090220_phwdicirclekcikini-2

Sejarah Baru Hak Sehat Indonesia

24 Juni 2014 menjadi tonggak baru sejarah pengendalian tembakau di Indonesia. Pada tanggal itu semua industri rokok wajib mencantumkan peringatan bergambar bahaya merokok. Gambar berupa kanker tersebut harus memenuhi 40 persen penampang bungkus rokok, selain peringatan tertulis “rokok membunuhmu”, juga peringatan tak ada batas aman takaran zat dalam sebatang rokok yang mengandung 4.000 jenis racun.

Dengan penerapan aturan ini, Indonesia sejajar dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu memberlakukannya. Bahkan lebih maju. Negara lain yang sudah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau pun belum tentu punya kebijakan serupa. Meski ada negara-negara yang malah lebih radikal. Australia sudah menerapkan kemasan polos yang sama sekali tak menampilkan merk dan jenis rokok. Di negara-negara ASEAN, Indonesia termasuk telat sadar bahwa peringatan bergambar cukup punya dampak signifikan untuk menekan jumlah perokok baru.

Penelitian sudah membuktikan pesan bergambar di bungkus rokok itu efektif menekan laju perokok baru dan menyadarkan perokok lama yang sudah terkena candu nikotin, ketimbang peringatan tertulis. Dengan begitu aspek pendidikan tentang bahaya rokok menjadi tujuan kebijakan ini. Merokok adalah hak jika para perokok sudah paham apa bahaya rokok bagi tubuhnya sendiri dan orang lain. Hak para perokok itu terbatasi oleh hak orang lain yang tak seharusnya mengisap racun yang dihembuskan mereka.

kemasan-rokok-1

Otak manusia cenderung menerima pesan lebih cepat dengan memakai gambar daripada tertulis. Proses menyerap makna dua kali lebih cepat karena pikiran tak perlu mencerna lebih keras ketimbang proses pemahaman pada tulisan. Pesan bergambar, karena itu, sangat logis diterapkan terutama untuk member pemahaman bahwa rokok benar-benar bias menyengsarakan dan membunuh.

Para perokok umumnya tahu bahaya nikotin. Mereka tak berkutik dan terus-menerus menjadi hamba rokok karena sudah terkena adiksi. Dan penyakit-penyakit akibat merokok baru terlihat setelah puluhan tahun menjadi pecandu. Para perokok abai akan bahaya nikotin karena akibat buruknya cenderung muncul dalam tempo lama. Dengan pesan bergambar itu para calon perokok mesti berpikir dua kali sebelum mereka terjerumus dan tak bisa melepaskan diri dari sergapan adiksi nikotin.

Kini rokok telah dianggap sebagai penyebab utama penyakit-penyakit mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kanker, migrain, tuberkolosis. Lebih jauh dari itu rokok telah digolongkan ke dalam penyebab rendahnya produktivitas yang berakibat pada tingginya angka kemiskinan. Tak ada negara kaya yang jumlah perokoknya lebih dari sepertiga jumlah penduduknya.

Perokok Indonesia kira-kira 70 juta atau hampir sepertiga jumlah penduduk—ini meningkat lima kali lipat dalam satu dekade. Sebagian besar dari mereka ada pada usia produktif karena perokok baru terus muncul akibat begitu masifnya bujukan-bujukan iklan rokok yang menyasar remaja. Rokok selalu diidentikan dengan kekompakkan, bersemangat, bugar, jentelman.

statik.tempo.co

Seiring makin kian sadarnya orang akan kesehatan, konsumsi rokok mulai terbatas. Namun, industri rokok menangkap kesadaran ini sehingga mereka menciptakan inovasi-inovasi rokok sebagai gaya hidup. Maka terciptalah jenis rook mild, light, ultralight. Tujuannya untuk menumbuhkan mindset bahwa merokok tak masalah karena kandungan racunya dikurangi. Tentu saja ini menipu karena merokok, berapapun takaran asap yang diisapnya, racun yang dihirup para perokok sama saja.

Dengan peringatan bergambar yang menunjukkan akibat nyata racun rokok, informasi dalam distribusinya menjadi adil karena di sana juga ada hak masyarakat untuk tahu akan bahaya barang yang dibelinya. Pemerintah memenuhi tugasnya sebagai pendidik masyarakat yang menjadi objek dan sasaran pembentukan kesan melalui iklan rokok. Maka hari ini adalah hari yang penting, tonggak sejarah baru hak sehat Indonesia.

5 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Sejarah Baru Hak Sehat Indonesia | Kandyani Og
    24 June 2014 at 19:30 - Reply

    […] SUMBER […]

  • Rafinistic
    25 June 2014 at 08:42 - Reply

    Kak, sebelumnya saya minta maaf. Saya izin mengutip ya.
    Semoga banyak yang sadar akan kesehatan dirinya dan orang disekitarnya :)

    • Sinta Rara
      27 June 2014 at 17:40 - Reply

      silakan

  • sugeng
    29 July 2014 at 15:40 - Reply

    Menurut saya Pemerintah kita kurang tegas, mengapa cuma larangan??? Berani tidak pemerintah menutup total seluruh pabrik yang memproduksi rokok??? Hheemmm… Saya yakin 100% Pemerintah tidak akan melakukannya… Anda pasti tahu apa alasannya :)

    • Antis Leira
      31 July 2014 at 22:05 - Reply

      betul, mas. ada banyak alasan dan ketakutan bagi pemerintah melakukan itu.