11407057_10204437253236566_7917576582611561234_n

Penemuan kegiatan edukasi dampak rokok remaja SMP, intervensi harus lebih dari penyuluhan

Sebagai upaya pencegahan dampak dan perilaku merokok pada remaja, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) berinisiatif mengembangkan model edukasi dampak rokok untuk remaja Sekolah Menengah Pertama (SMP) di DKI Jakarta. Kegiatan dilakukan dengan kolaborasi beberapa organisasi serta dukungan Dinas Kesehatan serta rekomendasi Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Sebagai tahap awal, edukasi dampak rokok dengan metode pelatihan tutor sebaya telah dilakukan di SMPN 113 Jakarta Utara dan akan dilakukan di SMP Al- Izhar. Hasil dari kegiatan ini menekankan pada pentingnya intervensi lingkungan yang komprehensif untuk mendukung upaya penyuluhan edukasi dampak rokok remaja.

Model edukasi dampak rokok dengan metode pelatihan tutor sebaya dikembangkan atas dasar pemetaan kebutuhan.  Kegiatan dimulai dengan pemilihan 20 tutor sebaya oleh guru dan teman-teman sekelasnya, dilanjutkan pelatihan tiga hari. Materi pelatihan terdiri dari kandungan dalam rokok, dampak iklan rokok, harga yang harus dibayar apabila merokok, pelajar adalah perokok pengganti, teknik membuat kampanye kreatif, serta materi kepemimpinan dan komunikasi. Pelatihan ditutup dengan acara bersama pelajar dari SMP lain sebagai bentuk apresiasi dan dukungan moral. Semua kegiatan dilakukan secara interakif dengan banyak menggunakan permainan menyenangkan.

 11407057_10204437253236566_7917576582611561234_n

Pelatihan Tutor Sebaya di SMPN 113 Jakarta

Secara umum, faktor yang paling menentukan perilaku merokok remaja adalah perilaku merokok teman sebaya dan orang tua, paparan iklan rokok, penerimaan bahwa perilaku merokok adalah hal yang wajar di lingkungannya, perasaan cemas, depresi; dan kemudahan akses membeli rokok[1]. Selama pelaksanaan kegiatan, CISDI menemukan banyak hal menarik dimana hampir seluruh faktor yang menentukan perilaku merokok tersebut sangat akrab dengan lingkungan pelajar SMPN 113.

Lingkungan SMPN 113 adalah area padat kumuh yang sangat terpapar dengan iklan rokok. Kurang dari 500 meter memasuki gerbang sekolah SMPN 113, setidaknya ada 30 iklan rokok dalam bentuk poster dan spanduk.  Pada materi “Dampak Iklan Rokok”, tutor sebaya diminta untuk menghitung iklan rokok yang mereka lihat dari gerbang sekolah hingga ke rumah masing-masing. Hasilnya, jumlah iklan rokok yang dilihat tutor sebaya dalam sekali jalan bervariasi dari 7 – 30 dengan rerata 15 iklan. Artinya, seorang pelajar SMPN 113 setidaknya terpapar 30 iklan rokok setiap harinya. Selain itu di SMPN 113, 6 dari 10 pelajar mengetahui orang tuanya merokok, dan 7 dari 10 pelajar mengetahui teman dekatnya merokok[2]. Beberapa tutor sebaya juga mengaku dapat membeli rokok dengan mudah secara ‘ketengan’, dan seringkali diledek oleh teman-temannya, bahkan oleh tantenya, apabila menolak untuk merokok.

Tingginya paparan iklan rokok dan akrabnya aktivitas merokok di lingkungan dekat pelajar, semakin menunjukkan bahwa upaya pencegahan perilaku merokok di pelajar SMP memerlukan intervensi sistemik dan komprehensif. Intervensi sebatas penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman dan pengertian pelajar tidak akan efektif tanpa adanya upaya yang menyasar pada perubahan lingkungan.

 11145556_10204437253316568_8875496146025595818_n

Tutor Sebaya sedang memberikan tanggapan dalam acara Smoke Free Generation

Para tutor sebaya yang sudah terlatih dapat menjadi sumber terpercaya untuk menyebarkan informasi dampak rokok di lingkungan sekelilingnya. Namun, tanggung jawab ini tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, keterlibatan guru, orang tua, puskesmas, media, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, dan pejabat pemerintah menjadi sangat penting dalam menentukan keberhasilan upaya tindak lanjut.

Penyuluhan dampak rokok dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan merubah persepsi positif perilaku merokok di kalangan remaja. Penyuluhan yang terbukti efektif pada level individu harus ditranslasikan menjadi kampanye massal yang berkelanjutan dan didukung oleh intervensi lainnya di dalam dan sekitar lingkungan sekolah. Koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk menentukan langkah selanjutnya menjadi sangat penting apabila kita benar-benar ingin melindungi pelajar dari bahaya rokok dan mencegah perilaku merokok pada remaja.


[2] Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives. Survey pengetahuan, perilaku, dan persepsi pelajar SMP Negeri 113 terkait rokok. Jakarta: 2015.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*