238584ffc72bc6a1f6cc8da2a5e7dca2

Seperti Apa Cukai yang Adil?

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/2013 tentang klasifikasi cukai produk tembakau mulai berdampak. Bentoel dan H.M Sampoerna melikuidasi pabrik-pabrik kecilnya untuk menghindari sanksi kepemilikan pabrik yang sedarah dan semenda ke samping dua derajat. Pemerintah membuat aturan ini untuk menghindarkan manipulasi cukai akibat dua atau lebih pabrik dimiliki oleh orang atau keluarga yang sama.

Tentu saja basis peraturan ini adalah pendapatan negara karena dibuat oleh Menteri Keuangan dan mengatur dari perspektif cukai. Tak ada yang salah dari keputusan Menteri Keuangan ini. Tugas dia mengumpulkan sebanyak mungkin pendapatan negara dan menutup serapat mungkin potensi kebocorannya. Membiarkan kepemilikan ganda berakibat pada akal-akalan pembayaran cukai sehingga kas negara tak menerima pendapatan yang semestinya.

Peraturan ini juga sekaligus mendorong tumbuhnya industri-industri rokok kecil yang didirikan oleh pengusaha kecil dengan skala produksi kurang dari 300 juta batang per tahun. Kompetisi bisnis yang sehat akan terjadi. Peraturan itu akan dengan sendirinya menghapus kartel dan monopoli industri rokok oleh segelintir orang dan kelompok orang kaya yang memiliki modal dengan mendirikan banyak pabrik.

Bentoel dan Sampoerna itulah contohnya. Maka jika ada yang menolak peraturan ini sudah bisa dipastikan ia pro industri rokok besar dan mengabaikan hajat hidup pabrik rokok kecil plus petani tembakau.

Kartel dan monopoli itulah yang selama ini membuat petani tembakau kita selalu merana karena tak memiliki daya tawar sama kuat dengan pabrik rokok pembeli tembakaunya. Harga dimainkan di tingkat grader dengan alasan kualitas dan jenis tembakau berbeda sehingga harga berbeda. Belum lagi soal musim dan pengelolaan yang tak menghasilkan tembakau kelas wahid.

Jadi jika ada yang mengeluhkan kini banyak pabrik rokok kecil karena regulasi pengendalian tembakau berbasis kesehatan itu keluar besar. Bukan saja karena aturan-aturan pengendalian dari sisi kesehatan belum banyak, penyebab mereka mati karena kian masifnya industri rokok besar mendirikan pabrik kecil dan menengah yang menjadi pesaing mereka. Dengan kepemilikan yang sama, para pengusaha besar ini justru diuntungkan karena membayar cukai lebih murah. Betapa tak adilnya.

Peraturan itu dibuat dengan asas keadilan dan membuat peluang sama besar bagi pabrik rokok kecil bersaing secara sehat. Persaingan yang sehat itu akan berimbas pula ke petani tembakau dengan mendapatkan harga tembakau yang bersaing pula. Maka peraturan itu patut diapresiasi baik dari segi pembelaan kepada petani, industri kecil, sekaligus penerimaan negara.

Jika ada yang menyoal dan mengkritiknya bisa dipastikan itu datang dari pabrik rokok besar yang bisa mengerahkan pengamat dan lembaga yang pura-pura swadaya bersuara menolaknya. Lalu mengait-ngaitkannya dengan peraturan-peraturan pengendalian produk tembakau dari sisi kesehatan yang serba bolong di sana-sini dan belum konprehensif menjangkau semua segi.

Industri rokok kecil di daerah tak punya pos anggaran mengkritik regulasi dan lobi dengan membayar lembaga lain atau pakar seperti industri besar macam Sampoerna atau Bentoel.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*