141544_rokok

Rokok Jenis Mild Gerus Pasar Kretek Tangan

NERACA

Jakarta – PT HM Sampoerna, salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.900 karyawannya yang berada di Jember dan Lumajang, Jawa Timur. Pihak perusahaan beralasan bahwa hal ini dilakukan karena terus menurunnya pangsa pasar Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang diproduksi di kedua wilayah tersebut.

 

Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Hasan Aoni Aziz membenarkan bahwa setiap tahunnya terjadi penurunan pangsa pasar dari jenis rokok SKT ini. “Pangsa pasar kretek SKT memang sedang mengalami penurunan dan selalu turun tiap tahunnya. Yang stabil, bahkan justru meningkat itu SPM (Sigaret Putih Mesin) dan SKM (Sigaret Kretek Mesin),” ujarnya di Jakarta, Selasa.

 

Dia menjelaskan, pola kebiasaan masyarakat yang saat ini lebih banyak mengkonsumsi SKM jenis mild ini yang lama-kelamaan menggerus pangsa pasar SKT, sehingga pada akhirnya mempengaruhi hidup dan matinya industri rokok SKT itu sendiri. “Mild ini jenis rokok yang luar biasa menggerus rokok jenis SKT. Jadi polanya seperti ini, jika terjadi kenaikan konsumsi pada SKM, biasanya akan diikuti dengan penurunan pada SKT,” jelasnya.

 

Menurutnya, pola konsumsi rokok memang berbeda dengan pola konsumsi produk lain. Jika konsumsi satu jenis rokok penurunan, maka akan terjadi kenaikan pada jenis rokok yang lainnya. Hal ini karena secara total, pangsa pasar rokok cenderung tidak berubah karena orang yang berhenti untuk merokok terhitung tidak banyak dan butuh proses yang panjang

 

“Dari data kami, banyak switching ke SKM. Jadi secara ekonomi, meskipun dari sisi harga SKM ini lebih mahal tetap ada indikator ekonomi yang mendukung pola konsumsi orang. Sepanjang ekonominya stabil, orang akan lebih memilih SKM,” tandasnya.

 

Berdasarkan data GAPPRI, pangsa pasar SKT tiap tahunnya terus mengalami penurunan dimana pada 2009 sebesar 32,80%, 2010 menurun 31,06%, 2011 sebesar 29,63%, 2012 sebesar 27,67% dan 2013 menjadi 26,07%.

 

Sebaliknya terjadi pada pangsa pasar SKM yang tiap tahunnya terus mengalami kenaikan. Mulai dari 2009 yang sebesar 59,24%, 2010 sebesar 60,79%, 2011 sebesar 61,74%, 2012 sebesar 62,92% dan 2013 sudah mencapai 66,20%. Sementara itu, untuk jenis SPM, cederung stabil, dimana pada 2009 pangsa pasarnya sebesar 6,18%, 2010 sebesar 6,06%, 2011 sebesar 5,72%, 2012 sebesar 6,24% dan 2013 sebesar 5,99%.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan selain Sampoerna, ada perusahaan lain yang juga terkena dampak penurunan pangsa pasar SKT ini. Salah satu perusahaan tersebut yaitu PT Gudang Garam. “Ada juga Gudang Garam, saya denger-denger seperti itu. Penurunan pangsa pasanya malah lebih besar. Kalau Sampoerna sekitar 12%, Gudang Garam bisa mencapai 20%,” ujarnya.

 

Dia menjelaskan, Gudang Garam juga melakukan PHK kepada para pekerjanya, namun pihak Kemenperin belum mendapatkan laporan secara resmi dari perusahaan tersebut. “Ada PHK juga, tetapi saya belum punya laporan resminya,” lanjutnya

 

Menurut Panggah, penyebab dari turunannya pangsa pasar ini karena perubahan pola pikir konsumennya, salah satunya rokok SKT dianggap kuno dan tidak membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk menghabiskannya.

 

“Secara menyeluruh karena frekuensi konsumen yang berubah. Pemicunya seperti ukuran roko lebih panjang sehingga merokok lebih lama, orang sekarang maunya merokok sebentar kembali kerja lagi. Ada juga anggapan SKT itu ada kuno, untuk orang tua,” jelasnya.

 

Namun, dampak penurunan ini justru tidak dirasakan oleh produsen SKT skala kecil dan menengah (IKM). Hal ini karena produk SKT dari IKM rata-rata sudah memiliki konsumen yang fanatik. “Yang kecil malah tidak terlalu, karena mereka punya pangsa pasar fanatik diwilayah tertentu. Jadi mungkin mereka tidak (melakukan PHK),” tandasnya.

 

Sumber:
http://www.neraca.co.id/article/41653/Rokok-Jenis-Mild-Gerus-Pasar-Kretek-Tangan

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*