rokoks

Kampanye Unik Ingatkan Bahaya Rokok: Tukar Susu Hingga Foto Selfie

Jakarta – Ketika belum banyak orang yang sadar akan bahaya merokok, upaya penyadaran melalui kampanye tampaknya harus terus dilakukan. Namun dibutuhkan kreativitas agar tujuan kampanye benar-benar sampai sasaran, setidaknya membuat mereka tertarik, kalau perlu sampai jera merokok lagi.

 

Inilah yang dilakukan sejumlah pihak ketika menggelar kampanye-kampanye unik untuk menyadarkan para perokok. Seperti apa kampanye yang dimaksud? Berikut paparannya seperti dirangkum detikHealth, Jumat (30/5/2014).

 

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

 

1. Ngamen minta rokok

 

Tiap malam minggu sebuah komunitas bertajuk Goodlife Society menggelar kegiatan mengamen di tempat-tempat hangout anak muda di Jakarta. Namun bukan recehan yang mereka minta, tapi rokok yang tengah diisap pengunjung tempat hangout, untuk kemudian ditukar dengan permen.

Bayu Krisna, ketua komunitas Goodlife Society mengatakan, kampanye ini bertujuan untuk menyadarkan para perokok untuk tidak merokok di tempat-tempat umum.

 

Zombie di CFD (Foto: Uyung/detikHealth)

 

2. Kostum zombie dan peti mati

 

Pada bulan Februari 2014, Komnas PT menggelar kampanye antirokok di arena Car Free Day Jakarta dengan ‘dimeriahkan’ sejumlah remaja yang membawa peti mati serta mengenakan make up ala zombie yang menyeramkan.

“Ini adalah cara orang menangkap impresi awal. Sama seperti iklan rokok selalu menggunakan image macho, kenyataannya nasib perokok seperti zombie-zombie ini,” kata Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), Dr Prijo Sidipratomo.

Sebagai dokter, Dr Prijo mengingatkan bahwa zombie-zombie itu membawa pesan tentang bahaya merokok. Risiko penyakit akibat rokok begitu banyak, mulai dari kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga gangguan kehamilan dan impotensi. Aksi para zombie itu juga merupakan bagian dari Kick Off sosialisasi peringatan bergambar dalam kemasan rokok.

Ridwan Kamil (Foto: Reza/detikHealth)

 

3. ‘Selasa Tanpa Rokok’

Awalnya Walikota Bandung, Ridwan Kamil mengeluarkan keputusan melarang iklan rokok di jalan-jalan utama kota Bandung. Setelah itu, Ridwan juga menggagas program Selasa Tanpa Rokok lewat media sosial, terutama Twitter.

 

Dengan menggunakan media sosial, Ridwan dapat menyapa sekaligus memberikan apresiasi kepada warga kota Bandung yang mau berhenti merokok.
“Banyak yang masuk ke twitter bilang ‘Pak Wali saya bela-belain mulut asem hari Selasa aja’ atau ‘Pak Wali saya sudah berhasil tiga minggu berhenti merokok’. Istilah Bahasa Sundanya itu pengen dipuji mereun,” ujar Emil.
Sukses dengan Selasa Tanpa Rokok, di Bandung pun bermunculan kawasan Rukun Warga (RW) bebas asap rokok. Tapi ini bukan program dari Ridwan, melainkan inisiatif warga setelah melihat komitmen Emil memerangi bahaya rokok.

 

Aksi tukar rokok dengan susu di CFD (Foto: Uyung/detikHealth)

 

4. Tukar rokok dengan susu

 

Dalam kurun beberapa bulan belakangan, Rumah Zakat gencar melakukan kampanye antirokok dengan mendatangi terminal, arena CFD maupun area publik lainnya di Solo. Di sana mereka melakukan ‘sweeping’ perokok dengan meminta rokok yang tengah diisap orang-orang lalu menukarnya dengan sebotol susu dan permen. Bukan hanya himbauan lisan, para aktivis itu juga membagikan selebaran yang berisi bahaya rokok untuk kesehatan manusia.

Kampanye juga dilakukan di kawasan traffic light. Tak hanya ngomong, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan pesan bahaya merokok serta membawa replika rokok ukuran besar yang diberi tulisan ‘Maraiboros’.
Kampanye serupa juga sering digelar oleh para mahasiswa kesehatan di Jakarta, terutama di arena Car Free Day setiap hari Minggu di Jl Thamrin hingga Jl Sudirman.

 

Widio Wize Ananda Zen, presiden komunitas 9cm (Foto: Uyung/detikHealth)

 

5. Tegur perokok dan ajakan foto selfie

 

 

Jika sekadar menegur orang yang merokok lalu kabur, semua orang mungkin juga berani melakukannya. Tapi bagaimana bila setelah ditegur, Anda harus mengajak si perokok foto selfie? Komunitas 9cm Indonesia pun menantang Anda untuk itu.
Dengan mengusuh tema Challenge to Change, mereka menantang kaum muda untuk mendekati perokok, membujuknya untuk menukarkan rokoknya dengan permen, cokelat, atau apapun. Jika misi berhasil, tugas selanjutnya adalah mengajak perokok yang mereka sebut sebagai ‘target’ tersebut untuk foto bersama. Foto narsis bersama tersebut kemudian diunggah ke twitter dengan tagar (tanda pagar) tertentu dan di-mention ke akun @9cm_ID.

 

(dok: Project Jernih)

 

6. Anak Bukan Asbak

 

 

Bila mungkin ego masih sulit dijinakkan, kampanye tampaknya perlu coba dilakukan dengan menggunakan sudut pandang lain. Khusus bagi perokok yang sudah memiliki anak atau berkeluarga, mungkin bisa tergerak setelah mengetahui adanya Project Jernih.
Gerakan yang diluncurkan sejak bulan November 2013 ini bertujuan untuk mengurangi paparan asap rokok pada anak. “Orang dewasa perokok itu curang. Mereka seenaknya merokok di dekat anak-anak. Padahal anak-anak kan tidak tahu bahwa asap rokok itu berbahaya,” ujar penggagas Project Jernih, Bernaldi Pamuntjak.
Project Jernih dijalankan dengan harapan bahwa para perokok tidak lagi merampas hak anak-anak akan udara jernih. Sementara slogan ‘Anak Bukan Asbak’ berasal dari keprihatinannya terhadap anak-anak yang berada di dekat perokok terpaksa menghisap asap rokok tersebut. Ben menuturkan bahwa bahaya merokok di dekat anak bukan hanya ancaman kesehatan yang mengincar saluran pernapasan dan paru-parunya, namun juga risiko ke depannya.
“Kalau merokok di dekat anak-anak terus menerus kan nanti anak-anak akan terbiasa melihatnya. Lalu timbul anggapan bahwa merokok adalah perbuatan biasa dan tidak berbahaya, yng akhirnya bisa membuat anak menjadi perokok nantinya,” ujar pria berumur 48 tahun tersebut.

 

 

Sumber:
http://health.detik.com/read/2014/05/30/140127/2595421/763/kampanye-unik-ingatkan-bahaya-rokok-tukar-susu-hingga-foto-selfie?880006fa

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*