dilarang-merokok

Ribuan Remaja Babel Terbiasa Merokok

PANGKALPINANG, BANGKA POS – Hasil riset Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2013 lalu menemukan data-data banyaknya anak usia remaja di Provinsi Babel yang memiliki kebiasaan merokok. Data riset kesehatan tahun 2013 tersebut memperkirakan jumlah perokok pada rentang usia 5-19 tahun di Babel mencapai sekitar 64,1 persen atau sekitar 70.586 anak yang menjadi perokok aktif.
Jumlah 64,1 persen tersebut terdiri dari anak di rentang usia 5-9 tahun sebanyak 1,1 persen dari 130.958 jiwa, usia 10-14 tahun sebanyak 12,5 persen dari 115.990 jiwa, dan usia 15-19 tahun pada jumlah terbanyak yakni 50,5 persen dari 108.214 jiwa.

 

Penelusuran Bangka Pos pada Sabtu (5/7) lalu menemukan seorang pelajar sebuah sekolah menengah pertama di Pangkalpinang, sebut saja namanya Onel, yang sudah asyik menikmati rokok pada usianya yang masih 14 tahun. Onel mengaku merokok karena meniru temannya.

 

“Kawan-kawan saya dulu perokok. Saya kepengen juga terus ya mencoba. Sekarang sudah biasa,” kata Onel.

 

Orangtua Onel tidak tahu perilaku anaknya ini. Padahal dalam sehari siswa SMP ini mampu menyedot hampir sebungkus rokok jenis mild. Onel malah menyebut terkadang ia bisa merokok lebih dari satu bungkus.

 

“Rokoknya kadang di sekolah, sembunyi-sembunyi. Kebanyakan merokok kalau sudah pulang sekolah, di rumah atau lagi ngumpul sama kawan-kawan,” kata Onel.

 

Bangka Pos juga menjumpai seorang remaja putri, Miranda (bukan nama sebenarnya) yang tak canggung merokok di usianya yang 17 tahun. Siswi sebuah SMA swasta di Pangkalpinang ini menyebut dirinya dulu mulai merokok lantaran ingin mencoba-coba.

 

“Kalau kumpul dan nongkrong sama kawan-kawan, malam Kamis atau malam Minggu, semua ngerokok. Saya dulu coba-coba. Penasaran,” tutur Miranda.
Miranda mengaku biasa merokok sewaktu berkumpul bersama teman-temannya. Ia tidak berani merokok di rumah karena takut orangtuanya marah.

 

“Kalau mau merokok tidak pernah di rumah, kebanyakan saat kumpul sama kawan-kawan atau di kos-kosan kawan,” kisah Miranda.

 

Gubernur Babel Rustam Effendi mendesak dinas pendidikan, dinas kesehatan, pihak sekolah dan orang tua, meningkatkan pengawasan untuk mencegah dan mengurangi jumlah anak yang menjadi perokok aktif.

 

“Jumlah perokok anak dan pelajar di Babel cukup besar. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Generasi masa depan kita terancam. Selain kesehatan tetapi juga masa depan anak-anak bisa terganggu. Saya khawatir mereka berawal dari merokok lalu beralih ke hal lain, seperti narkoba dan kebiasaan negatif lainnya. Maka harus diantisipasi dan dicegah,” tegas Rustam, Jumat (4/7).

 

Rustam mengatakan, sekolah telah menerapkan aturan ketat sebagai kawasan bebas rokok. Pengawasan pun mesti ditingkatkan hingga ke rumah dan di tengah masyarakat. Ia menganjurkan orang tua dan warga menegur anak di bawah umur yang kedapatan merokok.

 

“Setelah pulang sekolah, orang tua harus mengawasi secara lebih serius. Lingkungan pun harus turut ambil bagian. Ini untuk menyelematkan generasi muda kita dari bahaya merokok, narkoba dan tindakan kriminal lainnya. Hal ini harus menjadi tanggung jawab bersama, terkoordinasi dan terkontrol dengan baik,” kata Rustam.

 

Kepala Dinas Kesehatan Babel, Mulyono, mengharapkan peran serta seluruh masyarakat untuk mendukung upaya mengurangi kebiasaan merokok di kalangan anak di bawah umur.

 

“Jumlah perokok usia anak dan pelajar di Babel cukup besar. Karena itu, kita akan berkoordinasi dengan pihak dinas terkait untuk mencegah dan mengantisipasi meningkatnya jumlah perokok anak dan pelajar di Babel,” jelas Mulyono.

 

Kepala Dinas Pendidikan Babel, Rivai, menjelaskan setiap sekolah sudah memiliki aturan kawasan tanpa rokok serta larangan bagi pelajar untuk tidak merokok. Semua kebijakan dan aturan tersebut akan semakin ditegakkan.

 

“Kalau di sekolah sangat sulit pelajar merokok karena sudah aturan yang tegas dan jelas. Pengawasan yang rutin. Persoalan muncul ketika para pelajar sudah pulang dari sekolah. Karena itu, akan ditingkatkan koordinasi antara pihak pendidikan, sekolah dengan orang tua, agar pengawasan berkelanjutan sampai di rumah dan lingkungan,” jelas Rivai.

 

Rivai menambahkan hasil riset kementerian kesehatan pada tahun 2013 harus menjadi acuan untuk semakin meningkatkan pengawasan, mencegah dan membatasi anak-anak serta pelajar dari kebiasaan merokok. (J2)

 

SUMBER:
http://bangka.tribunnews.com/2014/07/08/ribuan-remaja-babel-terbiasa-merokok

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*