image.php-2

Anak Indonesia Perokok Aktif

Jakarta, HanTer – Indonesia menjadi negara terbesar jumlah prevalensi perokok aktif di dunia, yakni 36 persen orang dewasa dan 67 persen pria remaja berdasarkan data global adult tobaco survey 2011. Bahkan, sejak 2011 hingga saat ini terjadi peningkatan perokok aktif di kalangan remaja dan anak-anak, yakni dari lima persen menjadi 17 persen.

 

Anggota Dewan Penasihat Komisi Nasional (Komnas) Pengendalian Tembakau, Dr Kartono Mohamad, mengatakan, kondisi ini cukup memprihatinkan sekaligus menjadi ancaman bagi generasi penerus bangsa. Sebab, saat ini dua dari tiga laki-laki di indonesia merupakan perokok aktif.

 

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemkes) pada 2010, jumlah perokok aktif pada anak-anak usia 10-14 tahun sebanyak 3,9 juta. Tentunya, angka tersebut terus mengalami peningkatan, sebab Indonesia belum menandatangani ratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control-FCTC) yang telah disepakati 187 negara.

 

“Ada peningkatan perokok aktif pada remaja dan anak-anak di Indonesia, dari lima persen, 10 persen, 12 persen, dan sekarang 17 persen. Bahkan, usia balita sudah merokok. Ini yang memprihatikan,” kata Kartono saat dihubungi Harian Terbit, kemarin, terkait Hari Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei.

 

Menurutnya, pemerintah terutama Kemkes sangat minim dalam melakukan pengawasan bahaya rokok terhadap masyarakat, terutama anak-anak. Bahkan, dia menilai tidak ada niat dari pemerintah untuk melindungi anak-anak. “Kebijakan-kebijakan hanya sebatas wacana, penerapannya nol,” kecamnya.

 

Dia memaparkan, terdapat banyak cara untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak dari bahaya rokok serta mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia. Pertama, pemerintah bisa menaikkan harga dan cukai (pajak) rokok, karena itu juga dapat menaikkan pendapatkan negara. “Ini bisa kurangi orang miskin tidak membeli rokok sekitar 80-90 persen. Namun, penurunannya tidak bisa secara drastis, butuh waktu,” jelasnya.

 

Kedua, anak-anak tidak diperbolehkan membeli rokok. Artinya, tempat-tempat seperti supermarket, minimarket serta warung-warung rokok pinggir jalan yang menjadi tempat beredarnya rokok-rokok, diberi larangan bahwa anak di bawah 18 tahun tidak boleh membeli rokok. “Bisa juga toko-toko rokok dan warung-warung dilarang menjual rokok ketengan (eceran),” ungkapnya.

 

Ketiga, iklan-iklan rokok di media massa, baik cetak, online terutama elektronik dihapuskan. Sebab, katanya, iklan-iklan di televisi menjadi media yang paling mempengaruhi anak-anak menjadi perokok. “Anak-anak tahu rokok itu dari situ (iklan televisi). Makanya, iklan-iklan itu harus dihapus untuk mencegah perokok baru,” tegasnya

 

Secara umum, tuturnya, untuk membatasi serta melindungi masyarakat yang tidak merokok atau perokok pasif, pemerintah harus membuat Kawasan Tanpa Asap (KTA) di tempat-tempat umum. Menurutnya, orang yang tidak merokok namun terkena asap rokok, dampaknya lebih buruk dari perokok aktif. “Membatasi tempat-tempat umum agar masyarakat tidak terkena dampak dari rokok yang dapat mengganggu kesehatan,” tuturnya.

 

(Robbi)

 

Sumber:
http://www.harianterbit.com/read/2014/05/30/2964/0/29/Anak-Indonesia-Perokok-Aktif-

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • rizki
    31 May 2014 at 06:54 - Reply

    Penjualan rokok harus bisa diawasi, dan tempat2 yg tidak bisa diawasi mesti dilarang menjual rokok.. Toko, minimarket, supermarket, pedagang di pasar dan warung2 harus membuat laporan penjualan rokok, kalau perlu dengan bukti foto/fotokopi scan ktp. Bila tidak sanggup maka mereka dilarang menjual rokok.

    • Sinta Rara
      9 June 2014 at 19:19 - Reply

      good idea