Surat untuk Calon Presiden

145751_hentikan-kebiasaan-merokok_663_382

Politik kita semakin menarik saja, seusai pemilihan legislatif 9 April kemarin. Menurut perhitungan cepat lembaga-lembaga survei, tak ada partai yang mendapat suara minimal 25 persen sehingga tak satupun yang bisa mencalonkan presiden sendiri. Artinya, anda sekalian, bapak-bapak calon presiden, harus menjalin koalisi dengan partai lain agar cukup suara. Biasanya saat menjalin koalisi inilah masing-masing kepentingan dipertukarkan, bukan?

Sejauh ini kita belum membaca apa platform ekonomi, sosial, maupun politik dari anda semua. Tapi kami sudah bisa menebak apa yang anda sekalian akan jual. Pasti anda akan menjual jargon kepentingan rakyat, kepentingan kita semua. Karena itulah saya menulis surat ini. Mudah-mudahan anda membaca dan memasukkan usul kecil ini ke dalam rencana anda jika memimpin kelak. Saya terutama akan menyoroti soal rokok.

Barang ini sudah lama telah melampui nama dan fungsinya sendiri. Ia telah menjadi alat politik. Rokok, dengan sejarahnya yang panjang, telah menjadi jualan para politikus karena dimensinya yang begitu luas. Ada cukai di sana yang besar. Ada tenaga kerja dan pertanian sebagai sumber pendapatan. Artinya, ada dimensi ekonomi dalam rokok. Juga ada perdagangan dan kepentingan internasional karena ekspor dan impor tembakau juga pabrik besar dunia telah hadir di Indonesia. Dan yang tak kalah penting, ada aspek kesehatan yang melampaui semua itu.

Rokok telah menjadikan beberapa gelintir orang teramat kaya, lebih banyak lagi yang meninggal secara mengenaskan karena terjangkit kanker akibat racun nikotin. Munculnya para konglomerat pasti menjadi perhatian para politikus mengingat betapa mahalnya ongkos politik dewasa ini. Para konglomerat tumbuh dan rubuh karena bisnisnya runtuh, tapi tidak dengan rokok. Pengusaha rokok abadi dalam urutan orang terkaya sejagat. Harta mereka tak pernah turun karena pecandu tak mudah meninggalkan produk beracun ini. Pasti anda sudah tahu, bapak calon presiden, rokok adalah bisnis beromzet Rp 300 triliun dengan konsumen 70 juta orang!

Karena itu tak mudah mengaturnya. Undang-Undang Kesehatan selalu dijegal sejak 1992 ketika para legislator berniat memasukkan rokok sebagai barang berbahaya. Lobi industri rokok kepada media, anggota parlemen, dan pemerintah begitu telanjang untuk menghentikan rencana itu. Jika anda belum tahu, bacalah buku “A Giant Pack of Lies”. Saya sertakan file elektroniknya di sini. Di situ diungkap 3.000 dokumen lobi industri rokok agar barang ini tak digolongkan ke dalam produk berbahaya. Jika kemudian revisi Undang-Undang Kesehatan berhasil pada 2009, perjuangan aktivis pengendalian tembakau tidaklah mudah. Ada perdebatan sengit dalam pembahasannya hingga mereka bisa membuat satu pasal yang menggolongkan rokok sebagai zat adiktif, sehingga produksi, distribusi, dan konsumsinya harus diawasi secara ketat.

Barang adiktif itu artinya rokok sama dengan produk mengandung alkohol. Kini produk memabukkan itu telah dilarang sama sekali iklannya, peredarannya dibatasi sangat ketat, dan polisi bertindak sungguh-sungguh ketika didapati alcohol dijual secara bebas. Tidak dengan rokok. Meski adiktif, ia masih boleh diiklankan, dijual bebas dan diketeng. Lihatlah di jalan-jalan anak-anak remaja mengepulkan asap memakai seragam sekolah. Lihat, konser musik menggratiskan berbungkus-bungkus rokok. Dan, ini ironis, pertandingan olahraga disponsori oleh pabrik rokok. Betapa aneh dan tak adil, bukan?

