v6VRJoK7xI

Petani Gugat Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Petani tembakau di beberapa daerah asal DIY menggugat Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT) ke Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta. Hal itu lantaran nama forum tersebut dinilai menyudutkan petani tembakau.
Daru Supriyoko, pengacara petani tembakau mengatakan, penyebutan kata ‘Sehat Tanpa Tembakau’ dinilai telah menyudutkan petani yang menggantungkan hidupnya pada bahan baku rokok itu. Dari nama tersebut terkesan wilayah Yogyakarta menjadi sehat jika tembakau tidak ada.

 

“Dengan nama Jogja Sehat Tanpa Tembakau berarti propinsi ini bebas dari penyakit dengan menghilangkan tembakau. Atau Daerah Istimewa Yogyakarta adalah provinsi yang tidak bebas dari sakit karena adanya tanaman tembakau,” katanya seusai mediasi di PN Yogyakarta, Rabu (2/7/2014).

 

Dalam materi gugatannya, Daru menyebut penggunaan kata ‘Jogja Sehat Tanpa Tembakau’ merupakan pelanggaran terhadap kepentingan dan hak petani tembakau. Hal tersebut berdampak opini masyarakat bahwa tanaman tembakau tidak memiliki manfaat sama sekali. Pun mengakibatkan masyarakat Yogyakarta tidak sehat karena tembakau.

 

“Kendati tidak ada aturan dalam pemberian nama sebuah organisasi, tetapi seharusnya perlu ada pertimbangan agar tidak merugikan pihak lainnya termasuk pelanggaran hukum di masyarakat,” ungkapnya.

 

Meskipun pihak JSTT menyebut penggunaan nama tersebut tidak ada kaitannya dengan petani tembakau, namun pihaknya menanyakan mengapa pihak JSTT tidak menggunakan nama yang berkaitan dengan produk turunan tembakau seperti rokok. Menurutnya, jika menggunakan kata rokok justru akan tepat sesuai dengan misi JSTT.

 

“Jika menggunakan kata rokok, kemungkinan lembaga itu akan berhadapan langsung dengan produsen rokok, sehingga tepat sasaran,” paparnya.
Dalam gugatannya itu, ia juga menyebutkan sejak Jogja Sehat Tanpa tembakau 2010 berdiri, pendapatan para petani menurun. Secara signifikan harga jual tembakau turun. Dalam satu tahun petani bisa panen satu kali dengan delapan kali petik. Harga tembakau Rp70 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.

 

Bahkan Daru mengklaim setiap 1.000 meter persegi, sebelum adanya JSTT, pendapatan bersih petani Rp5,3 juta. Setelah ada lembaga yang berkampanye antirokok itu pendapatan petani menjadi Rp3,9 juta, atau turun Rp1,4 juta.

 

“Untuk itu, kami juga mengajukan gugatan secara materi senilai Rp280 juta, dihitung dari kerugian dikalikan luas 200 ribu meter persegi. Kerugian immateril Rp1 miliar untuk beban moral,” imbuhnya.

 

Gugatan diajukan ke PN Yogyakarta dengan tergugat Soegito selaku Ketua Forum JSTT. Sementara petani tembakau yang menggugat adalah Suwarji, Sukimin, Panuwun Widiharjono dan Suratmin. Mereka merupakan petani tembakau dari Sleman, Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo.

 

Meski digugat, Soegito yang merupakan ketua Forum JSTT periode 2011-2013 itu tetap teguh dalam penggunaan nama tersebut. Pasalnya JSTT tidak pernah mengusik petani tembakau namun lebih menyasar pada penggunaan rokok.

 

“Jangan dilihat namanya, tetapi apa yang kami lakukan, lagi pula kalau nama orang Slamet juga tidak ada jaminan ia jatuh tidak terluka,” kata Soegito.(Tribunjogja.com)

 

Sumber:
http://jogja.tribunnews.com/2014/07/03/petani-gugat-forum-jogja-sehat-tanpa-tembakau/

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*