0QbDKKhPe9-2

Keseriusan Produsen Rokok Terapkan PHW Diragukan

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluhkan baru sebagian produsen rokok yang telah mengirimkan contoh kemasan bungkus rokok yang telah disertai gambar peringatan bahaya merokok.

 

Padahal, batas waktu penerapan kewajiban pencantuman picture health warning berupa bahaya merokok (PHW) pada bungkus rokok tinggal hitungan minggu, yakni pada 24 Juni 2014 mendatang.

 

“Sudah ada produsen rokok yang mengirimkan contoh bungkusnya ke Badan POM. Namun sebagian besar masih belum mengirimkan,” ujar Direktur Pengawasan Napza BPOM Sri Utami Ekaningtyas, pada Media Workshop Pelaksanaan Pencantuman Gambar Peringatan Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau, di Jakarta, Selasa (17/6/2014).

 

Namun, Sri enggan menyebutkan jumlah dan nama produsen rokok yang belum menyerahkan contoh bungkus kemasannya. Dia berdalih khawatir jumlah data yang diberikan berbeda dengan yang sudah masuk. Pasalnya setiap hari ada saja produsen yang mengirimkan contoh kemasan produk rokoknya ke Badan POM.

 

Yang jelas, kata dia, saat ini terdapat 672 produsen rokok berskala kecil hingga besar di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Bea dan Cukai pada April 2014, total produsen rokok itu memproduksi sekitar 3.392 merek rokok.

 

Sri juga menambahkan, sejumlah produsen rokok besar seperti, Bentoel, Sampoerna, Djarum, Gudang Garam dan sebagainya sudah mengirimkan contoh bungkus rokok disertai PHW yang bakal dipasarkan mulai 24 Juni mendatang.

 

Usai dilakukan pemeriksaan pada contoh bungkus yang dikirimkan, BPOM memutuskan PHW yang dicantumkan dalam kemasan sudah sesuai ketentuan dan boleh dipasarkan mulai 24 Juni mendatang.

 

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah mengeluarkan PP No 109 Tahun 2012 tentang kewajiban bagi produsen untuk memasang PHW pada bungkus rokok yang mulai berlaku pada 24 Juni mendatang. Oleh pemerintah, produsen diberi jangka waktu selama 18 bulan sejak PP tersebut disahkan.

 

Setidaknya ada lima gambar yang telah disusun pemerintah dan wajib dicantumkan di bagian wajah kemasan bungkus rokok. Kelima gambar wajib itu bertema, merokok menyebabkan kanker mulut, merokok membunuhmu, merokok sebabkan kanker tenggorokan, merokok dekat anak berbahaya bagi mereka, serta merokok sebabkan kanker paru-paru dan bronkitis kronis.

 

Oleh pemerintah, BPOM ditugaskan untuk melakukan pengawasan pada pelaksaanaan dari peraturan tersebut. Mulai 24 Juni nanti, petugas BPOM akan melakukan evaluasi di pasar dan sarana produksi terkait kebijakan tersebut. Bila ditemukan pelanggaran, pihak Badan POM bisa mengirimkan rekomendasi pada Kementerian Perindustrian atau Dinas Perindustrian untuk melakukan pencabutan izin produksi.

 

Selain pegnawasan PHW pada kemasan, BPOM juga ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan kadar tar dan nikotin dari produk rokok yang mulai berlaku pada Januari 2014 lalu. “Untuk pengiriman sampel tar dan nikotin agar tidak melebihi batas ketentuan, sudah mulai dikirimkan secara berkala oleh produsen rokok pada setiap bulannya,” ujar Sri.

 

Pada kesempatan serupa, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes Lily Sulistyowati menegaskan tidak ada alasan bagi produsen rokok untuk mengulur-ngulur waktu pelaksanaan pencantuman PHW. Pasalnya mereka sudah diberi waktu hingga 18 bulan untuk mengubah tampilan kemasan bungkus rokoknya.

 

Padahal untuk mengganti desain dan kemasan bungkus rokok sejatinya paling lama hanya membutuhkan waktu selama 3 bulan. Di samping itu produsen rokok Indonesia yang mengekspor rokoknya ke luar negeri, juga sudah lama menerapkan pencantuman PHW pada bungkus rokoknya.

 

Sementara itu berdasarkan rilis yang diterima beberapa hari lalu, Ketua Komunitas Pabrik Rokok Kudus (Koperku) Rusdi Rahman menyatakan pihaknya menolak kewajiban pencantuman PHW pada bungkus rokok. Sebab, hal itu akan mematikan produsen rokok kelas menengah dan kecil.

 

Dengan pencantuman gambar, praktis warna yang dibutuhkan akan semakin banyak sehingga meningkatkan biaya produksi hingga 13%. Selain itu kewajiban untuk mencantumkan lima gambar peringatan berbeda juga berdampak pada penurunan produktivitas pekerja.

 

Untuk setiap slop yang berisi sepuluh bungkus harus dimasukkan lima variasi gambar akibat merokok yang berbeda juga menyulitkan pekerja. Dalam sehari, kata Rusdi, para buruh bisa menyelesaikan pengemasan rokok hingga empat bal, maka dengan adanya kebijakan baru tersebut diperkirakan hanya 2,5 bal.
(Wid)

 

Sumber:
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/06/17/253870/keseriusan-produsen-rokok-terapkan-phw-diragukan

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*