tana-toraja-dapat-bagi-hasil-pajak-rokok-rp6-2-m-OfF

Penggunaan LIK Rp 22,3 Miliar Pasang Surut

KUDUS, suaramerdeka.com – Aktivitas produksi rokok di Lingkungan Industri Kecil Industri Hasil Tembakau (LIK IHT) di Desa Megawon, Kecamatan Jati, tidak terlihat setiap hari.
Namun, keberadaan sarana yang dibangun dengan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 22,3 miliar tahun 2011 dibantah mangkrak. Alasannya, dari sebelas brak berukuran 200 meter di dalamnya semuanya sudah disewa.

 

Pelaksana tugas Kadinas Perindustrian Koperasi dan UMKM, Bambang Tri Waluyo, didampingi Kabid Perindustrian, Kusnaeni, mengemukakan hal tersebut kepada Suara Merdeka, Senin (1/9). Menurutnya, aktivitas produksi sepi karena terkait kelesuan usaha rokok yang dialami penyewanya.

 

”Mereka hanya beraktivitas saat ada pesanan saja,” katanya.

 

Menurutnya, sejumlah pembenahan juga perlu dilakukan. Dia mengklaim telah memperbaiki sejumlah sarana yang rusak di tempat tersebut. Selanjutnya, akan dilakukan pembenahan pada sistem penyewaannya.

 

Selama ini muncul kabar satu penyewa dapat ”menguasai” hingga empat brak sekaligus. Kabar lainnya, tempat tersebut digunakan untuk sarana pergudangan tembakau oleh penyewa. Pihaknya mengakui hal tersebut dan akan menertibkannya.

 

Kusnaeni juga menyebut ada sejumlah penyewa yang masih belum memenuhi kewajiban sewanya. Pihaknya bahkan telah berkonsultasi dengan pejabat di tingkat Pemkab untuk mempersiapkan surat peringatan. ”Bahkan, yang selama selama ini keras mengkritisi justru belum memenuhi kewajiban sewa braknya,” ungkapnya.

( Anton WH / CN39 / SMNetwork )

 

Sumber:
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_muria/2014/09/02/215279/Penggunaan-LIK-Rp-223-Miliar-Pasang-Surut

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*