NPumGw2xv6

Kak Seto Miris Anak Muda Indonesia “Dikepung” Rokok

KEMENTERIAN Kesehatan RI telah berkoordinasi dengan Departemen Keuangan RI untuk meningkatkan cukai rokok. Salah satu tujuannya adalah menekan perokok pemula yang kian meningkat setiap tahunnya.

 

Pemerintah pusat beranggapan bahwa upaya meningkatkan cukai rokok akan membuat harga rokok kian mahal. Alhasil, anak muda akan sangat sulit membeli rokok hingga angka perokok bisa menurun. Namun, apakah memang semudah itu menurunkan angka perokok pemula?

 

Menanggapi hal itu, psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi, mengatakan bahwa regulasi kenaikan harga rokok bisa membuat perokok pemula berkurang. Pasalnya, kondisi keuangan remaja yang terbatas hingga mampu menurunkan konsumsi merokoknya.

 

Namun, menurutnya, yang memengaruhi kalangan muda untuk mau mengurangi atau bahkan berhenti merokok bukan semata harga rokok. Konsumsi rokok pada anak muda turut didorong lingkungan sosial dan promosi rokok di berbagai media.

 

“Jangan salah, gencarnya iklan beberapa produk rokok mempromosikan rokoknya di televisi juga memengaruhi anak untuk mengonsumsi rokok. Apalagi, mereka sedang dalam fase mencari identitas, artinya peer presure (tekanan dari teman sebaya-red) sangat berpengaruh. Jika lingkungan teman sebayanya merokok, pasti ia juga merokok,” katanya di Jakarta, baru-baru ini.

 

Tak sebatas itu, lanjut dia, imej merokok sebagai tindakan keren, jantan, dan moderen juga menjadi masalah yang membuat angka perokok pemula sulit ditekan. “Banyak anak sekolah yang akhirnya merokok hanya takut dikatakan banci oleh temannya, ini yang harus diperhatikan pemerintah,” ucap Kak Seto.

 

Produk rokok saat ini bahkan seolah sudah masuk ranah kebudayaan, dengan menjadi sponsor acara band dan kesenian sekolah. Produk rokok juga memberikan beasiswa kepada pelajar, beber Seto.

 

Dengan demikian, menurutnya, pengaruh regulasi tersebut tak bisa berdiri sendiri dalam menekan angka perokok pemula di Indonesia. Pasalnya, regulasi berfokus pada harga rokok, belum menyentuh gaya hidup anak remaja.

 

“Bahwa ada kenaikan harga rokok akan berpengaruh pada kemampuan membeli, iya, tapi dengan masih dikepungnya promosi rokok, itu akan tetap memotivasi remaja untuk mengonsumsi rokok,” simpulnya. (ftr)

 

KEMENTERIAN Kesehatan RI telah berkoordinasi dengan Departemen Keuangan RI untuk meningkatkan cukai rokok. Salah satu tujuannya adalah menekan perokok pemula yang kian meningkat setiap tahunnya.

 

Pemerintah pusat beranggapan bahwa upaya meningkatkan cukai rokok akan membuat harga rokok kian mahal. Alhasil, anak muda akan sangat sulit membeli rokok hingga angka perokok bisa menurun. Namun, apakah memang semudah itu menurunkan angka perokok pemula?

 

Menanggapi hal itu, psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi, mengatakan bahwa regulasi kenaikan harga rokok bisa membuat perokok pemula berkurang. Pasalnya, kondisi keuangan remaja yang terbatas hingga mampu menurunkan konsumsi merokoknya.

 

Namun, menurutnya, yang memengaruhi kalangan muda untuk mau mengurangi atau bahkan berhenti merokok bukan semata harga rokok. Konsumsi rokok pada anak muda turut didorong lingkungan sosial dan promosi rokok di berbagai media.

 

“Jangan salah, gencarnya iklan beberapa produk rokok mempromosikan rokoknya di televisi juga memengaruhi anak untuk mengonsumsi rokok. Apalagi, mereka sedang dalam fase mencari identitas, artinya peer presure (tekanan dari teman sebaya-red) sangat berpengaruh. Jika lingkungan teman sebayanya merokok, pasti ia juga merokok,” katanya di Jakarta, baru-baru ini.

 

Tak sebatas itu, lanjut dia, imej merokok sebagai tindakan keren, jantan, dan moderen juga menjadi masalah yang membuat angka perokok pemula sulit ditekan. “Banyak anak sekolah yang akhirnya merokok hanya takut dikatakan banci oleh temannya, ini yang harus diperhatikan pemerintah,” ucap Kak Seto.

 

Produk rokok saat ini bahkan seolah sudah masuk ranah kebudayaan, dengan menjadi sponsor acara band dan kesenian sekolah. Produk rokok juga memberikan beasiswa kepada pelajar, beber Seto.

 

Dengan demikian, menurutnya, pengaruh regulasi tersebut tak bisa berdiri sendiri dalam menekan angka perokok pemula di Indonesia. Pasalnya, regulasi berfokus pada harga rokok, belum menyentuh gaya hidup anak remaja.

 

“Bahwa ada kenaikan harga rokok akan berpengaruh pada kemampuan membeli, iya, tapi dengan masih dikepungnya promosi rokok, itu akan tetap memotivasi remaja untuk mengonsumsi rokok,” simpulnya. (ftr)

 

Sumber:
http://health.okezone.com/read/2014/06/03/482/993257/kak-seto-miris-anak-muda-indonesia-dikepung-rokok

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*