Efek rokok sesungguhnya jauh lebih dahsyat ketimbang minuman beralkohol. Pada minuman alkohol, tak ada efek samping kepada orang di sekelilingnya, sepanjang ia tak ikut mabuk. Pada rokok, orang tak berdosa bisa terkena penyakit lebih buruk karena menghisap asap rokok orang lain. Para perokok pasif jauh lebih banyak jumlahnya dan umumnya mereka tak sadar akan bahaya asap rokok. Kini ada 400.000 kematian setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. Mohon catat angka itu dan turunkan jumlahnya jika anda kelak menjadi presiden: rokok telah menjadi mesin pembunuh yang ampuh dan dilegalkan negara.

Setelah beleid kesehatan itu disahkan pun, rongrongannya masih terjadi. Para anggota DPR dan pemerintah bersekongkol mencurinya dari lembar yang akan diteken presiden. Memalukan sekali. Kejahatan konstitusi ini tak pernah diusut polisi karena dianggap bukan kriminal yang serius. Komisi Pemberantasan Korupsi juga tak mengusut karena Undang-Undang Antikorupsi kita hanya menggolongkan perbuatan korup sebatas menggarong keuangan negara. Padahal, inilah korupsi yang sesungguhnya.

Tak tuntas urusan pencurian ayat tembakau ini, DPR memanipulasi pengaturan rokok dalam wacana kesehatan dengan menukarnya dengan Undang-Undang Pertembakauan yang disponsori industri rokok. Ironis, bukan? Industri rokok akan mengatur dirinya sendiri soal rokok. Ini sama saja dengan para koruptor membuat undang-undang antikorupsi. Rancangan itu disusupkan karena tak melalui persetujuan seluruh anggota Dewan dan isinya sangat pro industri rokok, bukan pada kesehatan yang menjadi tugas dan kewajiban konstitusi bagi negara untuk melindunginya.

Kita memang sudah punya Peraturan Pemerintah 109/2012, setelah pembahasannya alot selama tiga tahun, sebagai turunan Undang-Undang Kesehatan. Tapi lihat saja industri rokok yang selalu menang. Kini pada iklan rokok muncul peringatan rokok membunuh dengan gambar orang sedang merokok. Meski iklan rokok setia pada aturan tak menggambarkan aktivitas merokok, iklan itu menjadi kian jelas karena peringatan yang dibuat oleh negara itu. Dan gambar itu melanggar Undang-Undang Penyiaran. Kian jelas bagaiman pertarungan berebut rokok ini. Pemerintah dan negara cenderung diam karena alasan cukainya terlalu besar.

Bapak calon presiden, anda harus paham bahwa cukai rokok adalah “pajak dosa”. Itu bukan sumber penerimaan negara. Cukai adalah kompensasi dari industri rokok karena telah membuat produk yang membahayakan banyak orang. Dan cukai itu sejatinya dibayar oleh konsumen rokok lewat harga yang mereka bayar. Industri rokok justru menikmati lebih banyak dari harga itu. Jadi, please ubah sudut pandang anda terhadap cukai mulai sekarang: jadikan penerimaan cukai itu untuk melindungi kepentingan konsumen, orang banyak, bukan industrinya.

Caranya dengan terus mengkampanyekan agar para pecandu sadar bahwa asap yang mereka hirup dan semburkan amat berbahaya bagi dirinya dan lingkungannya. Negara harus menyokong penuh upaya pengendalian tembakau dan berdiri paling depan. Jangan anggap cukai sebagai sogokan legal lalu industrinya sedemikian rupa dilindungi seraya abai pada kepentingan yang lebih besar yakni perlindungan kesehatan publik. Dan jika dihitung-hitung, cukai itu tak sebanding dengan ongkos publik memerangi dan mengobati bahayanya. Kementerian Kesehatan sudah menghitung bahwa biaya publik yang hilang akibat penyakit dan kesempatan hidup akibat bahaya rokok mencapai tiga kali lipat dari cukai yang diterima pemerintah sebesar Rp 70 triliun per tahun. Ironis, bukan?

