Harga Tembakau Lereng Sumbing-Sindoro Capai Rp 70.000/kg

06 September 2013 | 04:22 wib

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Meski pasaran tembakau pada musim panen raya 2013 tak seramai tahun 2012, namun harga komoditas ini perlahan-lahan terus merangkak naik. Jika di awal pembelian grade A harga terendah Rp 15.000/kg sekarang telah mencapai Rp 70.000/kg.

“Kalau di tempat kami harga tertinggi Rp 70.000/kg itu untuk grade D. Tapi barangnya sekarang memang sulit. Pokoknya ana rega ana rupa (jika barangnya berkualitas dihargai tinggi, red),”ujar Mulyadi salah satu grader Wismilak,” Kamis (5/9).

Diakuinya kualitas tembakau sekarang kurang baik karena faktor cuaca. Padahal perusahaan tetap berpegang pada kualitas dan selektif. Mulyadi sendiri tahun ini memperkirakan hanya akan membeli 80 ton tembakau petani.

Agung Purnomo alias Ki Hong, grader PT Djarum, menuturkan telah melakukan pembelian tembakau dengan harga tertinggi Rp 60.000/kg, untuk grade D. Sedangkan harga terendah pada kisaran Rp 30.000/kg.

“Pembelian baru mulai tanggal 29 Agustus, kalau untuk kuota saya kira sulit untuk terpenuhi sebab banyak tembakau rusak. Kita lebih selektif karena harus dapat yang berkualitas,” tuturnya.

Supervisor PT Djarum perwakilan Temanggung, Hugiono, mengatakan, di tempatnya harga pembelian tertinggi pada grade D adalah Rp 67.500/kg. Hanya saja dia menegaskan pembelian belum terlalu banyak sebab kualitas tembakau kurang baik.

Hingga pekan pertama bulan September 2013, baru dua pabrikan yang menyatakan akan melakukan pembelian yakni PT Gudang Garam dan PT Djarum. Sedangkan pabrikan lain seperti Nojorono, Bentoel, Wismilak belum ada kejelasan.

Kepala Unit Perwakilan PT Gudang Garam Temanggung, Hartanto, menyebut perusahaannya akan membeli sebanya 8.500 ton. Sedangkan, PT Djarum sebagaimana dikemukakan Hugiono akan membeli 5.000 ton, dengan estimasi 4.000 ton membeli di Temanggung lalu 1.000 ton di Magelang.

Sementara itu, Sapardi (33), petani asal Ngabean, Kecamatan Ngadirejo, mengeluh dari 18 ribu batang tanaman tembakau yang ditanam di ladangnya 12 ribu di antaranya tidak bisa dipanen karena rusak. Usaha penyulaman sudah dilakukan sampai 20 ribu tanaman tapi tidak berhasil, sebab hujan terlalu banyak.

( Raditia Yoni Ariya / CN38 / SMNetwork )

Sumber: Suaramerdeka.com

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*