100348_ecigarette2ts

Rokok Elektronik Sehat? Jangan Mimpi Deh

Jakarta, GATRAnews – Berbagai cara ditempuh Dipa Kalbudi untuk terbebas dari kebiasaan merokok. Namun hasilnya selalu nihil. Pencarian pria 30 tahun ini untuk lepas dari kecanduan rokok akhirnya berhenti di rokok elektronik. “Saya merokok ini (sambil menunjukkan rokok elektronik) sejak akhir tahun lalu,” kata warga Rawamangun, Jakarta Timur, ini kepada Hendri Roris P. Sianturi dari GATRA, Kamis pekan silam.

 

Dipa punya kebiasaan merokok sejak kelas 1 SMA. Ia memilih rokok elektronik jenis personal vaporizer (PV). “Rokok jenis ini cairannya bisa diisi ualng. Uap cairan yang dihirup,” kata manajer sebuah perusahaan swasta ini. Di dalam rokok elektronik terdapat tabung penampung cairan. Volume tangki rokok bervariasi. Ada ukuran 10 mili liter (ml) sampai 30 ml.

 

Rokok bertabung ukuran 10 ml bisa diisap sampai 1.000 kali, sedangkan 30 ml bisa untuk 2.000 isapan. Itu bertahan sekitar seminggu. Jika habis, ia membeli cairan isi ulang seharga Rp 40.000 per 10 ml. Sedangkan rokoknya, rata-rata dibeli Rp 50.000. Dipa mengaku lebih nyaman merokok elektronik PV. Tidak mengganggu orang lain dan bau asap rokok tidak menempel pada baju. Ia pernah mendengar kalau PV membantu penyembuhan masalah pernapasan. Selain itu, pembelinya dapat menentukan kadar nikotinnya berdasarkan volume tangki, tidak seperti rokok kretek atau filter.

 

Sejak diperkenalkan pertama kali oleh SBT Co Ltd Cina, 10 tahun silam, rokok elektronik laku keras. Setahun berselang, Ruyan mengambil alih dan mengembangkan teknologinya. Perusahaan itu berubah namanya menjadi SBT Ruyan Technology & Development Co Ltd.

 

Pada 2004, penjualannya masih bernilai HK$ 13 juta atau sekitar Rp 18,7 milyar meningkat menjadi HK$136 juta pada 2005 dan HK$ 286 juta pada 2006.

 

Kini penjualannya merambah ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Angka konsumsi rokok elektronik diperkirakan terus meningkat seiring dengan pandangan orang bahwa rokok elektronik lebih aman.

 

Campuran Nikotin dan Propilen glikol

“Itu anggapan keliru,” kata Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Profesor Tjandra Yoga Aditama. Menurutnya rokok elektronik berfungsi mengubah zat kimia menjadi uap dan mengalirkannya ke paru-paru. Ia mengandung campuran nikotin dan propilen glikol.

 

Keamanan yang diklaim produsen belum terbukti secara ilmiah. “Produk-produk ini belum diatur ataupun dimonitor, sehingga kandungan zat tiap merek sangat bervariasi, baik jenis maupun kadar tiap-tiap jenis zat. Tidak diketahui pula isi sebenarnya,” kata Tjandra, kepada GATRA, melalui surat elektronik, Kamis malam pekan silam.

 

Padahal, dua zat kimia, nikotin dan propilen glikol, di dalam rokok elektronik tetap berbahaya. Nikotin dapat menimbulkan penyakit kanker paru, kanker mulut dan tenggorokan, serta penyakit jantung, cacat janin, dan keguguran. Sedangkan propilen glikol, yang kerap dipakai pewarna dan pemanis, dapat menimbulkan iritasi bila diisap.

 

Berdasarkan tes yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), beberapa produk rokok elektronik juga mengandung dietilen glikol, zat kimia yang biasa digunakan sebagai racun. Selain itu, kata Tjandra, German Cancer Research Center pernah menemukan beberapa zat lain dalam rokok elektrik.

 

Nitrosamin yang berfungsi sebagai pemberi rasa ternyata juga bisa menyebabkan kanker. Ada pula kandungan kadmium, nikel, timbal, formaldehid, acetaldehid, akrolein, toluen, dan p-xylene, yang juga bisa menyebabkan kanker.

 

“Keberadaan kandungan zat aktifnya sangat bervariasi, baik jenis maupun kadarnya,” imbuh Tjandra. Tjandra menyebut rokok elektronik memberikan rasa aman palsu kepada konsumen. Lantaran tidak mengeluarkan asap, konsumen mempunyai persepsi bahwa rokok elektronik lebih aman. Padahal, rokok itu juga bersifat adiktif. Produsennya bahkan memberikan peringatan yang menyebutkan: Bagi konsumen yang memiliki penyakit paru, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik, bronkitis, dan pneumonia dilarang mengonsumsinya.

 

Sedangkan bahaya bagi perokok pasif adalah mengisap partikel halus nikotin yang tetap akan lepas dari rokok elektrik. “Beberapa negara, termasuk Indonesia, terus mengkaji produk ini untuk kemudian menentukan kebijakan yang diperlukan,” kata Tjandra.

 

Seorang pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, juga memprihatinkan fenomena ini. YLKI menerima banyak aduan berkaitan dengan rokok elektronik. Selain merugikan konsumen, menurut Tulus, rokok jenis ini juga tidak memberikan manfaat bagi negara. Ia mempertanyakan, apakah produsen rokok elektrik sudah dikenakan cukai?.

 

“Kalau tidak ada cukainya, harus dilarang,” ujarnya. Kalau perlu, menurut Tulus, pemerintah memasukkan aturan rokok elektronik ke dalam peraturan pemerintah tentang tembakau. .

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga meragukan rokok elektronik sebagai alat untuk menghentikan kebiasaan merokok.

 

“Apabila industri rokok elektronik ingin membantu perokok berhenti, mereka harus mengadakan uji klinik dan analisis toksisitas dalam kerangka kerja regulasi yang berlaku,” ujar Douglas Bettcher, Direktur adinterim WHO Tobacco Free Initiative.

 

China dan Hongkong Melarang

Sementara itu, Roy Sparingga, Kepala BPOM, mengatakan beberapa pemerintah, termasuk Cina dan Hong Kong, melarang penjualan rokok ini. “Rokok elektronik dianggap produk beracun,” ujarnya. Mereka menilai belum ada evaluasi pra-market dan persetujuan oleh badan regulasi setempat. Australia, Brasil, Singapura, dan Inggris, juga melarangnya.

 

Sedangkan di Indonesia, meski sudah banyak penjual dan pemakai, belum ada peraturan yang mengatur rokok elektronik.

 

BPOM yang mengetahui peredaran rokok elektronik pada 2009 dan telah mengirimkan surat kepada Kemenkes. “Isinya agar dibuat peraturan yang jelas dan menyampaikan rekomendasi dari WHO untuk melarang peredaran obat tersebut,” katanya melalui surat elektronik Jumat siang pekan silam.

 

(Aries Kelana, Jennar Kiansantang, dan Umaya Khusniah)
[Kesehatan, Majalah GATRA Edisi no 22 tahun ke 20, Beredar 3 April 2014]

 

Sumber:
http://www.gatra.com/lifehealth/sehat-1/50545-rokok-elektronik-sehat-jangan-mimpi-deh.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*