Intervensi Industri

Tembakau membunuh sekitar limajuta orang di seluruh dunia setiap tahun dan diperkirakan akan menghilangkan nyawa satu miliar orang pada akhir abad ini. Sebagian besar kematian tersebut akan terjadi di negara miskin dan berkembang. Untuk itu agar prediksi tersebut tak menjadi kenyataan, ada empat cara untuk mencegahnya:

  • Menekan permintaan dengan menaikkan harga rokok melalui kenaikan cukai;
  • Memberikan perlindungan individu dari paparan asap rokok melalui pendirian kawasan tanpa rokok;
  • Menerapkan peraturan kemasan dan pelabelan yang mencegah informasi palsu menipu, menyesatkan, tentang bahaya rokok dan perlu adanya peringatan kesehatan bergambar di bungkus rokok.
  • Melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok.

Perusahaan rokok menyadari cara ini yang tengah ditempuh Organisasi Kesehatan Dunia melalui Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) akan mengganggu omzet dan bisnis mereka. Secara global, perusahaan rokok telah menghabiskan miliaran dolar untuk melakukan kegiatan mengalahkan peraturan-peraturan tersebut demi mempertahankan dan memastikan kelangsungan keuntungan perusahaan mereka.

Negara-negara yang sudah menandatangani FCTC disebut sebagai “negara pihak”yang mempunyai kewajiban;

1). melindungi kebijakan kesehatan masyarakat negara mereka dari kepentingan komersial industri rokok dan

2). mempromosikan akses masyarakat terhadap berbagai informasi tentang industri rokok. Para pendukung pengendalian tembakau juga bisa memantau gerak negara pihak dalam memenuhikewajiban mereka atas FCTC dan membantumeningkatkan pemahaman akan trik-trik dari industri rokok untuk melemahkan efektivitas kebijakan pengendalian tembakau.

 

Pola Strategi Umum IndustriRokok Melawan Kebijakan PengendalianTembakau:

1. Mempengaruhi secara langsung rancangan undang-undang dan menawarkan “bantuan teknis” kepada pemerintah.

Industri tembakau berusaha melemahkan rancangan undang-undang perlindungan masyarakat dari bahaya kesehatan, jika mereka tak bisa menggagalkannya di parlemen. Beleid yang lemah bisa mereka gugat kembali di Mahkamah Konstitusi sehingga kebijakan pengendalian tembakau tak “bergigi”.

2. Meyakinkan bahwa industri sebagai pihak yang harus diikutkan dalam pembahasan kebijakan pengendalian tembakau.

Ini cara yang efektif melemahkan kebijakan. Padahal industri jelas sangat punya konflik kepentingan mengatur kesehatan karena produk mereka justru membahayakan bagi kesehatan. Keterlibatan mereka yang mengklaim sebagai stakholder kebijakan tembakau amat berbahaya bagi penyusunan kebijakan ini.

3. Membangun dan memobilisasi organisasi masyarakat agar bertindak atas nama industri.

Organisasi masyarakat itu meliputi petani, tokoh masyarakat, budayawan, kaum perokok, alinasi bisnis, asosiasi pedagang, bahkan peneliti untuk menyuarakan pentingnya pengakuan rokok dari sudut pandang mereka. Budayawan, misalnya, berkampanye bahwa kebijakan pengendalian tembakau akan menghancurkan budaya kretek Indonesia. Padahal, tembakau diimpor dari Belanda pada abada 16.

4. Menawarkan secara sukarela membuat kebijakan alternatif pengendalian tembakau.

Banyak kebijakan yang mereka tawarkan seolah-olah pro terhadap pengendalian tembakau. Yang sebenarnya adalah memasukkan kepentingan mereka agar rokok tetap dikonsumsi. Kebijakan tata ruang perokok dan nonperokok, teknologi ventilasi, program pendidikan kepada pengecer adalah contoh-contoh program industri rokok yang seolah pro pengendalian tapi melanggengkan rokoko. Di balik itu adalah tujuan pemasaran candu dan rokok.

5. Industri rokok mencitrakan diri sebagai perusahaan yang bertanggung jawab kepada publik atas produk yang mereka hasilkan.

Sejak dulu industri rokok mengklaim telah mengadopsi peraturan dalam pengendalian tembakau. Kenyataannya industri rokok memberikan pilihan sempit kepada gerakan pengendalian tembakau. Mereka akan melihat kebijakan paling lemah dalam pengendalian tembakau. Sebagai contoh peringatan kesehatan bergambar. Kebijakan ini sangat didukung industri karena mereka tahu dampaknya sangat minimal kepada konsumen. Sebaliknya, ketika beleidnya akan sangat kuat mereka mengintervensi agar aturan itu dikurangi sanksi terutama dampaknya kepada konsumen dalam mengkonsumsi rokok. Kebijakan yang mereka tempuh antara lain penolakan terhadap larangan iklan rokok di media massa.

6. Menggugat pasal-pasal pengendalian tembakau

Selain membiayai gerakan kelompok lain di luar industri, perusahaan rokok juga mendanai pengacara atau kelompok masyarakat menggugat peraturan pengendalian tembakau.

7. Menyerang pengendalian tembakau dari sisi ekonomi.

Rokok memberikan cukai kepada negara. Karena itulah industri berusaha mempengaruhi pemerintah agar melindungi mereka yang tercancam gulung tikar jika ada pengendalian tembakau yang ketat. Padahal ini taktik industri untuk daya tawar agar bisnis mereka tak diganggu.

8. Taktik CSR

Tujuannya agar pemerintah melihat bahwa industri rokok ppunya kontribusi yang nyata dalam pembangunan sehingga bisnisnya tak perlu dimatikan melalui aturan pengendalian tembaka dan menjalankan kewajiban perusahaan melaksanakan tanggung jawab sosial. Ini intervensi sangat halus agar kebijakan pengendalian ditunda atau dibatalkan.

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.