Larangan Iklan dan Promosi Rokok

Melawan Argumen Industri

IKLAN adalah kunci penjualan rokok. Tanpa iklan, penjualan rokok diprediksi bakal melambat. Karena itu industri rokok selalu menghalangi tiap pemerintah akan mengatur iklan rokok karena bisa mengganggu omzet dan penghasilan mereka. Masalahnya, iklan rokok seringkali manipulatif dan tak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Merokok diidentikan dengan keakraban, gotong royong, toleransi, kejantanan, teman berpetualang, dan seterusnya. Berikut ini argumen yang dibangun industri untuk menolak pelarangan iklan rokok dan tanggapannya.

 indonesia

Argumen industri: Iklan, promosi, dan sponsor rokok hanya menargetkan perokok dewasa.

Tanggapan: Penelitian Bank Dunia pada 1999 menunjukkan sekitar 100.000 anak muda menjadi pecandu rokok baru setiap hari di seluruh dunia. Ketika disurvei para perokok baru itu mencoba rokok di usia 18 tahun, seperempatnya di bawah 10 tahun setelah melihat iklan rokok di media komersial, warung pengcer, maupun spanduk sponsor olahraga. Dokumen dari R.J. Reynolds yang dirilis pada 1998 menunjukkan perusahaan rokok berusaha melawan penurunan konsumsi dengan menargetkan penjualan pada usia 14-24 tahun. Dokumen itu juga mengkonfirmasi bahwa iklan rokok ditujukan kepada calon perokok seraya memelihara perokok yang sudah kecanduan. Di negara berkembang yang aturan iklannya tak seketat di negara maju iklan dan sponsor lebih variatif dengan menempel pada tiket konser musik, pertandingan olahraga, bahkan disertai hadiah rokok gratis. Di India anak-anak tunawisma membelanjakan uangnya lebih banyak untuk rokok setelah mereka ketagihan. Di Nigeria, 40 persen uang saku anak sekolah dibelanjakan untuk membeli rokok.

Argumen industri: Iklan, promosi, dan pemajangan produk tidak mendorong orang mulai merokok, hanya mendorong loyalitas perokok kepada merk langganannya.

Tanggapan: Sebuah tinjauan dari sembilan studi longitudinal pada tahun 2008 yang melibatkan lebih dari 12.000 kaum muda menyimpulkan bahwa “iklan dan promosi rokok meningkatkan kemungkinan seseorang mulai merokok.” Sebuah studi di Inggris yang dilakukan antara tahun 1999 dan 2004 iklan, promosi, dan sponsor rokok mendorong 7 persen anak muda mulai merokok. Di Spanyol, hal yang sama ditemukan seperti dalam penelitian Bank Dunia (1999), iklan mendorong anak usia 13-14 tahun mencoba rokok dari iklan yang dilihatnya. (Lihat Taktik Industri Memasarkan Rokok)

Argumen industri: Larangan iklan rokok melanggar hak berekspresi, kebebasan berusaha, dan hak kekayan intelektual yang dilindung hukum internasional.

Tanggapan: Di seluruh dunia, pengadilan telah memutuskan mendukung kesehatan masyarakat dan menentang kepentingan industri rokok sehingga muncul pelarangan iklan, promosi, dan sponsor industri rokok untuk pelbagai kegiatan. Di Prancis, Dewan Konstitusi menyatakan larangan iklan rokok adalah konstitusional karena bertujuan melindungi kesehatan masyarakat dan tak mengganggu hak orang untuk berdagang. Dalam hukum internasional kepentingan sosial dan kesehatan jauh lebih tinggi derajatnya dibanding kepentingan ekonomi, perdagangan, maupun industri.

Argumen industri: Larangan iklan rokok akan membahayakan industri periklanan dan ekonomi.

Tanggapan: Iklan rokok hanya mewakili sebagian kecil dari industri periklanan. Di Prancis iklan rokok mewakili setengah persen anggaran iklan pada 1990, 0,7 persen di Inggris pada 1994, dan 1,8 persen di Belgia pada 1995. Pengalaman sejumlah negara di Uni Eropa pendapatan negara maupun pendapatan perusahaan iklan tergantikan oleh produk lain selain tembakau.

 Argumen industri: Jika tembakau dan rokok bukan produk ilegal mengapa iklannya dilarang?

Tanggapan: Alkohol, pistol, kembang api atau produk obat tertentu juga produk legal namun promosinya dilarang karena kepemilikan barang-barang tersebut diatur secara ketat dan membahayakan tidak hanya pemiliknya tapi orang lain yang bisa menghilangkan nyawa dan melanggar hak asasi. Tak beda dengan rokok: merusak kesehatan karena itu membahayakan nyawa manusia dan mengganggu hak orang lain yang ingin sehat dengan tak menjadi perokok pasif.

Argumen Industri: Knalpot bus juga mengotori udara publik, kenapa bus tak dilarang?

Tanggapan: Secara aturan dilarang dan diatur. Karena itu ada uji emisi dan kebijakan peremajaan bus kepada pemilik privat. Di Jakarta bus-bus yang berknalpot hitam pekat dilarang beroperasi.

 Argumen industri: Tembakau adalah produk legal, oleh karena itu adalah hak industri tembakau untuk berkomunikasi dengan konsumen dan hak konsumen untuk menerima informasi.

Tanggapan: Iklan, promosi, dan kegiatan sponsor rokokmenyebarkan informasi menyesatkan karena menjual citra kekompakkan, kejantanan, feminisme, tanpa berterus terang tentang aspek merugikan jika menghisap asap nikotin.

 Argumen industri: Larangan terhadap iklan dan sponsor rokok menghambat kemajuan olahrga dan kesenian.

Tanggapan: Di negara-negara yang memiliki larangan menyeluruh terhadap kegiatan sponsor produk tembakau, sponsor lain telah berhasil menggantikan perusahaan dan merek produk tembakau untuk mendanai tim olahraga, konser dan acara lainnya.Penghapusan kegiatan sponsor produk tembakau akan membuat kompetisi yang lebih besar antar perusahaan lain untuk melakukan kesepakatan sponsor. Empat tahun setelah melarang sponsor produk tembakau di Australia, sponsor perusahaan non-tembakau untuk kegiatan olahraga meningkat sebesar 45 persen.

 Argumen industri: Larangan iklan meningkatkan risiko rokok selundupan karena konsumen tak diberi informasi yang terang dan jelas terhadap merk dan jenis rokok.

Tanggapan: Larangan iklan rokok bertujuan melindungi kesehatan dari calon-calon perokok bukan perokok lama yang sudah fanatik terhadap merk tertentu.

Argumen industri: Larangan pada iklan tembakau tidak akan mengurangi konsumsi rokok.

Tanggapan: Penelitian yang dilakukan 1970 dan 1992 di 22 negara menemukan bahwa larangan yang komprehensif terhadap iklan rokok dapat mengurangi konsumsi tembakau sebesar 6,3 persen. Sebuah penelitian yang melibatkan 30 negara berkembang antara tahun 1990 dan 2005 menunjukkan bahwa larangan yang menyeluruh menghasilkan pengurangan konsumsi per kapita sebesar 23,5 persen.

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.