Kawasan Sehat Tanpa Rokok (KSTR) 11092014

Raperda Tanpa Rokok Jadi Prioritas

SAMARINDA – Sungguh memprihatinkan! Berdasarkan riset kesehatan dasar 2013 terungkap, anak usia 5-9 tahun mulai merokok. Padahal, berbagai racun yang terkandung dalam rokok tidak hanya menjadi ancaman kesehatan bagi perokok aktif. Lebih parah adalah perokok pasif.

Guna mempersempit gangguan kesehatan yang ditimbulkan akibat perokok pasif, pemerintah mengeluarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 1 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Sayangnya selain waktu yang terbatas, juga belum didukung payung hukum berupa peraturan daerah (perda).
Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Kaltim Edy Kurniawan mengatakan, raperda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi prioritas DPRD Kaltim pada 2015.

“Pembahasan Raperda KTR terlebih dulu diagendakan Badan Legislatif (Banleg). Insya Allah setelah Banleg terbentuk, perda tersebut menjadi prioritas pembahasan,” ucapnya.

Sejauh ini dia mengaku, sangat mendukung rencana pemerintah meminimalkan pecandu rokok dengan mengeluarkan raperda KTR. Dalam rancangan peraturan daerah tersebut, mempertegas sanksi yang akan diberikan bagi perokok.

“Secara pribadi sangat mendukung raperda tersebut, jangan sampai perokok merampas hak mereka yang menginginkan udara terbebas dari racun yang dibawa asap rokok. Paling tidak jangan merokok di tempat umum,” tegasnya.

Dikatakan politikus PDI Perjuangan tersebut, jika merujuk kepada daerah lain di Indonesia, Kaltim termasuk tertinggal terkait dengan Perda Kawasan Tanpa Rokok. Kalimantan Selatan misalnya, lebih dulu memiliki payung hukum setingkat perda, mengatur larangan merokok di areal publik.

“Tidak ada kata terlambat, jika pemerintah mengurangi pengguna rokok dengan cara mempersempit ruang gerak perokok. Terlebih seperti menjadi pemandangan melihat anak-anak dan remaja merokok di areal umum,” bebernya.

Menurutnya larangan tidak merokok tidak bersifat baku. Hanya pada tempat umum, pemerintah harus mencarikan solusi agar tidak merampas hak perokok dengan menyediakan areal khusus bagi perokok.

“Hingga saat ini masalah merokok di dalam ruangan salah satu dari tiga masalah utama perilaku hidup bersih dan sehat. Terpenting, meningkatkan kesadaran perokok aktif merokok tidak pada tempat umum seperti kantor, sekolah, tempat ibadah, serta pusat perbelanjaan,” pungkasnya. (adv/lin/oke/waz/k11)

Sumber:
http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/107755-raperda-tanpa-rokok-jadi-prioritas.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*