2005471Anti-rokok780x390

Menjemput Maut dengan Udut

KOMPAS.com – Rokok mengandung 4.000 zat kimia berbahaya bagi tubuh. Dengan demikian, merokok sama saja dengan membeli racun dan memasukkannya ke dalam tubuh. Hal itu menjadikan merokok sebagai faktor risiko bagi enam dari delapan penyakit penyebab utama kematian. Meski amat berbahaya bagi kesehatan, jumlah perokok di Tanah Air justru terus meningkat.

 

Sejumlah penyakit penyebab utama kematian yang dipicu kecanduan merokok, antara lain penyakit paru kronik obstruktif, penyakit jantung iskemik, penyakit kardiovaskular, dan penyakit saluran pernapasan atas. Namun, merokok sudah seperti candu bagi sebagian orang.

 

Edison Poltak Siahaan (75), mantan perokok, mengaku mulai merokok saat berusia 15 tahun. Kala itu, tahun 1953, ia bersama keluarganya berekreasi ke kawasan Puncak, Bogor. Karena hampir semua saudaranya merokok, Edison pun mencoba merokok. ”Merokok biar enggak dingin karena Puncak, saat itu, dingin sekali. Tapi, ternyata badan tetap dingin, mulut saja yang hangat,” ujarnya.

 

Lambat laun, ia pun kecanduan rokok. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok. Ia mengaku sudah berusaha berhenti merokok, tetapi tidak bisa. Semua tips berhenti merokok dari berbagai sumber sudah dicoba, tetapi tubuh tetap menagih rokok. Bagi Edison, ketagihan rokok melebihi kecanduan narkoba.

 

Hingga akhirnya pada 2001, Edison harus menjalani operasi pengangkatan kanker pada tenggorokannya yang sudah menjalar di saluran pernapasan, setelah volume suaranya mengecil. Begitu menjerat dan mengikatnya rokok sehingga Edison masih merokok sesaat sebelum menjalani operasi.

 

Kini, sebuah lubang berada di tenggorokan Edison. Lubang itu menjadi semacam lubang hidung karena ia bernapas melalui tenggorokan. ”Suara saya kecil. Saya tidak bisa menangis, tidak bisa tertawa, tidak bisa berenang. Saya menjadi orang cacat seumur hidup,” tutur Edison, Jumat (30/5).

 

Selain kecacatan yang dialaminya, Edison menuturkan, secara ekonomi, ia telah mengeluarkan banyak biaya untuk mengobati penyakit kanker yang dideritanya. Hal itu berawal dari kecanduan merokok.

 

Ketua Tim Dokter Klinik Berhenti Merokok Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta, Feni Fitriani Taufik, mengatakan, zat kimia utama yang menyebabkan kecanduan pada rokok adalah nikotin. Ketika seseorang mengisap rokok, nikotin yang terkandung dalam rokok akan masuk ke saluran pernapasan, lalu masuk ke dalam darah. Hanya diperlukan 8-10 detik bagi nikotin untuk sampai ke bagian otak.

 

Saat nikotin sampai ke otak, akan muncul reseptor yang menangkap nikotin itu dan melepaskan dopamin, neurotransmitter yang membantu mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak. Karena itu, efek yang muncul saat merokok adalah rasa nyaman dan tenang. Itulah sebabnya perokok, terutama mereka yang mengalami depresi, akan merasa nyaman. Namun, dalam 10-15 menit, kadar dopamin akan turun kembali. Rasa nyaman pun hilang.

 

Merokok berulang-ulang akan menyebabkan reseptor nikotin dalam otak kian banyak. Tubuh juga akan makin nyaman karena dopamin yang dikeluarkan tambah banyak. Pada kondisi itu, tubuh biasanya akan terus ”menagih” nikotin. Ketika seorang perokok tidak merokok, akan terasa ada yang kurang.

 

”Kalau di awal merokok, seseorang sudah merasa tidak nyaman, misalnya batuk-batuk, biasanya ia tak akan meneruskan merokok. Tetapi, kalau pertama kali merokok biasa saja atau bahkan merasa nyaman, ia akan cenderung terus merokok,” kata Feni menjelaskan.

