rokok2ts

Hai Remaja, Stop Ngebul karena Ada 4.000 Senyawa Kimia Beracun di Rokok

Jakarta, Berdasar data Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok tertinggi nomor tiga di dunia. Nah, rupanya jumlah perokok pemula dengan usia 10-14 tahun pun selalu mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Sungguh disayangkan beberapa remaja sudah aktif ngebul, sebab di dalam rokok mengandung 4.000 senyawa kimia beracun.

“Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 jenis senyawa kimia beracun yang berbahaya untuk tubuh di mana 43 di antaranya bersifat karsinogenik. Dengan komponen utama nikotin (zat berbahaya penyebab kecanduan), tar (bersifat karsinogenik), CO(menurunkan kandungan oksigen dalam darah),” ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, Prof Dr dr Tjandra Yoga Adhitama, dalam keterangan tertulisnya kepada detikHealth, Jumat (8/11/2013).

Dia memaparkan ketika seseorang telah kecanduan rokok, nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman alias dopamine, sehingga menyebabkan rasa ketergantungan. Untuk mempertahankan rasa nyaman, timbul dorongan untuk merokok kembali. Nah, inilah awal dari proses kecanduan rokok.

Merokok juga dapat menyebabkan berbagai penyakit, khususnya kanker paru, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung koroner, dan gangguan pembuluh darah. Tak hanya itu, merokok juga ditengarai menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil di luar kandungan, gangguan pertumbuhan janin, kejang saat kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.

“Selain berdampak buruk bagi kesehatan perokok itu sendiri, asap rokok orang lain (AROL) juga berbahaya bagi kesehatan orang di sekitarnya, yang dalam hal ini menjadi perokok pasif. AROL adalah gabungan antara asap yang dikeluarkan oleh ujung rokok yang membara dan produk tembakau lainnya serta asap yang dihisap oleh perokok. Tidak ada batas aman untuk AROL,” sambung Prof Tjandra.

Menurutnya, alasan pertama kali merokok yang paling dominan adalah karena coba-coba. Selain itu pengaruh iklan TV, ingin terlihat gagah, dan karena dipaksa teman menjadi penyebab lain remaja merokok. Apalagi sebuah dokumen industri rokok di luar negeri menunjukan bahwa betapa ia menyadari pentingnya anak dan remaja menjadi pasar potensial.

Ditambahkan Prof Tjandra, iklan, promosi, dan sponsor rokok secara masif dan intensif menyasar anak-anak untuk menjadi perokok pemula. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyebut sebanyak 83 persen anak usia 13-15 tahun melihat iklan rokok di televisi, 89 persen melihat iklan rokok di billboard, dan 76,6 persenmelihat iklan rokok di media cetak.

Berbagai studi yang antara lain dilakukan Komnas Perlindungan Anak dam Uhamka menunjukan iklan rokok berpengaruh pada anak untuk mulai merokok. Studi di Indonesia menunjukan 70 persen remaja mengaku mulai merokok karena terpengaruh oleh iklan, 77 persen mengaku iklan menyebabkan mereka untuk terus merokok, dan 57 persen mengatakan iklan mendorong mereka untuk kembali merokok setelah berhenti.

Tak hanya itu, faktor lingkungan keluarga dan masyarakat pun ikut mempengaruhi. “Orang tua menjadi panutan dalam memberikan contoh bagi anak-anaknya, data dari GYTS 2009, menunjukan 72,4 persen remaja usia 13-15 tahun mempunyai orang tua merokok,” imbuh Prof Tjandra.

(vit/up)
Sumber:
One Comment

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Lutfi
    10 March 2015 at 21:43 - Reply

    Sayangnya semua penelitian tentang dampak negatif rokok hanya menggunakan sampling orang sakit di RS. Saya baru yakin kalau sampling bersifat terbuka atau umum. Adakah???