rokoks

Banyak Pemula Tercandu Rokok

Setiap warga memiliki hak yang sama untuk hidup sehat dan bisa menghirup udara segar. Dalam isi Peraturan Daerah (Perda) Kota Palembang Nomor 7 Tahun 2009, dibuat bukan untuk melarang merokok, tapi mengatur tempat khusus bagi perokok.

 

TEMBAKAU termasuk zat candu yang membuat ketagihan sehingga sulit untuk mengubah perilaku seseorang untuk merokok dan menjadi hak pribadi sang perokok itu sendiri. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Dr Anton Suwindro MKes, peringatan Hari Anti-Tembakau dunia bukan sebagai peringatan yang terlalu besar.
Hanya saja, pada 31 Mei itu, perokok seharusnya menghormati dan harus sadar untuk tidak merokok di hari tersebut. “Mengimbau untuk menghormati yang tidak merokok,” kata dia. Rokok identik dengan remaja. Sebagai sasaran utama adalah perokok pemula pada usia sekolah menengah pertama (SMP) atau usia 15-19 tahun.

 

Bahkan, kata Dr Anton, saat ini produsen rokok juga terus gencar mencari sasaran pada usia pemula ini. Mulai dari kemasan iklan yang menarik, identik dengan keberanian, gagah, laki-laki sekali, sebagai ciri khas anak muda sehingga membuat anak usia produktif lebih mudah menjadi sasaran sebagai perokok aktif.

 

 

Ketika orang sudah kecanduan rokok, maka akan ditinggalkan produsen. Pasalnya, konsumen seperti ini dapat dipastikan membeli rokok dengan sendiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain. Kondisi ini yang sangat berbahaya. Ketika konsumen sudah kecanduan rokok, maka zat kecanduan terus berkembang dan tidak peduli akibat yang ditimbulkan rokok.

 

“Pemula lebih besar terpengaruh. Kita terus melakukan sosialisasi dan informasi kesehatan tentang rokok pada anak muda agar tidak terjerat, dengan mengusung 3 K, yakni kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan,” tambahnya.

 

Selain itu, kejiwaan yang labil juga semakin mendominasi pemula untuk menjadi perokok. Bahkan, dinilai sebagai gaya hidup modern. Pembelian secara satuan memang menjadi alasan begitu mudahnya pelajar membeli rokok.

 

Tak hanya di supermarket atau warung kelontong, rokok juga bisa didapat di penjual asongan yang bertebaran di jalan-jalan, lampu merah, hingga area kampus dan sekolah.

 

“Hampir di seluruh warung kelontong menjual rokok secara satuan. Dengan harga Rp1.000-Rp2.000, pelajar dapat merokok dengan mudah dan murah. Bahkan, terkadang ada komunitas yang isinya semua perokok. Satu batang rokok bisa digunakan oleh lebih dari dua atau tiga orang,” bebernya.

 

Berdasarkan data Tobacco Control Support Center-IAKMI pada 2008, di Indonesia, 1 dari 10 kematian orang dewasa disebabkan oleh rokok dalam satu tahun 5,4 juta jiwa atau rata-rata satu kematian setiap 5,8 detik karena rokok. Jumlah ini meningkat pada 2010, di tahun tersebut 6 juta jiwa melayang akibat tembakau.

 

Pada remaja usia 15-19 tahun atau SMP, meningkat 12,9 persen dalam kurun waktu 15 tahun sejak 1995-2010, terutama laki-laki 24,6 persen dan perempuan sebanyak 0,6 persen. Bahkan, di Indonesia menjadi negara ketiga setelah Cina dan India sebagai perokok tertinggi, sehingga rokok sangat erat kaitannya dengan kemiskinan.

 

Tiga dari empat keluarga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Kelompok keluarga termiskin justru mempunyai prevalensi merokok lebih tinggi daripada kelompok pendapatan terkaya.

 

“Proporsi pengeluaran bulanan untuk belanja rokok pada rumah tangga termiskin mencapai 12 persen, juga lebih tinggi dari rumah tangga terkaya yang hanya 7 persen. Hal ini mengindikasi bahwa rumah tangga termiskin lebih terjerat konsumsi rokok daripada rumah tangga terkaya,” pungkasnya. (may/ce4)

 

Sumber:
http://sumeks.co.id/gelora/sfc/agnd/14421-banyak-pemula-tercandu-rokok

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*