Semua negara maju telah mempersempit gerak industri rokok meluaskan pasarnya. Kini sudah 178 negara yang meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau yang digagas Organisasi Kesehatan Dunia di PBB. Terakhir, pekan lalu, Ethiopia yang meratifikasi. Bayangkan, Ethiopia, negeri yang kita kenal dari lagu Iwan Fals sebagai negara perang dan miskin saja paham bahwa rokok membunuh rakyat mereka. Di ASEAN malah tinggal Indonesia yang tak turut serta meratifikasinya. Kita sekelas dengan Zimbabwe. Padahal, Indonesialah yang menjadi penggagas kerangka kerja itu. Kini kita malah tak meratifikasinya. Kerangka itu adalah pedoman negara membuat kebijakan atas perdagangan rokok, pertanian, hingga distribusinya. Pemerintah Indonesia, yang akan anda pimpin nanti, terus berputar pada pemikiran bahwa FCTC itu pesanan asing. Tuduhan tak logis yang diembuskan industri rokok karena ketakutan industrinya terganggu.

Bapak calon presiden, negara-negara maju sangat menaruh perhatian pada rokok. Karena itu mereka membuat kebijakan perlindungan kesehatan publik sangat ketat. Akibatnya, rokok dibatasi, pasarnya menyempit. Nah, industri rokok besar kini mengalihkan pasarnya ke Indonesia yang tak kunjung meratifikasi aturan pengendaliannya. Kita akan menjadi pasar baru, asbak baru bagi industri rokok nasional. Maka bukankah penolakan terhadap aturan pengendalian rokok adalah kepentingan asing? Jika bapak mau berpikir konspiratif, itulah basis logikanya.

Mudah-mudahan anda membaca surat pendek dengan gagasan kecil ini. Jangan pertaruhkan masa depan bangsa kita pada barang beracun yang telah terbukti membunuh generasi dan harapan kita. Selamat mencari mitra koalisi. Pilihlah mereka yang benar-benar mengutamakan kepentingan umum, bukan kepentingan kelompok atau partainya belaka. Kita sudah lama tertipu oleh manipulasi jalan pikiran bahwa rokok berjasa bagi keuangan negara. Kini saatnya kita mengubah pola pikir di bawah kepemimpinan anda. Indonesia terlalu mahal dipertaruhkan untuk kepentingan cupet industri penyakit ini. Semoga anda terpilih memimpin negeri ini dalam pemilu 9 Juli nanti…

Wassalam,

4 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Rizki
    22 April 2014 at 22:11 - Reply

    Dan jangan lupa pak capres, nyatakan dengan gamblang ketika bapak kampanye, bahwa bapak akan melindungi rakyat bapak dari asap rokok, dari candu nikotin. Agar kami dapat memilih bapak sebagai presiden kami

    • Sinta Rara
      25 April 2014 at 22:05 - Reply

      setuju!

  • BayuSangbara
    25 April 2014 at 08:48 - Reply

    Very Nice…
    Persempit pemasaran.
    Saya juga pecandu rokok, susah sekali ingin berhenti dari barang satu ini, bukan karna niat yg tak kuat, tapi dalam ruang lingkup yang bisa dibilang 80% adalah perokok, bisa jadi saya lebih cepat mati dibanding perokok itu sendiri seandainya dapat berhenti merokok namun secara LANGSUNG asap rokok buangan orang lain saya hisap juga setiap harinya.

    Benar-benar harus ada tindak lanjut dari pemerintah. Jika saja tidak ada lagi penjualan rokok atau minimal rokok itu sulit didapat maka dapat dipastikan ruang lingkup kaum perokok pun akan berkurang drastis dan tentunya akan memudahkan bagi saya dan mereka-mereka yang juga ingin berhenti merokok.

    Terima kasih & saya dukung ide anda.
    -BayuSangbara-

    • Sinta Rara
      25 April 2014 at 22:06 - Reply

      terima kasih. terimakasih juga telah memahami esensi gerakan pengendalian tembakau… semoga sukses berhentinya merokoknya :)