20130531133023683

Masih Terapkan Peringatan Tertulis, Produsen Rokok Akan Dituntut

[JAKARTA] Produsen rokok akan dituntut secara pidana dan perdata jika tidak menarik bungkus lama yang masih mencantumkan peringatan kesehatan hanya berupa tulisan. Ancaman itu lantaran hingga kini masih banyak produsen yang belum menarik bungkus rokok lama, dan menggantinya dengan bungkus rokok yang telah mencantumkan peringatan kesehatan berupa gambar.

 

Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau menyatakan kemasan produk tembakau harus mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan. Aturan tersebut seharusnya sudah dijalankan oleh produsen rokok pada 24 Juni lalu.

 

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta), Azas Tigor Nainggolan menyatakan, pihaknya bersama Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau di Indonesia (Sapta Indonesia) telah melakukan investigasi terhadap sejumlah toko dan ritel yang ada di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Bekasi, Solo dan Yogyakarta untuk melihat penerapan PP nomor 109 tahun 2012.

 

Hasilnya, dari sebanyak 17 toko yang diinvestigasi, sebagian besar produsen masih mendistribusikan dan menjual rokok dengan kemasan yang mencantumkan peringatan kesehatan berupa tulisan.

 

“Investigasi kami di retailer dan toko-toko resmi masih menemukan produsen rokok yang tidak memenuhi mandat peraturan pemerintah. Perusahaan rokok kurang konsisten memenuhi perundang-undangan peringatan bahaya merokok,” kata Tigor dalam konferensi pers di Kantor Fakta, Jalan Pancawarga IV, Jatinegara, Jakarta Timur.

 

Dikatakan Tigor, pihaknya memberikan waktu selama satu minggu bagi produsen rokok untuk menarik produk rokok dengan kemasan yang masih mencantumkan peringatan kesehatan berupa tulisan. Jika masih tidak diindahkan, Tigor mengancam akan melakukan proses hukum secara pidana dan perdata. Beberapa produsen rokok yang belum mencantumkan peringatan kesehatan berupa tulisan dan gambar diantaranya, Gudang Garam, Djarum Super, Sampoerna, Bentoel, dan lainnya.

 

“Kami akan melayangkan teguran dan somasi industri rokok yang masih tidak mencantumkan peringatan kesehatan berupa gambar. Kalau belum juga kami akan lakukan upayakan hukum dengan gugat di pengadilan karena pelanggarannya jelas,” katanya.

 

Tigor mengatakan, pihaknya merupakan salah satu yang memperjuangkan dicantumkannya peringatan berupa tulisan dan gambar di Mahkamah Konstitusi. Menurutnya, cukai rokok memang menambah pendapatan negara sebesar Rp 88 triliun, biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengobati warga yang sakit akibat rokok, dan dampak sosial yang ditimbulkan lebih besar hingga mencapai dua kali lipat. Sementara, berdasar pengalaman di sejumlah negara, aturan pencantuman peringatan kesehatan berupa tulisan dan gambar efektif untuk mengendalikan dan menekan jumlah perokok.

 

“Aturan ini babak baru dalam membangun kesehatan dan mengendalikan tembakau. Ini harus kita dukung. Sebetulnya gampang untuk menarik produk-produk itu karena yang kami temukan justru dijual di toko-toko besar,” jelasnya.
Untuk itu, Tigor meminta Badan Pengawasan Obat Makanan dan Minuman (BPOM) untuk meningkatkan pengawasan dan menindak dengan tegas. [F-5/N-6]

 

Sumber:
http://www.suarapembaruan.com/home/masih-terapkan-peringatan-tertulis-produsen-rokok-akan-dituntut/58447

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*