 

Apabila seorang perokok tiba-tiba berhenti merokok, dia akan mengalami gejala sakaw. Gelisah, sakit kepala, mudah marah, emosional, bahkan depresi adalah gejala umum putus rokok. Tubuh yang sudah merasa nyaman mendapat asupan nikotin, menagih nikotin lagi.

 

Terapi berhenti merokok

Untuk itu, kini tersedia layanan medis bagi mereka yang kecanduan merokok. Salah satunya adalah Klinik Berhenti Merokok di RSUP Persahabatan. Klinik itu memiliki program bagi seorang perokok agar dapat berhenti merokok. Program yang dijalankan selama tiga bulan itu memakai metode konseling dan pengobatan.

 

Pada pertemuan pertama, pasien biasanya akan menjalani konsultasi bersama tim dokter. Tujuannya, agar dokter mengetahui profil pasien, kendala pasien dalam upaya berhenti merokok, memberikan tips bagaimana berhenti merokok, sekaligus memotivasi dan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk berhenti merokok.  Pasien juga didorong untuk menetapkan sendiri kapan akan berhenti merokok. Pada pertemuan itu, pasien sudah diberi obat.

 

Obat yang digunakan dalam terapi berhenti merokok di Klinik Berhenti Merokok itu termasuk terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy/NRT). Obat itu menghalangi nikotin menempel pada reseptor di otak, sambil mengeluarkan dopamin dalam jumlah kecil. Dosis obat akan disesuaikan sehingga di akhir program, reseptor pada otak kembali normal dan tak menagih nikotin.

 

Untuk mengetahui sejauh mana kedisiplinan berhenti merokok, pasien diperiksa dengan alat yang bisa menghitung kadar karbon monoksida (CO) dalam udara pernapasan dan darah pasien. Kadar CO seorang perokok minimal 4 ppm (part per million). Pasien di klinik berhenti merokok RSUP Persahabatan pernah ada yang memiliki kadar CO hingga 15 ppm. Pasien itu mampu menghabiskan rokok tiga bungkus sehari. Setelah mengikuti program berhenti merokok dengan tekad kuat, ia akhirnya bisa mencapai kadar CO 3 ppm.

 

Selain minum obat, ada juga sejumlah metode terapi yang dapat dilakukan dalam program berhenti merokok, antara lain hipnoterapi dan akupunktur. Di Klinik Berhenti Merokok RSUP Persahabatan dua metode ini menjadi metode tambahan saja.

 

Sebenarnya, tidak perlu berobat ke rumah sakit jika ingin berhenti merokok. Berhenti merokok bisa dilakukan sendiri oleh si perokok. Syaratnya, tekad kuat dan disiplin.

 

Namun, diakui, tak semua orang mampu melakukan itu. Menurut Feni, bagi mereka yang memutuskan ikut program berhenti merokok di layanan kesehatan, kuncinya adalah dukungan dari lingkungan terdekat, baik lingkungan keluarga, tempat kerja, dan pergaulan sosial. ”Biasanya pasien menyerah saat sakaw. Karena itu, perlu dukungan dari lingkungan terdekat,” kata dia.

 

Oleh karena itu, sebaiknya pasien yang mengikuti program berhenti merokok didampingi saat berkunjung ke rumah sakit. Selama ini, pasien Klinik Berhenti Merokok di RSUP Persahabatan kebanyakan dari kalangan mampu secara ekonomi.

 

Ke depan, Feni menyatakan, layanan berhenti merokok sebaiknya tersedia di layanan kesehatan tingkat pertama. Jika membutuhkan rujukan, baru pasien berobat ke rumah sakit.

 

Biasanya, perokok akan berhenti merokok ketika menderita penyakit tertentu, seperti kanker dan penyakit jantung. Padahal, akan lebih baik jika tak mencoba rokok sejak awal.

 

Edison mengingatkan, jangan pernah mencoba merokok. Sekali merokok, kita akan kecanduan dan sulit berhenti mengisapnya. Sekali kita merokok, perlahan tetapi pasti, zat berbahaya dalam rokok akan menggerogoti tubuh hingga berujung kesakitan, bahkan menjemput maut.
(Adhitya Ramadhan)

 

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2014/05/31/1557437/Menjemput.Maut.dengan.Udut

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*