Smoking Kills

Aturan Larangan Merokok Sudah Ketat, Penegakan Hukumnya Lemah

Jakarta – Aturan soal perlindungan bagi anak dan perokok non-aktif di Indonesia sebenarnya sudah begitu luas. Masalahnya adalah bahwa penegakan hukum atas segala macam aturan itu tak pernah tegas dijalankan.

 

Penilaian itu disampaikan Zulvan Kurniawan dari Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) di Jakarta, Selasa (22/10).

 

Menurutnya, boleh saja aturan pengetatan perlindungan terhadap perokok pasif dan anak semakin digiatkan. Hanya saja, belum tentu itu dilaksanakan secara fair.

 

“Dengan peraturan yang ada sekarang saja, itu sudah ketat. Masalahnya law enforcement jalan kah? Sudah jelas ada aturan pengendalian rokok untuk anak. Penegakan hukumnya yang bermasalah,” kata Zulvan di Jakarta, Selasa (22/10).

 

Dia menjelaskan, bahwa banyak UU terkait tembakau dan rokok di Indonesia aslinya sudah merujuk pada Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC) yang digagas WHO.

 

Aturan soal pengetatan periklanan rokok juga dilakukan, walau masih agak aneh. Apa sebabnya? Ternyata, walau sudah melarang iklan off air untuk produk rokok, tapi iklan on air masih bisa.

 

Menurut Zulvan, kalau mau diperketat, pihaknya mempersilakan kepada Pemerintah. Namun secara pribadi, dia menilai, hal demikian tak perlu dilakukan.

 

Karena berdasarkan riset KNPK, tak ada hubungan langsung iklan dengan orang merokok. Ditemukan bahwa lingkungan yang mempengaruhi perilaku merokok.

 

“Iklan itu cuma soal pengetahuan soal merk rokok. Perilaku sendiri lebih terkorelasi ke lingkungan,” kata dia.

 

Lalu bagaimana dengan ratifikasi FCTC? Zulvan menilai, sejak awal itu harus ditolak karena napas dibaliknya adalah tidak menghendaki keragaman dalam produk tembakau.

 

Dengan FCTC, semuanya diarahkan terstandar dan terukur, dimana standar dibuat dan lebih dipengaruhi pemilik modal besar. FCTC bahkan secara ekstrem kerap dipandang sebagai usaha menglobalisasi rokok putih untuk menghabisi eksistensi rokok kretek yang aseli Indonesia.

 

“Kalau FCTC ada, maka pasti akan menekan produsen rokok kretek kita. Standar kadar nikotin dan sebagainya itu jelas akan memojokkan orang kita,” imbuhnya.

 

Dia bilang bahkan negara yang sudah dan akan meratifikasi FCTC juga mendapat protes besar dari kalangan masyarakatnya masing-masing.

 

Korea Selatan dan Jepang, dua negara yang sudah terlanjur meratifikasi FCTC, bahkan berniat untuk mundur dari FCTC. Pasalnya, kata Zulvan, sejak diratifikasi, FCTC menyebabkan produsen tembakau mereka kesulitan.

 

“Aturan kita saat ini sebenarnya sudah cukup berat, hanya bermodal kuat yang bisa bertahan,” kata dia.

 

“Ingat, negara yang meratifikasi FCTC, perokoknya makin naik. Itu di Jepang, Cina, dan Korsel, terjadi. Angka perokok mereka malah cenderung naik,” katanya lagi.

 

Penulis: Markus Junianto Sihaloho/RIN

 

Sumber :
http://www.beritasatu.com/nasional/145966-aturan-larangan-merokok-sudah-ketat-penegakan-hukumnya-lemah.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*