212117

Banyak Industri Kecil Berguguran

SEMARANG (Suara Karya): Kepala Industri Agro Kimia dan Hasil Hutan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, Ratna Kawuri mengakui, dalam dua tahun terakhir telah terjadi penurunan jumlah industri hasil tembakau (IHT) berskala kecil yang tersebar di 30 kota/kabupaten.
Data yang dihimpun Disperindag Jateng dari pemerintah kabupaten/kota, jumlah IHT yang terdaftar pada 2012 sebanyak 277 unit. Jumlah itu merosot menjadi 240 perusahaan pada 2013. Produksi rokok yang dihasilkan 240 perusahaan, tercatat mencapai 121,65 miliar batang di 2013. Sedang tenaga kerja yang terserap sebanyak 126.036 orang.

 

“Kemudian dalam peninjauan terbaru tahun 2014, IHT kembali banyak yang berguguran hingga tinggal tersisa 218 unit,” ujar Ratna, di Semarang, Selasa (11/2).
Bergugurannya IHT terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Demak, Grobogan, Pati, dan Purworejo. Penurunan terbanyak terjadi di Pati dari 13 unit menjadi tujuh unit, dan di Purworejo dari 27 unit menjadi 20 unit. Munculnya beragam regulasi, secara alamiah bakal membunuh IHT. Sehingga mau tidak mau, diperlukan akuisisi oleh industri rokok yang besar.

 

Dipaparkan, kampanye dampak negatif atas rokok kretek terhadap kesehatan, juga turut menekan produksi industri hasil tembakau berskala mikro dan kecil. Meski begitu, jelas Ratna, khusus IHT di Kabupaten Kudus justru meningkat dari 71 unit menjadi 73 unit.
“Grup raksasa PT Djarum, bahkan berencana melakukan ekspansi bisnis tahun ini. Oasis Djarum sudah minta persetujuan prinsip tahun lalu untuk investasi di 2014. Mereka mau menambah 10 mesin berkapasitas 16.000 batang rokok/menit,” tuturnya. Pada 2012 lalu, kapasitas produksi Djarum diproyeksi mencapai 55 miliar-60 miliar batang rokok.

 

Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Jateng, Yuni Astuti, membenarkan satu investor pengolahan tembakau telah mengantongi izin prinsip. “Januari lalu baru teken izin prinsip senilai Rp 2,3 triliun dari PT Djarum, termasuk nilai tertinggi yang diteken BPMD Jateng. Namun itu baru perizinan belum ada nilai realisasinya,” katanya.

 

Dipaparkan, jangka waktu operasionalisasi perusahaan itu belum bisa dipastikan karena masih menunggu prosedur perizinan lengkap dan proses kajian investasi di wilayah yang dituju.

 
Di sisi lain, Ketua Serikat Pekerja Industri Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman, Edi Riyanto, mengungkapkan dampak dari bergugurannya IHT dipastikan tenaga kerja IKM pengolahan tembakau telah banyak yang berpindah mata pencaharian ke sektor industri lainnya. (Pudyo Saptono)

 

Sumber:
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=344395

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*