Asap rokok mematikan

Negeri Berselimut Asap Rokok

BANDA ACEH – Suasana warung kopi di Jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh tak terlalu ramai. Siang itu, hanya beberapa meja yang diisi pengunjung. Azzumar Firdhia (23) bersama teman kampusnya memilih meja paling sudut. Sambil menikmati segelas sanger (kopi dicampur gula pasir dan sedikit susu), ia membuat tugas kuliahnya.

 

Awalnya, suasana sangat menyenangkan. Tiba-tiba, mahasiswa jurusan Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh itu mendadak batuk dan mual, ketika seorang teman prianya membakar rokok. “Asap rokoknya sangat mengganggu, Zumar mual kalau cium asap rokok,” tuturnya pada Okezone beberapa waktu lalu.

 

Dia memprotes, tapi temannya bukannya berhenti, Zumar malah disembul asap rokok langsung dari mulut. Iseng tapi sangat menjengkelkan. Terpaksalah ia menutup mulut, sambil mengipas-ngipas asap. “Benci sama asap rokok. Udah kita batuk, baju yang semulanya wangi hilang juga aroma parfumnya kena asap rokok.”

 

Zumar adalah satu dari banyak warga yang merasa terganggu dengan ulah perokok ketika berada di tempat umum. Bukan saja di warung kopi, di kampus, ia juga sering tak nyaman dengan asap rokok. “Biasanya kalau di kantin. Cowok-cowok banyak yang merokok, mereka enggak peduli. Kalau sudah duduk di kantin terus ada yang merokok di samping, aku langsung pindah,” sebutnya.

 

Serupa juga dialami Syarifah Yuanda Azura (20). Sekali waktu, sepulang kuliah, ia bersama dua teman kampusnya ngopi di sebuah café kawasan Simpang Lima, Banda Aceh. Usai memesan minuman, tiba-tiba empat pria berpakaian khas kantoran duduk di meja di sampingnya.

 

Sebelum pelayan menghampiri meja itu, mereka serempak membakar rokok sambil mengobrol. Pelan, asap dari mulut mereka itu berhembus ke meja Syarifah. “Kami udah berupaya mengibas-ngibas asap yang mengarah ke kami, tapi mereka ngak ngerti juga. Akhirnya kami langsung bayar, terus pulang. Apalagi waktu itu makin ramai yang datang, bapak-bapak semua, makin banyak asap rokok,” cerita mahasiswi jurusan Bahasa Inggris FKIP Unsyiah itu.

 

Asap rokok memang sangat mengganggu bagi perokok pasif seperti Zumar dan Syarifah. Di Banda Aceh, nyaris tak ada tempat yang bebas dari asap rokok. Di RSU Zainal Abidin misalnya, meski sudah diberlakukan bebas rokok, masih saja ada warga yang merokok.

 

“Walaupun kami melarang, tetap aja ada pengunjung yang diam-diam merokok. Biasanya kalau malam yang banyak (merokok),” kata seorang petugas keamanan rumah sakit. “Kalau kami berkeras menegur, kami malah dibenci. Susah mengaturnya, kalau nggak ada kesadaran sendiri,” tambah pria itu.

 

Warung kopi yang menjamur di Ibukota Provinsi Aceh, hampir saban waktu dipenuhi asap rokok. Sambil menikmati kopi, pengunjung rata-rata merokok. Di halte, terminal, jangan tanya lagi, siapa pun bisa bebas merokok. Di stadion sepak bola, setiap pertandingan, tribun penonton juga tak luput dari asap rokok.

 

“Kalau kita cari warung yang ngak ada orang merokok susah sekali di sini. Jadi, ya terpaksalah kita ikutin aja suasana seperti ini,” tutur Nurul Fajri, warga Prada, Banda Aceh.

