Mu7VCWaqKi

Gambar Seram Tak Pengaruh Ketengan

Setiap bungkus rokok, yang beredar di Indonesia, wajib mencantumkan peringatan bergambar atau pictorial health warning (PHW), 24 Juni lalu.

 

Masalahnya, gambar seram tersebut tetap tidak terlihat oleh mereka yang masih terbiasa beli rokok ketengan atau batangan.

—————–

BELI rokok ketengan alias mengecer per batang sudah menjadi kebiasaan para perokok dengan kantong cekak. Di antaranya adalah anak-anak sekolah, yang uang sakunya terbatas. Dengan membeli rokok ketengan, mereka cukup menyisihkan sebagian dari uang sakunya untuk bisa mendapatkan rokok.

 

 

Seperti warung rokok yang ada di tepi-tepi jalan atau juga pengecer yang sering kali berada di lampu merah. Terlebih lagi, jika keberadaan warung tersebut tidak jauh dari sebuah sekolah. Pada usia ini, anak-anak merupakan perokok pemula atau hanya sekadar coba-coba dengan membeli rokok batangan sesuai uang saku yang dimiliki setiap harinya.

 

Seperti yang dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, Dr Anton Suwindro MKes, bahwa seharusnya tidak ada lagi pedagang yang menjual rokok batangan di kedai-kedai rokok atau di lampu merah. Pasalnya, mudahnya mendapatkan rokok batangan ini membuat riskan bagi perokok pemula.

 

“Memang sulit untuk menertibkan pedagang ini, terlebih lagi banyaknya permintaan konsumen dengan kapasitas kecil terutama di kalangan pelajar atau perokok pemula. Namun, disarankan adanya imbauan pemerintah untuk tidak menjual rokok batangan. Dengan danya imbauan, mungkin bisa meminimalisir perokok pemula,” jelasnya.

 

Bukan hanya dukungan dari pemerintah, regulasinya juga dalam jangka panjang. Produsen rokok juga mengimbau distributor untuk tidak menjual batangan.
Perlu diketahui, lanjut Dr Anton, rokok putih atau rokok non-kretek jika sudah terkontaminasi dengan udara, bisa mengurangi rasa. Tapi jika rokok jenis kretek telah terkontaminasi dengan udara, rasanya masih enak-enak saja. Maka dari itu, penjualan rokok non-kretek tidak bisa dilakukan batangan. Kenapa hal tersebut juga tidak bisa diterapkan untuk jenis rokok kretek.

 

Selain itu, dengan dicantumkannya gambar seram pada kemasan rokok, dapat membuat orang, anak muda, dan usia remaja lebih takut apabila melihat gambar-gambar tersebut dibandingkan dengan ucapan atau tulisan.

 

“Jika hanya tulisan, seperti diabaikan. Namun jika dengan gambar, otak akan lebih merekam dan bisa meminimalisir perokok pemula,” ulasnya.
Selanjutnya, cukai rokok juga harus dinaikkan. Artinya, bisa meminimalkan pengguna rokok yang kemungkinan uangnya pas-pasan. Peraturan Pemerintah (PP) No 109/2012 mengenai pengendalian tembakau dilaksanakan 24 Juni 2014.

 

Namun, peraturan ini tidak mengatur penjualan rokok per satuan batang. Entah seberapa efektif peringatan bergambar di bungkus rokok kalau para perokok cilik masih bisa beli ketengan dan tidak pernah melihat bungkusnya. (may/ce4)

 

Sumber:

http://sumeks.co.id/metro/plg/kshtn/18782-gambar-seram-tak-pengaruh-ketengan

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*