kemkes

Kemenkes akan terus lakukan pembatasan tembakau

LENSAINDONESIA.COM: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan terus lakukan pembatasan tembakau. Hal ini dilakukan untuk melindungi masyarakat, karena zat adiktif yang ada dalam tembakau sangat merugikan.

 

Nafsiah Mboi, Menkes menegaskan, efek tembakau yang merugikan kesehatan tersebut berkaitan dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Timbulnya penyakit tidak menular salah satu pemicunya adalah rokok, seperti paru-paru kronis, impotensi, stroke serta cidera karena kecelakan.

 

Baca juga: Gubernur Jatim tambah alokasi dana bencana longsor di Jombang dan Pakde Karwo tak mau bahas pernyataan Otto Hasibuan

 

“Kita harapkan jumlah orang sehat makin meningkat, sedangkan biaya pengobatan makin bisa ditekan. Semua penyakit yang biayanya mahal, termasuk penyakit tidak menular akan ditekan sebanyak mungkin,” paparnya, usai dialog publik bertema “Menuju Masyarakat Jawa Timur Yang Lebih Sehat dan Sejahtera” di Hotel Garden Palace Surabaya, Rabu (29/1/2014).

 

Sehubungan dengan hal itu, penyakit tidak menular biayanya sangatlah mahal dan bisa dicegah. “Kalau bisa dicegah ayo kita cegah. Mencegahnya dengan cara pola makan, aktifitas fisik dan pola rokok. Karena itulah yang terbukti menjadi sumbangsih terbesar pada penyakit tidak menular,” ujar dia.

 

Terkait banyaknya tudingan soal pembatasan tembakau karena Kemenkes ditunggangi kepentingan asing, dokter spesialis anak ini buru-buru membantahnya. “Tidak, sama sekali tidak,” cetusnya.

 

Pihaknya akan terus melakukan aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Itu merupakan kesepakatan internasional dalam hal kesehatan masyarakat dan tidak mengatur tentang pertanian juga tata niaga tembakau. Hanya konsumsi rokok dan tembakau yang berdampak negatif pada kesehatan.

 

Dalam hal ini, Kemenkes sama sekali tidak mempersoalkan terkait tata niaganya atau mutu tembakau. Sehingga hal itu perlu dibahas lebih lanjut.

 

Dalam kesempatan yang sama, Soekarwo, Gubernur Jatim saat menjadi pembicara dalam acara itu, mendesak dilakukan pembicaraan secara terpadu antar Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Perkebunan, Kementerian Kesehatan serta Kementerian Tenaga Kerja dan Kependudukan. Karena sebanyak 4,2 juta masyarakat Jawa Timur tergantung pada pengolahan tembakau.

 

Penerapan PP 109/2012, tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, membuat petani tembakau makin terjepit. Karena itu, Pemprov Jatim terus berupaya membela petani tembakau, meski sampai saat ini belum ditemukan solusi yang komperehensif.

 

Bahkan saat ini, petani tembakau juga terus berupaya untuk menurunkan kadar tar hingga 2 persen. Antara lain dihasilkannya jenis tembakau Prancak dari Madura, Tembakau Virgine dari Lamongan dan Bojonegoro.

 

Selain itu, petani tembakau juga bersedia mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain, apabila pemerintah mampu menciptakan tanaman yang hasilnya melebihi hasil panen tembakau. Diketahui, Jatim menyumbangkan hampir Rp 50 triliun untuk cukai rokok pada tahun 2013.@sarifa.

 

Sumber :
http://www.lensaindonesia.com/2014/01/29/kemenkes-akan-terus-lakukan-pembatasan-tembakau.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*