 

Pernah sekali waktu, Pratiwi, teman karib Nurul, berada di sebuah warung kopi. Ia mencoba menegur pria yang merokok di dekatnya. Bukannya meminta maaf, si perokok malah marah. “Kalau nggak mau kena asap rokok, jangan duduk di warung. Pulang saja kalian,” ujar Pratiwi, meniru ucapan si pria itu.

 

Tidak adanya aturan

Belum ada aturan tegas yang mengatur soal rokok di kota paling ujung Pulau Sumatera itu. Itulah yang membuat Aceh seperti surga bagi para perokok. Perokok masih bebas menyulut sigaret di mana saja, tanpa ada larangan atau sanksi tegas. Sales rokok masih bebas menjajakan produknya dari satu warung ke warung lainnya.

 

Walikota Banda Aceh Mawardi Nurdin, pada 2011 lalu, pernah mengeluarkan Peraturan Kawasan Tanpa Rokok. Tiga Perguruan Tinggi yakni Universitas Muhammadiyah, Universitas Serambi Mekkah dan Politiknik Aceh ikut serta menandatangani perjanjian menjalankan aturan itu. Namun tetap saja ada yang merokok di kawasan ini.

 

Hanya pelarangan terhadap perusahaan rokok mensponsori kegiatan olahraga yang mulai berjalan di Banda Aceh. Dimana, Pemkot tak mengizinkan setiap kegiatan dilangsungkan di taman-taman kota, bila itu disponsori rokok. Namun, sponsor rokok tetap masih bisa menggelar kegiatan di kawasan lain, seperti di Lapangan Blang Padang yang kini hak pakainya berada di bawah Kodam Iskandar Muda.

 

Nongkrong di warung kopi yang sudah mentradisi di Aceh, seolah menempatkan rokok sebagai sesuatu pelengkap. “Ngopi tanpa rokok, sama aja hambar,” kata Jafaruddin (29). Penjual pulsa di kawasan jalan AMD, BandaAceh ini mengaku, bisa menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok sehari.

 

Merokok sudah merambah semua lini, bukan saja perilaku orang dewasa. Siswa SMA juga mulai akrab dengan rokok. Pemandangan ini jelas terlihat di warung-warung internet dan rental Play Station (PS) yang sehari-hari banyak dimanfaatkan remaja bermain games, di luar waktu sekolah.

 

Seperti yang terlihat di sebuah warung internet di kawasan Batoh, Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Dengan seragam sekolah masih melekat di badan, rokok filter menancap di mulut mereka sambil memainkan setik Play Station.

 

Agus, seorang siswa sebuah SMA di Banda Aceh, mengaku, merokok bisa membuatnya terlihat lebih gagah dan gaul. Meski belum diizinkan orangtua, ia tetap merokok secara sembunyi, ketika berkumpul dengan teman-temannya. “Bencong saja merokok, masak kita nggak,” celotehnya sambil tertawa.

 

Angka perokok di provinsi itu memang tinggi, dengan mayoritas pelakunya laki-laki. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI pada 2010, perokok aktiv di Provinsi Aceh mencapai 37,1 persen, berada di atas rata-rata nasional yang hanya 34,7 persen. Rata-rata mereka mengisap 10 hingga 30 batang rokok per hari.

 

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Banda Aceh, Media Yulizar, angka ini meningkat tajam dibanding data riset 2007, yang rata-rata menghabiskan 19 batang rokok per hari. “Delapan dari 10 laki-laki di Aceh adalah perokok,” katanya.

 

Secara global, Indonesia menduduki peringkat ketiga Negara dengan perokok terbanyak di dunia setelah China dan India yaitu sebesar 36,1 persen dari total penduduk (GTS 2012). Tobacco Atlas pada tahun lalu merilis, masyarakat Indonesia menghisap hingga 260 miliar batang rokok pada 2009, meningkat tajam dari 2001 yang hanya 182 miliar batang. Tingkat produksi rokok sendiri terus meningkat. Pada 2011 sudah mencapai 270 milyar batang.

