073413_rokok4

Regulasi Kurang Tegas, Bonus Demografi Bisa Jadi ‘Musibah’ karena Rokok

Jakarta, Pada tahun 2020-2030 Indonesia diprediksi akan memasuki fase bonus demografi di mana penduduk umur produktif sangat besar. Agar bonus demografi dapat bermanfaat maksimal, anak sebagai generasi mendatang harus dapat tumbuh optimal. Sayangnya pertumbuhan tersebut kini terancam oleh masalah kesehatan akibat rokok.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 oleh Kementerian Kesehatan, sebanyak 43 juta anak terpapar asap rokok di mana 11,4 juta di antaranya berusia 0-4 tahun. Lebih jauh sebesar 81 persen anak sekolah terpapar asap rokok di tempat umum.

Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia, Hery Chariansyah, SH, mengatakan padahal untuk mencapai bonus demografi diperlukan generasi yang sehat dan berkualitas. Bila anak-anak dan remaja yang seharusnya menjadi generasi produktif terpengaruh oleh zat berbahaya yang terkandung pada rokok, ia mengkhawatirkan anak-anak tersebut nantinya hanya akan menjadi beban.

Berbagai penyakit tidak menular seperti kanker dikhawatirkan akan mengancam jika anak sudah terekspos oleh rokok sejak dini. Nantinya saat anak tersebut memasuki usia produktif, kinerjanya akan terhambat karena penyakit terkait rokok yang ia idap.

“Terkait bonus demografi kalau pemerintah tidak mengendalikan rokok dengan maksimal, tidak memberikan anak kesempatan tumbuh kembang secara maksimal, saya kira nanti 2030 itu bukan bonus demografi tapi musibah demografi bagi bangsa ini,” kata Hery saat ditemui pada diskusi nasional urgensi FCTC di Hotel Akmani, Jakarta, dan ditulis pada Selasa (16/9/2014).

Hery mengatakan pemerintah wajib melindungi anak-anak terhadap bahaya rokok. Menurutnya pemerintah kurang memberikan regulasi yang kuat terkait industri rokok. Industri masih dapat dengan mudahnya mempengaruhi anak-anak lewat media dan program sponsor.

“Berbagai upaya telah mereka (industri rokok -red) lakukan mulai dari masifnya iklan rokok di media, menjadi sponsor acara musik dan olahraga, serta menjadi sponsor kegiatan pentas seni dan olahraga sekolah. Muara dari upaya tersebut adalah menjadikan rokok sebagai teman dan sehabat sejati bagi anak dan remaja,” tutup Herry.

(ajg/ajg)

Sumber:
http://health.detik.com/read/2014/09/16/073300/2691200/763/regulasi-kurang-tegas-bonus-demografi-bisa-jadi-musibah-karena-rokok?991104topnews

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*