20140904_192904_petani-tembakau-terserang-hama-ulat-hijau

Kurang Air, Tembakau Jadi Kerdil

TRIBUNNEWS.COM,LAMONGAN – Harga tembakau di Lamongan cukup meroket, sayang , harga yang cukup menggembirakan petani ini tidak diimbangi dengan tumbuh suburnya tanama tembakau.
Tanaman tembakau kerdil lantaran sejak tanam hingga musim panen kali ini belum sekalipun tersiram air hujan.
Kemaru yang terjadi kali ini membuat petani kelabakan untuk bisa menyiram tanaman tembakuanya. Akibat kurangnya siraman, tanaman tembakau tidak bisa tumbuh segar dan tinggi. Dari ribuan hektare tanaman tembakau yang menyebar di Kedungpring, Modo, Bluluk, Sukorame dan Babat ini kerdil.

“Kalau pernah hujan sekali saja saat musim tanam tembakau, maka bisa tumbuh tinggi dan daunnya juga segar menjanjikan,”ungkap H Reman, petani asal Dusun Slempit Desa Pangkaterjo Kecamatan Sugio kepada Surya, Sabtu (4/10/2014).
Diungkapkan, sejak tanam, bulan Juni hingga musim panen ini tidak sekalipun mendapatkan kiriman air hujan.
Petani terpaksa menyirami tanamannya menggunakan sumber air sumur bor yang nota banenya kurang sehat untuk menyirami tanaman.
Makanya pertumbuhan tanam tembakau rata – rata hanya setinggi 40 cm hingga 60 cm. Padahal kalau siraman airnya cukup bisa mencapai ketinggian 90 cm hingga 1 meter.

 

Kerdilnya batang tembakau ini berpengaruh dengan jumlah daun yang tumbuh. Sementara melihat harga tembakau yang berlaku saat ini cukup tinggi, tembakau basah alias daun untuk gowokan bisa mencapai Rp 1.300 hingga Rp 2000 per kg.

 

 

Bahkan untuk rajangan harganya cukup bervariasi, dari yang terendah Rp 12.000 per kg hingga Rp 17.000 per kg.
Sayangnya, ungkap Maysaroh, petani lainnya, harga yang cukup baik itu tidak dibarengi dengan tanaman tembakau yang tumbuh jauh lebih tinggi seperti tahun – tahun sebelumnya. Upaya penyiraman dengan air sumur bor tidak membawa hasil sesuai harapan para petani.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Aris Setiadi menyatakan, sebenarnya tanaman tembakau petani tergolong cukup baik dari segi kualitas.
Namun kuantitasnya memang jauh berkurang akibat tanaman tembakau kerdil tak mendapatkan siraman air yang cukup.

 

Tapi menurut Aris, meski begitu realitanya, petani masih tertolong dengan harga yang berlaku sekarang.
“Ya itu, untungnya harga daun tembakau baik basah maupun yang dirajang cukup tinggi,”ungkap Aris Setiadi.

 

Sumber:
http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/04/kurang-air-tembakau-jadi-kerdil

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*