petani-tembakau

Tak Teken FCTC, Indonesia Khianati Organisasi Kerja Sama Islam

Framework Convention on Tobacco Control FCTC atau Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau, bisa menjadi alat yang sangat ampuh menyelamatkan kesehatan generasi mendatang dari gaharnya industri rokok. Namun, pemerintah kita tak jua kunjung melaksanakannya.

Padahal Indonesia adalah salah satu negara pendorong terbentuknya FCTC. Tak mengherankan jika negara ini begitu semangat untuk mengusulkannya, karena kita merasakan betul dampak dari banyaknya generasi muda yang terjerumus akibat mengkonsumsi bahan adiktif.

Menurut Ketua Bidang medik, Komnas pengendalian Tembakau, Hakim Sorimuda Pohan, satu satunya negara di Asia pasifik dan dari banyaknya Organisasi Kerjasama Islam OKI, cuma Indonesia yang belum menandatangani FCTC.

“Dalam pertemuan Menteri Kesehatan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada 2007 di Kuala Lumpur, OKI sudah mengingatkan Indonesia agar FCTC bisa digunakan sebagai dasar pengendalian kesehatan masyarakat. Saat itu, menteri kesehatan kita menandatanganinya, tapi saat kembali ke Indonesia, pelaksanaannya nol besar, jadi kita mengkhianati rekan-rekan negara Islam,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (15/9/2015).

Yang lebih membuatnya kesal lagi adalah, saat ini pemerintah justru lebih mengutamakan rancangan undang-undang tentang perlindungan industri rokok, ketimbang undang-undang perlindungan kesehatan. Hakim menduga, ada pemilik industri rokok yang bermain di balik RUU pertembakauan tersebut.

“Terbalik balik dunia ini,” kesalnya.

“Salah satu yang disebutkan di sana (dalam RUU Pertembakauan), akan diadakan peraturan berimbang antara konsumsi tembakau dan kesehatan. Mana mungkin, bagaimana membuat peraturan menyuruh orang mengecap rasa manis tapi yang dikasih cabe. Berdasar riset sejak 60 tahun lalu, tembakau itu mengganggu kesehatan, bagaimana bisa dipromosikan produksi rokok agar terus meningkat dan kesehatan terjamin. Bagaimana mungkin? Omong kosong itu?” Tambahnya

Kematian akibat kecanduan rokok, kata Hakim, mencapai sekitar 230 ribu orang. Bahaya rokok tak hanya menyangkut perspektif kesehatan saja, tapi juga merambat ke perspektif ekonomi dan peradaban. Bahkan, zat nikotin yang terkandung dalam rokok, disebut sebagi level kecanduan paling tinggi dibanding kokain, marijuana, alkohol, heroin dan morfin.

“Kalau Indonesia menandatanganinya tak akan merugikan. Isapan jempol kalau ada yang bilang dengan menandatangani FCTC maka petani tembakau kita akan sulit,” tegasnya.

Sementara itu, menurut Kepala bidang advokasi dan Kemitraan Pusat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Nana Mulyana, meski Kemenkes belum meratifikasi FCTC, tapi kementerian sudah menjalankan upaya yang esensinya terkait dalam dokumen FCTC.

“Misalnya, bagaimana menerapkan kawasan tanpa rokok, adanya regulasi yang terkait pengendalian tembakau, dan kemasan rokok yang bergambar penyakit akibat rokok dan tembakau. Ada pula edukasi dan kampanye tentang rokok ke arah promotif dan preventif terutama kepada generasi muda,” ujarnya.

Nana menjelaskan, trend prevelansi merokok meningkat, data dari Kemenkes 2013-2015, perokok aktif ada 36,3 persen. Namun 85,4 persen orang dewasa justru terpapar asap rokok orang lain dari restoran, sedangkan 78,4 persen orang dewasa terpapar di rumah. Angka itu belum termasuk yang dialami oleh anak anak.

Apa Kabar Wasiat Robby?

Terkait desakan untuk meratifikasi FCTC ini, Anda tentu pernah mendengar kisah seorang pemuda 27 tahun, Robby Indra Wahyuda, yang meninggalkan pesan menjelang kematiannya, pada Juni lalu. Pesan yang kini menyebar melalui dunia maya itu dibuat saat ia tengah berjuang melawan penyakit kanker laring/pita suara, akibat kebiasaannya menghisap rokok.

Sebuah petisi yang ditayangkan pada laman change.org, berisi desakan agar presiden melindungi kesehatan publik agar tak ada lagi korban seperti dia. Ya, Robby mengajak kita untuk ikut menandatangani petisi agar pemerintah mau meratifikasi FCTC.

Juru kampanye Change.org Indonesia, Dhenok Pratiwi, mengatakan, sejak diluncurkan 7 bulan lalu, saat ini sudah ada 30 ribu orang yang mendukung petisi yang digagas Robby. “Ini salah satu petisi yang banyak didukung netizen, jadi masyarakat juga konsen untuk menyuarakan anti rokok,” ujarnya.

Bagi Dhenok, Robby adalah salah satu pembuat petisi yang paling berkesan buatnya, salah satunya karena kisah yang dialami Robby, mirip dengan apa yang ia alami.

“Di petisi tersebut banyak komentar yang bernada sama dengan yang dialami oleh banyak orang. Misalnya, dulu saya juga merokok, saya juga pernah sakit. Kita merokok bukan karena bercita-cita jadi perokok, tapi pengaruh dari lingkungan luar. Jadi apa yang disampaikan Robby untuk mendukung FCTC ini sangat penting bagi orang di luar sana,” katanya.

Ia menambahkan, Jika Anda menandatangani petisi FCTC, maka langsung sampai ke email presiden. Jadi, kita tinggal menunggu tanggapan dari pemerintah untuk mendukung FCTC di konferensi pengendalian tembakau.

Karena Robby telah tiada, kini petisi tersebut dilanjutkan oleh teman-temannya yang konsen untuk menyuarakan hal yang sama. Salah satunya adalah Valentina Wiji, yang tergabung dalam Yogya Sehat Tanpa Tembakau.

“Teman-teman di berbagai kota, tak pernah berhenti untuk memperjuangkan seruan petisi yang dicanangkan Robby. Misalnya, teman-teman di Jakarta, menyerukannya saat even car free day. Semoga Pak Presiden mendengarkan seruan anak bangsa. Robby mengingatkan Indonesia terutama Presiden Jokowi untuk melindungi anak Indonesia karena industri rokok,” ujar Valentina semangat.

Sembari kita menunggu pemerintah melaksanakan FCTC, yuk, bantu dukung petisi yang digagas Robby di https://www.change.org/p/jokowi-apa-penerus-anda-adalah-generasi-muda-sakit-sakitan-karena-rokok-selasatanparokok,

Sumber :  http://portalkbr.com/berita/09-2015/tak_teken_fctc__indonesia_khianati_organisasi_kerja_sama_islam/75947.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*