20141205-174027_83

Rokok elektrik dilarang di 11 negara

KANALSATU – Berbagai kajian kesehatan menemukan bahwa jenis rokok elektrik juga merugikan kesehatan, meski tidak sama persis dengan rokok konvensional. Untuk itu, 11 negara yang diantaranya Singapura, Austria dan Brazil telah menyatakan melarang peredaran rokok tersebut. Sedangkan 14 negara lainnya seperti Jepang, Swiss dan Selandia Baru membatasi peredarannya.

“Selain dilarang dan dibatasi, aturan bagi rokok elektronik termasuk pelarangan iklan, penggolongan sebagai produk kesehatan atau produk tembakau atau produk obat jika mengandung nikotin, dan dilarang sebagai produk tembakau imitasi, terlepas dari konten nikotinnya,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Jumat (5/12/14).

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan melalui Balitbangkes sedang melakukan kajian, sebelum menyusun peraturan yang dibutuhkan untuk membatasi peredaran rokok elektronik.

Tjandra menjelaskan, rokok elektronik memiliki dampak kesehatan negatif, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. “Antara lain dampak aerosolnya seperti potensi sito toksisitas dan adanya senyawa karsinogenik, formaldehil dan akrolein, serta adanya partikel dalam rentang “ultrafine” (100-200 nanometer),” urainya

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, rokok elektronik telah diproduksi dalam 466 merek, 8.000 rasa, menghabiskan anggaran sebesar US$3 miliar. Peredarannya banyak menjangkalau kalangan remaja.

Produsen rokok elektronik kerap mengklaim produk mereka lebih sehat dibandingkan dengan rokok konvensional. Namun berbagai penelitian membuktikan, rokok jenis ini juga memiliki dampak kesehatan yang berbahaya.

WHO sendiri telah memberikan rekomendasi melalui sesi COP FCTC ke-6 pada September 2014, bahwa dibutuhkan pembatasan promosi rokok elektronik serta pelarangan klaim kesehatan rokok elektronik.

“Walau toksisitasnya lebih rendah dari rokok konvensional, tapi tetap memberi ancaman kesehatan dan bisa menjadi awal untuk menjadi perokok,” ucap Tjandra mengutip rekomendasi COP FCTC.(win6)

Sumber:
http://kanalsatu.com/id/post/36401

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*