah ironi karena tak dilakukan dengan tulus. Pemerintah memberitahu rokok berbahaya seraya berharap mendapat limpahan uang cukai setiap tahun. Cukai rokok digolongkan ke dalam penerimaan negara yang diandalkan. Bagaimana kita bisa percaya pada peringatan main-main seperti itu?

Dan siapa pemerintah kita tak tahu. Mungkin hanya Kementerian Kesehatan, yang tugasnya memproteksi warga negara dari pelbagai penyakit. Sebab lembaga lain selain Kementerian Kesehatan faktanya mendukung bertumbuhnya industri rokok. Peringatan pemerintah itu, karenanya, sebuah ironi. Biasanya kita terdorong melanggar apa yang diperingatkan pemerintah karena umumnya himbauan-himbauan itu kosong belaka.

Kini industri rokok sendiri yang mengakui bahwa rokok bisa membunuh penghisapnya. Tentu saja pengakuan ini melalui proses yang sangat panjang. Industri rokok selalu berlindung di balik pernyataan bahwa rokok belum terbukti secara ilmiah merusak tubuh bahkan bisa menghilangkan nyawa. Slogan itu telah mematahkan sendiri asumsi industri rokok bahwa produk tembakau ini benar-benar bisa mematikan penghisapnya secara langsung dan orang di sekelilingnya yang secara tak sukarela dan sengaja menghirup asap rokok yang dihembuskan orang lain. Apakah kini kita juga percaya rokok berbahaya?

Jika masih tak percaya, lalu membela diri bahwa rokok bermanfaat bagi tubuh, agaknya kita perlu memeriksakan logika kita sendiri. Tentu ada yang salah dengan logika dan cara berpikir kita jika masih menganggap rokok tak berbahaya sementara pembuatnya menyatakan produknya sangat mematikan.

Pengakuan industri rokok akan bahaya produk tembakau bertemu lagi dengan kepincangan logika negara. Jika industrinya saja sudah mengakui rokok berbahaya, negara malah menampiknya dengan mendukung peraturan yang khusus mengatur distribusi dan produksi rokok. Negara malah melindungi produk ini seraya tak jeri mengharapkan cukai dari produk rokok. Aneh bin naïf pemerintah sebuah negara punya standar ganda bagi produk yang membahayakan masyarakatnya.

Parlemen mendukung RUU Pertembakauan dan pemerintah tak kunjung mengaksesi kerangka kerja pengendalian tembakau (FCTC). Sikap lembaga-lembaga negara ini abai terhadap kepentingan orang banyak dan bertolak belakangan dengan pengakuan pembuat rokoknya sendiri. Bagaimana kita menyebutnya dengan logika timpang seperti ini?

Sudah ada 178 negara yang meratifikasi FCTC. Mungkinkah ada ratusan negara yang meneken dan memberlakukan aturan pengendalian tembakau ini jika beleid itu merugikan? Ethiopia dan Senegal saja sudah ikut meratifikasi, Indonesia malah maju-mundur untuk mengesahkan peraturan yang diinisasinya sendiri di PBB dulu, peraturan yang akan menjadi dasar hukum dan sejalan dengan konstitusi yang menugasi negara melindungi kesehatan orang banyak.

Fakta telah berbicara ada 400 ribu kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan zat racun dalam rokok. Pendapatan cukai yang hanya Rp 70 triliun per tahun terlalu kecil dibanding pengeluaran uang pajak untuk memproteksi dan mengobati kesehatan masyarakat dari asap rokok yang lebih Rp 200 triliun. Industri telah mengakui sendiri bahwa rokok penyebab kematian akibat pelbagai penyakit racun rokok. Pemerintah menunggu fakta seperti apa lagi untuk memutuskan bahwa masyarakat perlu segera dilindungi oleh aturan hukum sehingga kerugian sosial, ekonomi, dan generasi masa depan, tak lagi terjadi?

Maka di musim kampanye seperti sekarang kita perlu arif untuk mendukung parlemen dan pemerintahan baru yang sadar akan fakta-fakta ini. Pemerintah yang kelak menjalankan tugasnya sebagai benar-benar menjadi pengayom dan pelindung masyarakat, yang salah satunya, dari bahaya asap rokok. Jangan tunggu harapan-harapan itu putus karena kita kehilangan generasi produktif yang dibunuh oleh racun nikotin.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*