Penderita kanker laring akibat menjadi perokok pasif.
Penderita kanker laring akibat menjadi perokok pasif.

Top! Ada Iklan Bahaya Rokok

Kementerian Kesehatan bersama Yayasan Paru-paru Dunia berencana membuat dan menayangkan iklan bahaya rokok di televisi mulai 10 Oktober 2014. Ini kabar mengharukan karena dua hal. Pertama, ini kabar menggemberikan karena menunjukkan pemerintah benar-benar serius membuat serangkaian kebijakan mengendalikan rokok. Kedua, ia sebuah ironi betapa pabrik rokok sangat tak bertanggung jawab memproduksi racun.

Iklan ini bisa menjadi semacam tandingan dan penyeimbang akan begitu masifnya industri rokok beriklan. Televisi adalah media paling berpengaruh luas saat ini. Dengan program-program yang bisa diakses gratis oleh siapapun yang memiliki televisi, iklan rokok begitu efektif menyasar mereka yang dibidik sebagai calon konsumen. Kita mafhum bahwa iklan menyasar anak-anak muda dan remaja sebagai calon konsumen baru mereka, setelah orang-orang tua terjerat candu dan tak bisa berhenti menghisap racun nikotin.

Iklan, sebagaimana fungsinya sebagai media pencitraan, isinya manipulatif. Iklan rokok selalu menampilkan para aktornya orang yang sehat, ganteng dan cantik, tubuh atletis dengan otot terawat, dan sukses. Jika tak begitu jinglenya kena dan pas, gampang diingat, lucu, atau pesan-pesannya menampilkan sifat-sifat baik: kekompakkan, gotong royong, gaya hidup yang bersuka cita. Seolah-olah semua hal baik itu akan tercapai jika kita menghisap rokok.

Tentu saja semua iklan itu tak menampilkan orang merokok. Selain dilarang, iklan yang banal seperti itu sudah tak lagi menyasar calon konsumen secara elegan. Iklan rokok dibuat sedemikian rupa tanpa menganjurkan orang merokok tapi menumbuhkan citra positif meski bergumul dengan asapnya.

Dengan begitu, iklan bahayanya akan sedikit memberikan informasi penyeimbang tentang manipulasi racun rokok. Selama ini informasi tentang rokok selalu berat sebelah. Kita dicekoki terus dengan iklan rokok tanpa ajakan yang selevel tentang peringatan bahayanya. Peringatan itu hanya tercantum di bagian akhir dengan ruang yang sangat kecil dan waktu taytayang yang terlampu sempit, itu pun karena peringatan itu tertera di bungkus rokok. Karena itu kendati sudah dicantumkan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan orang tak peduli.

Salah satu isi iklan yang akan dibuat pemerintah itu, misalnya, menampilkan para korban rokok. Mereka yang menjadi bukti nyata betapa jahat dan merusaknya racun nikotin. Tak hanya bagi perokok tapi lebih bahaya lagi bagi nonperokok yang menghisap asap rokok orang lain. Seorang bapak yang tak pernah merokok tiba-tiba harus kehilangan pita suara sehingga laringnya diangkat karena kanker telah menggerogotinya mengakibatkan lehernya bolong. Dia menderita akibat setiap hari selama puluhan tahun menghisap nikotin yang disemburkan orang lain di rumah dan di tempat kerja.

Iklan bahaya rokok ini juga sebuah ironi. Rokok telah menyebabkan semua orang repot. Negara mesti mengeluarkan uang tambahan untuk menangkal daya rusak produk ini. Karena negara masih melegalkannya, barang beracun ini masih boleh diiklankan. Semestinya, karena industri rokok sudah mengakui produknya berbahaya, mereka diwajibkan membuat iklan penangkalnya yang sama membujuk dan menerangkan dengan jelas bahaya dari barang yang mereka jual. Bukan negara yang harus membuatnya.

Atau, iklan versi pemerintah itu gratis. Televisi yang telah mendapat upah dan keuntungan dengan menayangkan iklan rokok, juga bertanggung jawab atas “penghasilan dosa” yang telah mereka dapat dengan menggratiskannya. Jika dianggap tak adil, industri rokok yang membayar iklan tersebut kendati produksinya tetap di tangan pemerintah.

Dengan demikian publik akan tetap mendapat informasi berimbang tentang bahaya rokok dan negara tak terus menerus dibebani oleh dampak buruk asap rokok. Penerimaan cukai rokok rata-rata Rp 70 triliun, namun kas negara mesti mengeluarkan Rp 235 triliun untuk pengobatan masyarakat yang terkena penyakit asap rokok, belum lagi potensi ekonomi yang hilang akibat kematian penduduk di usia produktif.

Untuk menghasilkan iklan yang sama bagusnya dengan yang dibuat industri rokok, negara mesti mengeluarkan biaya tak sedikit untuk membayar biro iklan yang punya ide dan kreativitas membuat pencitraan tentang rokok. Alangkah indahnya pendapatan berlebih industri rokok menjaul 300 miliar batang setahun itu dengan membuat iklan bahaya rokok. Ini wujud tanggung jawab sosial industri rokok karena telah memproduksi barang yang berbahaya bagi publik, bukan dengan menyediakan beasiswa atau membangun rumah sakit kanker paru-paru.

Rokok harus dicegah dampak buruknya yang meluas sejak awal. Iklan bahaya rokok di televisi hanya salah satunya saja.

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Kiki
    5 October 2014 at 16:44 - Reply

    Lebih baik jika iklan anti rokok lebih ditujukan kepada masyarakat non perokok agar membangun kesadaran bahwa selama ini non perokok telah dirampas hak dan kesehatannya oleh perokok. Diharapkan dapat muncul penolakan pada perokok yg merokok sembarangan. Karena selama ini kesadaran masyarakat tentang bahaya asap rokok orang lain masih sangat rendah

    • Antis Leira
      6 October 2014 at 11:14 - Reply

      Setuju, Diyang! Untuk membantunya setiap kita perlu menanamkan kesadaran itu kepada semua orang…