indonesia-as-berdamai-soal-perang-rokok-kretek

Indonesia-AS berdamai soal ‘perang’ rokok kretek

Merdeka.com – Indonesia dan Amerika Serikat kemarin, Jumat (3/10), sepakat tidak memperpanjang sengketa dagang terkait komoditas rokok kretek. Kedua negara terlibat ketegangan dalam forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), lantaran aksi AS melarang ekspor rokok asal Tanah Air.

“Kedua pihak sepakat mengakhiri perdebatan, karena dampaknya justru tidak bagus bagi hubungan antar negara yang amat berharga,” kata seorang sumber di WTO kepada situs thehill.com, Sabtu (4/10).

Bagian dari kompromi kedua pihak, maka rokok Indonesia yang tidak masuk dalam kategori berperasa bisa diekspor ke Amerika. Artinya, kretek masih dilarang, tapi jenis rokok lain tetap punya peluang masuk ke negeri Paman Sam.

Sumber itu juga menyebut ada barter sampingan dari negosiasi soal rokok itu. Yakni, pemerintah Amerika tidak akan mengadukan Indonesia yang sempat melarang PT Freeport dan PT Newmont mengekspor bahan mineral mentah awal 2014.

“Indonesia kini sudah memberikan izin ekspor kepada perusahaan tambang AS yang terdampak aturan hilirisasi,” ungkapnya.

Amerika secara spesifik melarang ekspor produk rokok Indonesia yang mengandung cengkeh, alias kretek. Rokok asli nusantara itu dianggap masuk kategori rokok berperasa, sehingga merujuk Peraturan Presiden Barack Hussein Obama pada 2009, tidak boleh dijual dan dipasarkan di Negeri Paman Sam.

Delegasi Indonesia, khususnya dari Kementerian Perdagangan, langsung mengaukan AS ke panel WTO pada 2011, dan menang. Alasan Amerika melarang kretek terbukti lemah, karena negara itu masih mengizinkan rokok menthol dijual bebas.

Itu disampaikan Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Iman Pambagyo. “Kenapa mereka menganggap rokok menthol tidak lebih berbahaya daripada kretek Indonesia. Ini yang kita pertanyakan, kita merasa ada ketidakadilan. Di dalam WTO tidak boleh diberlakukan kebijakan yang sifatnya diskriminatif,” kata Iman beberapa waktu lalu.

Ekspor tembakau asal Indonesia ke Negeri Adi Daya itu mencapai USD 508 juta pada 2008, sebelum pelaksanaan larangan impor berlaku. Sebaliknya, Indonesia mengimpor bahan baku rokok, berupa tembakau jenis Virginia dari Amerika cukup besar. Tahun lalu, jumlahnya mencapai 2.907,17 ton senilai USD 21,43 juta.

Sumber:
http://www.merdeka.com/uang/indonesia-as-berdamai-soal-perang-rokok-kretek.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*