berhenti-merokok-good

Fase Oral
Dr. Dewi Yogo Pratomo, MHt dari CHS Clinic, Kebon Sirih, Jakarta menjelaskan bahwa hipnoterapi adalah tentang mindset. Maka, sebelum ia dapat memberhentikan perilaku merokok seseorang, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari akar permasalahan mengapa orang tersebut merokok.

Menurutnya, secara teoritis, saat manusia masih bayi ada yang namanya fase oral, yaitu fase di mana manusia belum mampu berkomunikasi. Semua ekspresi dari perasaan hanya bisa melalui mulut. Saat mengompol atau lapar, biasanya bayi akan menangis. Jika menemukan benda baru, bayi selalu memasukkan semua benda ke mulutnya.

“Di fase oral inilah yang mendasari mengapa orang merokok. Fase oral pada dasarnya memberikan suatu ketenangan. Jadi, banyak orang tak bisa lepas dari rokok karena dengan menempelkan rokok ke mulutnya, ia memperoleh ketenangan,” ujar Dewi. Ia menambahkan, tujuan hipnoterapi bagi perokok ini tidak untuk mengurangi jumlah rokok, namun menghentikan sama sekali kebiasaan merokok.

Metode Terapi
Pada hipnoterapi, hal pertama yang dilakukan adalah mencari akar permasalahan mengapa seseorang merasa khawatir dan cemas. “Di sesi awal ini, saya menggali apa yang menjadi pemicu keresahan dan ketidakstabilan jiwa pasien,” ujarnya. Sesi curhat ini akan membuka setiap permasalahan pasien.

Tahap kedua adalah proses regresi, yakni menarik ke belakang semua permasalahan dan kecemasan pasien. Di tahap ini, pasien dibuat tertidur dengan mendengarkan musik. Dalam kondisi ini, ia akan mengembalikan memori pasien pada masa-masa menyedihkan. Pada tahap ini biasanya pasien akan menangis tersedu-sedu atau berteriak-teriak. Ini tandanya proses terapi akan berhasil

Jika sudah demikian, maka tahap ketiga adalah mensugesti pasien untuk memutus pola kebiasaan merokoknya. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, otak manusia berada di alfatheta, di mana apa pun yang dibicarakan seseorang, bisa diterima dengan baik. “Biasanya, saya akan bilang kepada mereka ‘Jika kamu memasukkan sebatang rokok ke mulutmu, kamu akan lemas,’” urainya. Terapi ini berlangsung selama 45 menit.

Menurut Dewi, secara fisiologis, saat hipnotis berlangsung, ada hormon endorfin dan melatonin yang dikeluarkan secara sempurna di otak. Hormon ini terdistribusi ke sel-sel otak. Fungsi dari hormon ini adalah penenang, antidepressan, anestesi, dan penghilang rasa sakit. Jika hormon endorfin ini bekerja dengan baik, apa yang dibicarakan Dewi akan diterima oleh pasien.

Efek Samping
Hipnoterapi tidak menggunakan alat ataupun obat-obatan. Pasien hanya mendengarkan musik untuk relaksasi. Jadi, tidak ada efek samping yang negatif. Keluhan pasien pada terapi ini, mereka merasa ‘kurang’ jika tidak merokok. Saran Dewi, ganti rokok dengan wortel yang dipotong-potong seukuran rokok. Jadi, ketika timbul keinginan merokok, pasien dapat mengonsumsi wortel tersebut.

Biasanya orang yang terputus nikotinnya akan mengalami masa sakau. Jika pasien teratur menjalankan hipnoterapi ini, maka efek sakau akan tertangani dengan baik pada sesi terapi. Idealnya, terapi ini dilakukan 5 kali berturut-turut atau bisa juga seminggu 2 kali. “Terapi ini tidak akan berjalan dengan baik jika pasien datang karena paksaan dan bukan keinginan sendiri,” kata Dewi.
(dat19/femina)

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=304775:teknik-hipnoterapi-untuk-perokok&catid=28:kesehatan&Itemid=48

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*