3jvjxTGCl4

Bagi Dividen, Perusahaan Rokok ini Menuai Kritik

Metrotvnews.com, Jakarta: PT HM Sampoerna Tbk membagikan dividen pekan lalu. Namun, langkah perusahaan rokok itu justru menuai kritik pedas dari Indonesia for Global Justice (IJG). IGJ menilai, pembagian dividen hanya menguntungkan PT Phillip Morris Indonesia, pemegang saham terbesar di HM Sampoerna Tbk.

 

Peneliti IGJ Salamudin Daeng melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (19/5), menghitung jika dividen yang diterima Philip Moris dari pabrik rokok terbesar di Indonesia itu tidak sebanding dengan investasi yang ditanamkan perusahaan rokok asal Negeri Barack Obama tersebut.

 

Sejak bercokol di Indonesia pada 2005, Philip Morris hanya menginvestasikan duitnya di industri rokok nasional sebesar 400 juta dolar AS. Kalau dirupiahkan rata-rata hanya Rp550 miliar per tahun di kurs Rp11 ribu.

 

“Secara logika ekonomi, jika memang berkomitmen dalam pembangunan ekonomi Indonesia, perusahaan asing harus melakukan reinvestasi. Sementara sekarang ini lalu lintas transfer keuntungan perusahaan asing sangat bebas,” ujar Salamudin yang juga aktif di Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia ini.

 

Philip Morris saat ini mengempit saham HM Sampoerna 98,18 persen. Dengan pembagian dividen tunai sebesar Rp 9,95 triliun atau Rp2.269 per lembar saham dari laba bersih tahun buku 2012, sebagian besar mengalir ke kas Philip Morris.

 

“Dari seluruh laba kita pada tahun 2012, 100 persen dibagikan kepada pemegang saham. Tidak ada laba yang ditahan,” kata Humas HM Sampoerna Mochamad Tommy Hersyaputera, beberapa waktu lalu lalu.

 

Salamudin menjelaskan, dengan melakukan reinvestasi maka akan ada modal bergulir yang pada akhirnya juga mendorong ekonomi. Sementara saat ini, dengan rezim devisa bebas, perusahaan asing bisa seenaknya melakukan transfer setiap ada keuntungan. Padahal, jika tidak diatur, ujung-ujungnya bisa membuat capital outflow sehingga berujung pada defisit.

 

“Jangan lupa, uang dari hasil keuntungan itu bersumber dari ekonomi Indonesia, sehingga tidak bisa lari semuanya, harus ada reinvestasi pada sektor lain yang menyerap tenaga kerja membangun industri,” tegas Salamudin.

 

Menurut Salamudin, yang mendesak diatur adalah dilacak keuntungan yang didapat dari ekonomi Indonesia itu dilarikan ke luar negeri untuk apa saja. Negara, tegas Salamudin, harus segera membuat regulasi bahwa perusahaan yang meraih untung besar harus melakukan reinvestasi karena jika tidak diatur bisa terjadi capital outflow.

 

Hal lain yang harus diperhatikan, kata Salamudin, perusahaan asing juga harus komitmen memperbaiki upah buruh, harga pembelian tembakau di tingkat petani, dan menghentikan praktik alih daya. “Itu hal normatif dan mendesak, sesuatu yang tidak diatur norma, harus dijalankan oleh perusahaan yang untung besar,” tandas Salamudin.

 

Ironisnya, di tengah pendapatan dividen yang sedemikian besar, Philip Morris justru menutup dua pabriknya di Jember dan Lumajang yang memproduksi sigaret kretek tangan (SKT) dan mem-PHK 4.900 buruh.
(Dor)

 

Sumber:
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/05/19/243232/bagi-dividen-perusahaan-rokok-ini-menuai-kritik

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*