926f675b527f25e742c10440239d7ef4

Harga Berbeda, Petani Enggan Tanam Tembakau

BOYOLALI (KRjogja.com)- Petani di wilayah dataran rendah Boyolali mulai enggan menanam tembakau. Hal itu karena harga dan kualitas jenis tembakau dataran rendah dan dataran tinggi yang berbeda jauh, sehingga tembakau dataran rendah kalah bersaing.

 

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan kehutanan (Distanbunhut) Boyolali, Widodo saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu menjelaskan, pada musim tanam kali ini, jumlah petani yang menanam tembaku di wilayah dataran rendah berkurang. “Mungkin karena kalah bersaing dengan tembakau dari dataran tinggi,” terangnya.

 

Diterangkan lebih jauh, tembakau yang ditanam di dataran tinggi yakni tembakau jenis Gemblong Kenongo. Areal lahannya meliputi wilayah Kecamatan Musuk, Selo, dan Cepogo, dengan luas lahan mencapai 3.068 hektar. Sementara untuk tembakau di dataran rendah adalah tembakau Grompol yang lahannya tersebar di enam Kecamatan, yakni Kecamatan Boyolali, Mojosongo, Juwangi, Sawit, Banyudono, dan Teras. Dengan luas lahan 251 hektare.

 

Perbedaan harga untuk kedua jenis tembaku tersebut cukup signifikan. Jika satu kilo tembakau kering jenis Gemblong Kenongo harganya mencapai Rp 60 ribu, harga tembakau Grompol untuk jumlah yang sama hanya Rp 8 ribu saja.”Untuk wilayah dataran tinggi seperti Musuk, Selo, atau Cepogo, petani masih rutin menanam tembakau. Sementara untuk yang wilayah bawah sudah ada yang mulai beralih menanam jenis tanaman lain,” ujarnya.

 

Salah satu petani di Mojosongo, Warsono mengatakan, musim tanam kali ini, ia tak ikut-ikutan petani lain menanam tembakau. Tapi ia memilih mencoba menanam jagung. Menurutnya, sulit bagi petani tembakau di wilayah bawah untuk bersaing secara harga dan kualitas dengan tembakau dari wilayah dataran tinggi.”Kualitas tembakau yang baik itu ya yang di dataran tinggu yang suhunya dingin,” ucap Warsono mengakhiri. (*-9)

 

Sumber:
http://krjogja.com/read/227734/harga-berbeda-petani-enggan-tanam-tembakau.kr

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*