2111388

Menkes: Industri Rokok Penjahat Kalau Ngeyel

INILAHCOM, Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengingatkan seluruh pelaku industri dan importir tokok untuk mematuhi aturan pemasangan gambar peringatan kesehatan. Jika masih bandel, mereka tak berbeda dengan penjahat.

 

Baru 41, atau 6,1 persen, dari total 672 perusahaan rokok di Indonesia yang mengirimkan contoh gambar peringatan kesehatan di kemasan ke Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM). Pada 24 Juni, seluruh merk rokok di Indonesia harus memasang gambar peringatan itu.

 

Perusahaan-perusahaan tersebut mengirimkan contoh kemasan 208 merk rokok, atau 6,2 persen. Data BPOM menyebutkan setidaknya ada 3.353 merk rokok yang beredar di Indonesia.

 

MenkesNafsiah Mboi mengapresiasi kesadaran ini dengan industri rokok itu sudah siap menjalankan PP RI nomer 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

 

Pemerintah, dalam pasal 61 PP, memberi waktu 18 bulan sejak PP diberlakukan 24 Desember 2012 bagi perusahaan dan importir untuk menyesuaikan kemasan dengan aturan pemasangan peringatan kesehatan berupa gambar (pasal 14, pasal 15, dan pasal 17).

 

Nafsiah enggan mengomentari para perusahaan rokok yang belum menunjukkan kesiapan tersebut, namun dia menegaskan, seluruh perusahaan industri rokok dan importir harus mematuhi PP pada 24 Juni mendatang.

 

Menkes menegaskan pemerintah sudah memberi waktu lima tahun melalui UU Kesehatan nomer 36 tahun 2009. Pasal 114 menetapkan pencantuman peringatan kesehatan berbentuk tulisan yang jelas dan mudah dibaca dan disertai gambar atau bentuk lainnya.

 

“Kalau dia (industri rokok) masih ngeyel, masih bandel, penjahat lah dia. Berati dia memang tidak mau melindungi rakyat, tidak peduli kesehatan masyarakat,khususnya anak muda,” kata Nafsiah Mboi dalam jumpa pers penerapan pemasangan gambar peringatan bahaya merokok pada kemasan di Jakarta, Kamis (19/6/2014).

 

Pemasangan peringatan kesehatan berupa visual, lanjut Nafsiah, efektif membuat konsumen menahan diri untuk merokok. Sasaran utamanya adalah perokok pemula dan generasi muda yang berkeinginan merokok.

 

“Ini bisa menjadi hambatan untuk membeli rokok, khususnya para anak muda pertama kali mereka membeli rokok, maka akan timbul rasa enggan setelah melihat peringatan kesehatannya berupa visual,” ujar Nafsiah.

 

Nafsiah berharap industri dan juga importir rokok tidak hanya memikirkan keuntungan dan kelangsungan usaha. Industri rokok seharusnya mengedukasi konsumen tentang bahaya rokok.

 

“Kenapa sih anak muda kita diharapkan untuk sakit, itu kesengasaraan luar biasa kalau sakit kanker, stroke. Apalagi janin yang tidak bersalah,” ujar Menkes.[tst]

 

Sumber:
http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2111388/menkes-industri-rokok-penjahat-kalau-ngeyel#.U6O2YRZuHwI

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*