Mitos Pengendalian Tembakau

Mitos Industri dalam Pengendalian Tembakau

GERAKAN pengendalian produk tembakau seringkali dituding sebagai gerakan yang ingin membunuh petani dan budaya Indonesia. Benarkah? Pengendalian produk tembakau juga dituding sebagai titipan industri farmasi dunia yang ingin menguasai pangsa pasar perokok Indonesia yang besar. Dengan meluruskan logika yang sederhana, isu-isu pengendalian produk tembakau ini segera menjadi mitos, bukan fakta karena tak ditunjang data. Industri rokok menggoreng isu ini, mempengaruhi media, dan menyebarkannya. Berikut ini penjelasannya.

MITOS : Pengendalian produk tembakau ditunggangi kepentingan asing

FAKTA : Saat ini ada banyak lembaga yang menyokong gerakan pengendalian produk tembakau, terutama rokok. Dari luar negeri ada Bloomberg Foundation, Bill & Melinda Gates Foundations, Onion, sementara dalam negeri ada Medco Foundations milik pengusaha minyak Arifin Panigoro dan pemilik Grup Lippo Mochtar Riyadi. Para pengusaha lokal maupun internasional ini terlibat secara aktif dan turun langsung ke lapangan dalam gerakan ini karena prihatin akan kian masifnya budaya merokok di Indonesia. Saat ini 400 ribu kematian per tahun berhubungan dengan merokok, lebih dari sepertiga tingkat kematian di dunia. Jumlah perokok mencapai 70 juta orang dan seperempatnya adalah anak-anak. Biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah untuk pengobatan penyakit akibat rokok sebesar Rp 11 triliun sementara biaya akumulasi pengeluaran akibat rokok Rp 235 triliun!

MITOS : Tembakau adalah tanaman khas Indonesia

FAKTA : Tembakau masuk ke Indonesia dikenalkan oleh para pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (Perusahaan Belanda di Hindia, VOC) pada abad 16. Nicotiana tabacum sendiri tanaman asli daratan Amerika Latin yang dihuni suku Indian. Tabaco bahkan berasal dari bahasa Spanyol yang didengar Columbus ketika menemukan suku Indian saat penjejalahan benua Amerika. Tembakau ditanam pertama kali oleh Cornelis de Houtman pada 1596 di Banten. Baru tiga abad kemudian, kebiasaan merokok menyebar yang pertama kali dikenalkan oleh seorang lelaki asal Kudus yang merasa segar setelah mengurutkan minyak cengkeh ke dadanya. Mitos ini sering dipakai industri untuk menyerang gerakan pengendalian produk tembakau sebagai tak nasionalis dan merusak ciri khas Indonesia yang menghasilkan rokok kretek. Lihat Mitos 3 dan 6.

MITOS : Pengendalian produk tembakau ditunggangi kepentingan industri farmasi yang sedang membuat obat berhenti merokok

FAKTA : Klaim ini langsung patah dengan logika sederhana: obat adalah penawar sakit sehingga kontradiktif dengan gerakan pengendalian produk tembakau yang mengkampanyekan kesehatan. Jika ingin obatnya laku para sponsor gerakan ini tentu akan mendukung gerakan merokok agar orang Indonesia terkena kanker paru dan jantung serta stroke yang akan membutuhkan obat untuk kesembuhan. Bisa dilihat juga kelompok pendukung gerakan pengendalian tembakau. Tak satupun yang berasal dari industri farmasi.

MITOS : Pengendalian produk tembakau akan membunuh petani, buruh, dan industri kecil sehingga merugikan ekonomi nasional

FAKTA : Saat ini hanya ada sekitar 600 ribu petani yang tersebar di empat provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Produksi tembakau juga hanya 141 ribu ton, kalah dibanding impornya sebesar 151 ribu. Luas lahan tembakau juga tinggal 150 ribu hektare karena menyusut untuk perumahan atau konversi ke tanaman lain atau ditinggalkan pemiliknya karena tak menghasilkan. Jadi pengendalian produk tembakau akan menghancurkan petani hanya mitos belaka. Bahkan banyak petani yang lebih sukses ketika beralih ke jenis tanama lain yang menjadi makanan pokok orang Indonesia. Fakta global juga menunjukkan 177 negara yang meratifikasi konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau (FCTC) industri rokoknya tak mati.

 MITOS: Pengendalian produk tembakau akan mengurangi penerimaan negara dari cukai

FAKTA : Salah satu instrumen pengendalian tembakau adalah dengan menaikkan cukai rokok. Jika cukai naik sementara kuantitas industri berkurang karena tak kuat membayar pajak yang tinggi, volumenya akan tetap. Itulah kenapa pajak rokok yang tinggi di banyak negara tak berpengaruh pada penerimaan negara. Sebab ini dua hal berbeda dari cateris paribus permintaan dan penawaran rokok di tingkat konsumen.

MITOS : Pengaturan rokok akan membunuh budaya kretek Indonesia

FAKTA : Budaya adalah hasil kreasi manusia yang bernilai positif. Merokok bukan kebudayaan karena tak lahir dan digali secara terus menerus oleh orang Indonesia. Ini tanaman impor. Dan tak ada budaya yang buruk sebab budaya berisi nilai-nilai positif yang bersifat universal.

MITOS : Larangan merokok melanggar hak asasi

FAKTA : Setiap hak terbatas oleh hak orang lain. Orang yang tak merokok juga berhak menghirup udara bebas asap rokok. Tak ada larangan merokok jika semua asap tak mengganggu orang lain. Dan pengaturan pada hak bersifat universal: pengendalian tembakau bertujuan memperjuangkan hak setiap orang mendapat udara bersih.

MITOS : Rokok tak perlu diatur karena publik akan mengaturnya sendiri

FAKTA : Ada 48 kabupaten/kota yang sudah menerapkan kawasan tanpa rokok. Namun aturan ini tak jalan karena tak dipatuhi dan tak ada sanksi tegas. Ada peraturan saja dilanggar apalagi tak diatur? Pengendalian tembakau mengandung aspek edukasi. Publik mesti tahu informasi yang benar dan akurat tentang bahaya rokok.

MITOS : Larangan iklan rokok akan mematikan industri media dan dunia periklanan

FAKTA : Negara-negara maju yang sudah meratifikasi FCTC otomatis tak ada iklan rokok sehingga media juga tak mendapat penerimaan dari iklan ini. Faktanya, di era digital, media kian berjaya, media kian makmur, dan sektor ekonomi dengan pendapatan tertinggi setelah minyak, telekomunikasi, dan otomotif. Di Indonesia beberapa media sudah mengharamkan iklan rokok, buktinya mereka makin membesar. Dari omzet Rp 18 triliun, iklan rokok hanya Rp 1,2 triliun untuk semua media. Sementara di dunia perikalan, iklan rokok hanya menyumbang 0,5 persen pendapatan perusahaan iklan.

MITOS : Pelarangan pada sponsor rokok akan mematikan dunia olahraga, kesenian, dan pendidikan.

FAKTA : Di Australia, empat tahun setelah larangan iklan dan sponsor rokok, pendukung kegiatan kesenian dan olahraga naik 45 persen dibanding sebelum larangan. Beasiswa juga kian banyak karena kini semua perusahaan punya program tanggung jawab sosial yang paling banyak disalurkan untuk pendidikan.

 

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.