 

Konsultan Kesehatan Anak di RSU Zainal Abidin Banda Aceh yang aktif mengkampanyekan bahaya rokok, dr. Teuku Muhammad Thaib mengatakan, bayi atau anak yang orangtuanya merokok sangat rentan terkena penyakit. Bukan hanya akibat terkena asap rokok secara langsung, risidu beracun dari asap yang tertempel dibaju orangtuanya juga bermasalah bagi kesehatan si anak.

 

“Biasanya kita para orangtua habis pulang entah dari mana, langsung menggendong anak. Kita tidak sadar kalau baju kadang sudah tertempel residu beracun yang bisa terhirup anak kita. Itu sangat bahaya bagi kesehatan si anak,” jelas Thaib.

 

Tak ada satu pun organ dalam tubuh yang tak terpengaruh asap rokok. Dalam satu batang rokok setidaknya mengandung 4.000 senyawa kimia. 40 diantaranya termasuk racun (toksin) dan zat yang bisa menyebabkan kanker (karsinogenik). Zat itu, salah satunya bisa menyebabkan kanker paru-paru, dimana asap rokok bisa masuk secara langsung ke organ vital pernapasan manusia dan merangsang sel di paru-paru hingga rusak.

 

Sebuah studi menyebutkan, kata Thaib, banyak warga Aceh mengalami penyakit stroke,serangan jantung, tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes dan paru-paru yang salah satunya disebabkan oleh rokok. Selain banyak makan makanan berminyak atau berlemak, serta rendahnya mengonsumsi sayur.

 

“Saya tidak memiliki persentasenya, tapi stroke, penyakit jantung, hipertensi, diabetes itu sangat tinggi di Aceh. Salah satu penyebabnya adalah rokok,”sebutnya.

 

Kematian akibat merokok di Indonesia, kini menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah China dan India, dengan rata-rata mencapai 239 ribu jiwa per tahun. Angka ini diyakini mengalahkan kematian akibat persalinan yang kini menjadi perhatian dunia international.

 

Bukan hanya Indonesia, kebiasaan buruk merokok juga diprediksi akan menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat secara global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, rokok akan membunuh lebih dari 6,4 juta orang setiap tahun mulai 2015 atau berperan 10 persen kematian di seluruh dunia. Jumlah ini bahkan bisa mengungguli kematian akibat virus Human Immunodeficiency Virus (HIV), penyebab AIDS.

 

Merokok bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga berpengaruh pada sosial ekonomi masyarakat. Di Provinsi Aceh misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rokok ikut menyumbang andil besar terhadap kemiskinan.
Dari Rp330 ribu pendapatan per kapita warga Aceh per bulan, 12,70 persen diantaranya digunakan untuk membeli rokok setiap bulan.

 

Kepala Bidang Satistik Sosial BPS Aceh, Ruslan mengatakan, rokok menjadi kebutuhan kedua penduduk miskin setelah beras. “Kebutuhan penduduk miskin pertama adalah beras. Rokok berada diperingkat kedua sebagai pengeluaran terbanyak setiap bulan,” sebutnya.

 

Menurutnya, ini fakta yang mengkhawatirkan. Rokok bukanlah komoditas yang mengandung kalori bagi masyarakat, tapi sudah dijadikan kebutuhan yang harus ada setiap hari.

 

Upaya melindungi perokok pasif

 

Merokok makin membudaya. Budaya patriarki yang dianut mayoritas warga, menempatkan pria sebagai penguasa. Bagi kaum adam, merokok dianggap sebagai hal lumrah. Sementara bagi perempuan, merokok dianggap stigma, sehingga mereka juga kerap tak kuasa menegur perokok pria.

 

Menurut Direktur Pusat Studi Pengendalian Rokok (CTSC), Rizanna Rosemary, hal ini menjadi salah satu alasan sulitnya melarang orang merokok, khususnya di Aceh. Kondisi ini makin diperparah dengan perilaku orangtua yang sering menyuruh anaknya membeli rokok.

