Tujuan Pengendalian Tembakau

rokok2_antara

Apa sebenarnya yang diinginkan oleh gerakan pengendalian tembakau? Apakah penggagas gerakan ini ingin industri rokok mati? Menginginkan petani dan buruh kehilangan pekerjaan? Atau menjadikan negara kehilangan pendapatan akibat cukai berkurang?

Ini pertanyaan klasik yang kerap diterima para aktivis pengendalian tembakau. Para aktivis ini tak menamakan diri organisasi antirokok, karena bukan itu tujuan gerakan ini. Gagasan gerakan ini lebih banyak diinisasi oleh kalangan swasta, lembaga swadaya, dan organisasi perlindungan konsumen yang kegiatannya tak memakai dana publik. Kementerian Kesehatan yang ikut dalam gerakan ini praktis hanya sebagai partisipan.

Keinginan gerakan pengendalian tembakau sederhana saja: ingin melihat tak ada lagi anak-anak tanpa rasa bersalah menghisap rokok, ingin terwujud lingkungan bebas polusi asap rokok, ingin melihat para orang tua tak menghisap rokok di depan anak-anak mereka, ingin melihat para peroko tak sembarangan mengepulkan asap rokoknya, ingin terwujud saling menghormati antara perokok dan bukan perokok tentang hak masing-masing mereka dalam kehidupan publik.

Merokok adalah hak setiap individu. Rokok juga barang legal kendati digolongkan zat adiktif. Tembakau adalah tanaman perkebunan yang mendapat keistimewaan sebagai tumbuhan yang mendorong tumbuhnya ekonomi perdesaan. Cukai rokok masih diandalkan untuk penerimaan negara. Pengendalian tembakaun bukan pengekangan terhadap itu semua.

Gerakan pengendalian tembakau hanya ingin perlindungan terhadap publik dari paparan asap rokok yang sudah jelas merusak kesehatan, baik sesama perokok apalagi yang bukan perokok. Kesehatan adalah hak setiap orang yang dijamin konstitusi. Hidup sehat adalah hak setiap orang yang wajib diwujudkan oleh penyelenggara negara. Pengendalian tembakau adalah gerakan saling menghkormati antar hak individu selain hak ekonomi bagi pengusaha dan petaninya.

Karena itu perlindungan kesehatan sebenarnya tugas pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga publik yang dibiayai oleh pajak masyarakat. Jika tugas itu diambil alih oleh masyarakat sipil, itu karena peran itu tak sepenuhnya dilakukan Kementerian Kesehatan. Alasannya klasik, Kementerian ini tak punya dana banyak untuk menjalankan tugas itu.

Anggaran untuk pengendalian tembakau terbatas pada biaya untuk kurasi, yakni pengobatan bagi warga negara yang sakit akibat rokok. Sangat sedikit dana untuk kampanye dan upaya pencegahan jatuhnya korban akibat racun nikotin. Anggaran pencegahan ini tak sebanding dengan besarnya anggaran iklan yang digelontorkan oleh industri rokok. Iklan, sementara itu, adalah pemicu utama tumbuhnya perokok baru.

Maka gerakan pengendalian tembakau adalah sebuah gerakan untuk menyelamatkan masa depan Indonesia, menjaga hak publik akan kebutuhan dasar dalam kesehatan, dan menyadarkan generasi akan pentingnya nilai mereka bagi negeri ini. Jangan sampai nilai itu pupus karena mereka rontok dimakan racun nikotin.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*