Mandala Renon

Komnas Pengendalian Tembakau dan KAR Kampanyekan Anti Rokok di CFD Dago

BANDUNG, (PRLM).- Masyarakat khususnya yang belum merokok harus melek bahaya rokok. Publik harus tercerahkan bahwa menghisap rokok yang mengandung zat adiktif akan membuat perokok susah terlepas. Hal inilah yang dikampanyekan Komnas Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) bersama Komunitas Anti Rokok (KAR) Bandung di Car Free Day, Jalan Juanda, Kota Bandung, Minggu (23/2/2014)

 

Dalam aksinya, ditampilkan pula sekumpulan orang-orang berpenampilan zombie atau seperti mayat hidup. Penampilan yang mengerikan ini menurut Ketua Umum Komnas PT Prijo Sisipratomo penting agar publik terinformasikan dan ikut mengawasi pengendalian orang agar tidak terjerumus pada rokok.

 

“Berdasarkan penelitian kesehatan masyarakat, merokok 30 batang per minggu, ada kemungkinan jatuh menjadi pecandu narkoba. Ada 25 persen kasus yang seperti itu. Lalu, setelah kena narkoba, jerumus yang terdekat nantinya HIV/AIDS,” kata Prijo.

 

Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, Prijo mengatakan generasi muda akan menjadi sakit-sakitan. Padahal pemuda aset yang harus dijaga. Saat ini, perokok anak usia 10-14 tahun sudah meningkat jumlahnya dari 9 persen menjadi 17,9 persen. Sementara itu, jumlah laki-laki perokok sudah capai 67 persen dari total jumlah laki-laki.

 

Itu sebabnya, sasaran kampanye komnas PT ini memang mencegah orang merokok. Orang yang menjadi sasaran khusus adalah anak-anak dan para perempuan yang jumlahnya saat ini belum signifikan. Sementara industri rokok justru mencari pelanggan baru.

 

“Jumlah konsumsi rokok di Indonesia sebelumnya 30 miliar batang tetapi dalam 30 tahun ini sudah mencapai 302 miliar batang. Padahal sebelumnya target industri rokok 4 tahun mendatang (2018) 260 miliar batang. Jadi sekarang saja sudah melampaui 40 miliar,” kata Prijo.

 

Apalagi rokok sekarang sangat murah bahkan tidak jauh berbeda dengan harga permen. Padahal di luar negeri seperti di Singapura harga rokok Rp85 ribu. “Harga rokok bisa menjadi mahal kalau cukainya dipungut. Cukai rokok di Indonesia masih rendah. Ini satu-satunya cara, ditingkatkan harganya sehingga anak-anak susah merokok,” katanya.

 

Adanya aksi mengurangi rokok atau disebut Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) menurut Prijo tidak akan merugikan petani atau mematikan industri rokok. Justru menurutnya petani tembakau selama ini semakin banyak karena permainan industri rokok. Prijo mengatakan tamanan tembakau sebenarnya bisa diganti dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan seperti palawija.

 

“Sebanyak 50 persen tembakau yang dipakai industri selama ini, sebenarnya impor. Jadi petani tidak akan rugi karena masih dibutuhkan untuk suplai. Faktanya petani juga tidak sejahtera karena tanaman ini musiman. Kalau buruh rokok tidak ada pekerjaan, mekanisasi juga akan terjadi, buruh akan diganti mesin,” katanya.

 

Kepala Dinas Kesehatan Jabar Alma Lucyati mengatakan kampanye mengurangi konsumsi rokok ini sangat bagus. Apalagi, peningkatan jumlah perokok terus terjadi. Gambaran demografi Jabar sekarang bertipe granat. Artinya, populasi penduduk usia balita dan manula hampir sama sedangkan paling besar adalah usia muda.

 

“Tetapi justru usia muda yang merokok juga meningkat. Ini mengkhawatirkan karena mereka akan banyak yang sakit dan produktivitas pemuda juga akan berkurang. Itu sebabnya, pemerintah dengan Permenkes 28/2013 tidak hanya pakai kata peringatan tetapi memberi gambar supaya pembeli rokok sudah diingatkan dampaknya,” kata Alma.

 

Dampak rokok, kata Alma, menyakiti kulit, rambut, sampai organ dalam. Menurut Alma, bisa dibayangkan, usia produktif yang sakit akan lebih banyak. Apalagi sekarang usia 16 sampai 17 tahun sudah merokok. Padahal, dulunya, orang merokok mulai usia 40 tahun atau setelah bekerja. (A-199/A-108)***

 

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/node/271286

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*