Susu versus Rokok

inilah.com

inilah.com

Pemerintah kita menganggap susu lebih berbahaya ketimbang rokok. Tak banyak yang tahu dan mengingat pemerintah telah melarang iklan susu formula untuk anak 1-2 tahun di semua media: televisi, majalah, online, media luar ruang. Larangan itu termaktub dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012.

Alasan larangan itu sederhana saja: pemerintah ingin mendorong agar ibu-ibu memberikan air susunya secara ekslusif demi masa depan anak-anak Indonesia. Pemerintah sadar sepenuhnya kecenderungan para ibu memberikan susu formula yang instan karena terdorong oleh iklan. Maka selain mewajibkan pemberian ASI ekslusif, pemerintah melarang iklannya. Di semua media. Luar biasa!

Mengapa untuk susu formula bisa begitu tegas, untuk rokok pemerintah melempem? Ini logika sangat mendasar dan sederhana yang patut ditanyakan kepada pemerintah yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kita semua pasti tahu rokok jauh lebih berbahaya ketimbang susu formula. Para ibu pasti ingin punya ikatan kuat dengan anak-anak mereka. Salah satunya adalah dengan memberikan susu. Menyusui adalah perbuatan berpahala paling menyenangkan. Itulah wujud kasih sayang paling intim antara ibu dan anaknya.

Jika ada ibu yang tak bisa memberikan susu formula pasti banyak penyebabnya: air susu tak keluar, harus bekerja, dan banyak faktor lain. Dan jumlahnya mungkin sedikit dibanding ibu yang bisa menyusui. Di zaman modern seperti sekarang ada banyak cara agar ASI ekslusif tetap bisa diberikan kendati para ibu mesti bekerja dan berjauhan dengan bayinya saat mereka membutuhkan. Secara alamiah tak ada ibu yang tak ingin menyusui bayinya. Tanpa dilarang dan dikampanyekan pun para ibu pasti memberikan air susu kepada bayi-bayi mereka. Sebuas-buasnya macan tak ada yang mengabaikan anaknya sendiri.

Pemerintah malah mengabaikan bahkan tak melarang iklan rokok hingga hari ini. Rokok menjadi produk beracun yang dilindungi oleh negara. Rokok tak hanya berbahaya bagi penghisapnya, tapi bagi orang lain yang menghisap asap dari para perokok aktif. Bahayanya bahkan dua kali lipat bagi para perokok pasif itu. Jangankan dilarang total, diatur secara spesifik saja melalui landasan hukum melalui Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau, pemerintah keberatan dengan banyak alasan.

Apakah pabrik susu tak menyuplai pajak? Apakah pabrik susu tak mempekerjakan orang banyak? Apakah pabrik susu tak melibatkan para peternak sapi? Ganti kata susu itu dengan tembakau atau rokok akan membentuk pertanyaan yang sama dengan jawaban “Tidak!” dari pemerintah. Deretkan pertanyaan itu, otomatis akan menggugurkan alasan-alasan pemerintah menolak beleid yang mengatur rokok.

Cukai rokok, tenaga kerja, pertanian tembakau selalu didengung-dengungkan akan kolaps jika rokok diatur secara ketat. Apakah hari ini, dua tahun setelah larangan itu, ada pabrik susu yang kolaps? Tak ada. Susu dan rokok adalah produk bisnis. Para pengusahanya akan mencari cara baru dan keseimbangan baru agar produknya makin laku dan perusahaannya tetap hidup.

Sungguh aneh pemerintah dan negara kita ini. Sulit sekali mengatur dan melarang penjualan racun, tapi gampang sekali membuat beleid yang melarang susu, barang bergizi yang bisa menjadi substitusi bagi ibu yang tak bisa melakukan perannya dengan maksimal. Mereka lunak dan takluk kepada lobi industri rokok.

Pemerintah tak memikirkan dampak berantai dari pelegalan rokok. Jika para bayi sekarang mendapat air susu ekslusif tapi mereka menghisap asap rokok yang disemburkan ayah mereka, generasi masa depan Indonesia lebih terancam. Survei pemerintah sendiri menunjukkan tiap rumah tangga memiliki satu orang perokok. Belanja rokok menjadi pengeluaran nomor dua dari semua kebutuhan pokok rumah tangga, jauh di atas belanja membeli susu.

Maka, sebetulnya, inilah pangkal soal menyelamatkan generasi Indonesia. Melarang iklan susu formula dengan tujuan  pemberian ASI ekslusif bagus tapi bukan pokok masalah ancaman generasi kita. Melarang rokok hingga iklannya itulah yang harusnya dilakukan pemerintah jika benar ingin melindungi generasi dan publik Indonesia, tak hanya melarang pemberian susu formula. Bagi para politisi, melindungi kepentingan orang banyak memang baru sekadar cuap-cuap dan jargon politik belaka.

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Intan Rastini
    1 May 2014 at 21:10 - Reply

    Artikel ini sangat berbobot. tidak seperti pemerintah yang tidak bisa menimbang bobot antara kampanye sosial yang baik dan yang buruk. Sudah jelas rokok itu beracun dan menimbulkan efek ketagihan bagi penghisapnya, asap yang dihembuskan si perokok pun tak tanggung-tanggung mambawa masalah serius bagi kesehatan anak-anak dan ibu hamil maupun menyusui. Merekalah objek rentan dari perokok dan asap rokok. Jika kampanya ASI, menyusui secara ekslusif selama 2 tahun sudah marak dan banyak didukung, mengapa tidak bisa memperlakukan hal yang lebih tegas pada berhenti mengonsumsi racun pembawa bibit penyakit pada rokok dan mulai memberdayakan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat – TANPA ROKOK)?

    • Sinta Rara
      20 May 2014 at 19:13 - Reply

      terimakasih. bantu suarakan ya…