020214aksi-rokok

Promosi Rokok Harus Diimbangi Peringatan Dampak Merokok

 

JAKARTA, (PRLM).- Maraknya promosi rokok di Indonesia telah menciptakan persepsi publik yang membahayakan, bahwa merokok merupakan suatu perilaku sosial yang lazim dilakukan. Padahal, merokok memiliki risiko kesehatan yang tinggi, baik bagi perokok aktif maupun pasif.

 

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengatakan, konsumsi rokok di Indonesia telah meningkat secara signifikan. Prevalensi perokok aktif yang sebelumnya 34,4% , sekarang menjadi 37%.

 

“Selain itu, hampir 2/3 pria Indonesia merokok. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, pada kelompok remaja yakni 15-19 tahun, angkanya meningkat sampai tiga kali lipat. Dari sekitar 7% pada 1990-an menjadi sekitar 20% berdasarkan data terakhir. Angka ini tentu memperihatinkan, karena merokok membahayakan kesehatan dan sebenarnya dapat dicegah,” katanya di Jakarta, Minggu (2/2/2014).

 

Peningkatan drastis jumlah perokok di kalangan anak-anak dan remaja, menurutnya, disebabkan karena mereka mencontoh perilaku orang tua dan idolanya yang merokok. Selain itu, iklan rokok juga dianggap memberikan pengaruh yang kuat.

 

Oleh karena itu, penerbitan Permenkes No. 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau diharapkan dapat kian menyadarkan masyarakat akan bahaya merokok. Peraturan yang dikeluarkan Kemenkes itu akan diterapkan bagi seluruh perusahaan rokok mulai 24 Juni 2014.

 

“Memang data menunjukkan tidak bisa satu-satu. Pemasangan tanda gambar pada bungkus rokok harus dijalankan bersama-sama dengan upaya pencegahan lainnya. Namun peringatan dalam bentuk gambar memang salah satu yang belum kita miliki. Diharapkan, ini akan melengkapi peraturan-peraturan yang lain, sehingga orang makin sadar dengan bahaya merokok,” tuturnya.

 

Ketua Umum Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo mengatakan, penyertaan gambar-gambar dampak merokok pada kemasan rokok akan efektif untuk menekan jumlah perokok.

 

“Ini adalah bagian dari cara orang untuk menangkap impresi awal, sebagaimana orang-orang menangkap image tertentu dalam iklan rokok,” ucapnya.

 

Walaupun menilai Indonesia terlambat memberlakukan aturan pemasangan gambar di bungkus rokok, advokasi dalam bentuk regulasi diyakini bisa semakin membatasi orang-orang untuk merokok.

 

“Walaupun kita sudah punya Peraturan Pemerintah No. 109, tapi akan lebih kuat lagi kalau ada payung hukum internasional yang juga kita pegang, perusahaan rokok harus mengikuti peraturannya,” ujarnya. (A-203/A-89)***

 

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/node/268353

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*