 

“Inikan akan ada proses imitasi (meniru). Jadi keluarga ada yang merokok, anaknya akan ikut merokok juga,” ujar dosen FISIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh itu yang aktif mengkampanyekan antirokok.

 

Sekarang ini, kata Rizanna, sosialisasi terhadap bahaya rokok masih sedikit, dibanding pesan mengajak orang membeli rokok. Pengaruh iklan rokok yang membangun citra jantan dan perkasa, ikut mendorong orang merokok.

 

“Kalau belum merokok kamu itu seolah tidak jantan. Jadi, pencitraan yang dibuat media atas pesan rokok ini semakin menyulitkan orang yang tergantung dengan rokok, untuk meninggalkan rokok,” sebutnya.

 

Rizanna menilai pendidikan antirokok sangat perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Hal ini untuk meminimalisasi munculnya perokok dini. “Ruang muatan lokal dalam kurikulum sekolah, bisa dimanfaatkan untuk memasukkan pendidikan antirokok ini kepada siswa.”

 

Menjawab permasalahan rokok yang makin mengkhawatirkan, Pemerintah Kota Banda Aceh kini sedang menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Qanun) Kawasan Tanpa Rokok yang nantinya akan diterapkan untuk mengganti Peraturan Wali Kota yang kurang berjalan.

 

Sektretaris Daerah Kota Banda Aceh Saifuddin mengatakan, aturan ini bukanlah untuk melarang orang merokok secara menyeluruh, namun lebih kepada upaya melindungi perokok pasif dari asap rokok, khususnya ketika berada di tempat-tempat umum.

 

“Kita bukan melarang orang merokok, tapi mencoba melindungi orang yang tidak merokok dari asap rokok. Bagi orang yang tidak merokok, mereka sangat benci asap rokok,” ujar Saifuddin.

 

Dalam rancangan qanun yang disusun Dinas Kesehatan Banda Aceh itu, tak secara tegas mengatur larangan merokok di warung kopi, lokasi paling banyak dimanfaatkan perokok di Aceh sekarang. Rancangan itu hanya mengatur kawasan bebas rokok meliputi sarana kesehatan, tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah, tempat kerja, sarana olahraga, angkutan umum dan tempat umum yang tertutup.

 

Jika kedapatan merokok di tempat dimaksud akan dikenakan sanksi pidana penjara paling lama tiga hari atau denda maksimal Rp50 ribu. Setiap orang atau perusahaan yang menjual, mengiklan atau membeli rokok di area itu juga diancam penjara tujuh hari atau denda maksimal Rp5 juta. Selanjutnya jika pengelola kawasan bebas rokok luput mengawasi larangan itu maka ia bisa pidana 15 hari penjara atau denda hingga Rp10 juta.

 

“Hal-hal yang tidak diatur dalam qanun ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Wali Kota,” kata Media Yulizar, Kepala Dinas Kesehatan Banda Aceh.

 

Rizanna menilai qanun yang sifatnya hanya tingkat daerah, tak cukup untuk menyelamatkan anak bangsa ini dari pengaruh buruk rokok. “Perlu aturan lebih luas dan tegas lagi dari Negara.”

 

Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, yang disahkan akhir tahun lalu, dinilai belum efektif berjalan.

 

Sejumlah pihak kini mendesak agar pemerintah meratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (KKPT), untuk mengatur diantaranya konsumsi rokok melalui mekanisme pengendalian harga, pajak, promosi hingga penjualan pada anak di bawah umur. Ratifikasi ini dinilai menjadi solusi menekan konsumsi rokok.

 

Banyak yang mendukung, tapi tak sedikit yang menolak ratifikasi KKPT karena dinilai akan berdampak pada kehidupan petani tembakau dan industri rokok yang ikut menampung tenaga kerja serta mengeluarkan pajak negara.
(ris)

 

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2013/11/08/340/894078/negeri-berselimut-asap-rokok

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*