aksiantirokok-masrizal

Pemuda Minta Pemerintah Sigap Tangani Perokok di Aceh

PULUHAN mahasiswa, pelajar, dan pemuda Aceh yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Aceh Anti Rokok (APAAR), meminta pemerintah serius menangani masalah rokok di Aceh. Berdasarkan riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2010, perokok aktif di Aceh mencapai 37,1 persen.

 

“Angka perokok di Provinsi Aceh cukup tinggi dengan mayoritas pelakunya generasi muda. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang hanya 34,7 persen. Rata-rata mereka menghisap 10 hingga 30 batang rokok per hari,” kata Koordinator aksi, Andika Ichsan dalam aksi damai memperingati hari tanpa tembakau se-dunia di Simpang Lima Banda Aceh, Sabtu, 31 Mei 2014. Pantauan ATJEHPOSTcom, massa turut mengusung spanduk dan sejumlah poster yang bertuliskan “Stop Merokok: Seharusnya Bukan Hari Ini, Berhentilah Merokok Selamanya” dan sejumlah pesan lainnya.

 

Selain itu, massa juga membakar ilustrasi rokok yang sudah ditempelkan lembaran uang, sebagai bentuk penolakan terhadap rokok. Secara global, kata Andika, Indonesia menduduki peringkat empat sebagai negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia setelah China, Amerika Serikat, dan Rusia. Bahkan berdasarkan rilis Tabacco Atlas pada tahun lalu, masyarakat Indonesia menghisap hingga 260,8 miliar batang rokok pada 2009. Hal ini meningkat tajam dari tahun 2001 yang hanya menghisap 182 miliar batang rokok. Selain itu, Indonesia juga menempati urutan ketiga di dunia jumlah terbanyak kematian akibat merokok setelah China dan India. Adapun jumlah rata-rata kematian mencapai 239 jiwa per tahun.

 

“Angka ini diyakini mengalahkan kematian akibat persalinan yang kini menjadi perhatian dunia internasional,” katanya. Bahkan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, rokok akan membunuh lebih dari 6,4 juta orang setiap tahun, mulai 2015 atau 10 persen kematian di seluruh dunia.

 

“Jumlah ini bahkan bisa mengungguli kematian akibat virus HIV dan AIDS,” ujar dia. Menurutnya dalam sebatang rokok setidaknya mengandung 4000 senyawa kimia. Empat puluh di antaranya termasuk racun (toksin) dan zat yang bisa menyebabkan kanker (karsinogenik). “Zat itu bisa menyebabkan kanker paru-paru, dimana asap rokok bisa masuk secara langsung ke organ vital pernapasan manusia dan merangsang sel paru-paru hingga rusak,” ujarnya. Selama ini, dia menilai pemerintah kurang serius menanggapi bahaya rokok di Aceh.

 

Penetapan kawasan bebas rokok (KBR) menjadi salah satu buktinya. “Kenyataannya masih ada di kawasan tersebut diisi oleh para perokok. Jadi pemerintah harus ada optimalisasi lebih lanjut,” kata Andika. Dia mengajak masyarakat Aceh untuk mewaspadai iklan rokok yang dapat mempengaruhi generasi bangsa.

 

“Harapan kami bagaimana masyarakat mampu menangkap pesan-pesan yang disampaikan agar tercipta kesadaran untuk menghindari rokok serta mewasapadai iklan, prolbamosi, dan sponsorship dari perusahaan rokok.” Aliansi Pemuda Aceh Anti Rokok (APAAR) tergabung dari CTCS Aceh, IPM Aceh, PII Aceh, Aneuk Atjeh Anti Rokok (A3R), BEM FK USK, BEM FKM Unmuha, BEM FK Unaya, Rumah Zakat, Senat Akbid Muhammadiyah, BEM FE Unmuha, BEM PSIK USK, BEM Poltekkes, BEM FKM YHB, Stikes U’Budiyah, ISMKMI Aceh, IMM Banda Aceh, BEM FKM USM, BEM FKM Unaya, BEM FKG Unsyiah, PSMKGI, Osis se-Banda Aceh dan Aceh Besar

 

Sumber:
http://atjehpost.com/articles/read/4874/Pemuda-Minta-Pemerintah-Sigap-Tangani-Perokok-di-Aceh

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*