SNCM MINDSET-1

Ubah Mindset Perokok

lewat Cara Kreatif Imbauan rokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin rupanya tidak membuat para perokok tergerak untuk berhenti merokok.

 

Karena itu, Indonesia Bebas Rokok mencoba mengubah pola pikir para perokok lewat cara kreatif seperti membuat video dan poster di media sosial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Indonesia Bebas Rokok, sebanyak 20% orang di Indonesia dengan usia 13–15 tahun menjadi perokok aktif. Selain karena kurangnya edukasi, para perokok remaja yang kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah tersebut mengaku merokok karena tergoda iklan rokok, lingkungan sekitar, dan gaya hidup.

 

”Belum lagi ada asumsi bahwa orang-orang yang merokok itu terlihat keren,” ujar inisiator Indonesia Bebas Rokok Yosef Rabindanata Nugraha. Melihat hal tersebut, Yosef yang membangun komunitas pada 2012 itu pun gencar menyebarkan informasi mengenai bahaya rokok, termasuk memberikan saran agar jangan sampai mengonsumsi rokok. ”Kami sampaikan lewat berbagai video dan poster tentang berhenti merokok. Kita sebar di Facebook, Twitter, website, dan YouTube,” kata Yosef, yang pernah menjadi perokok aktif selama 6 tahun sejak duduk di bangku SMP kelas 1.

 

Menurut Yosef, penyebaran pesan melalui media sosial ditempuh karena kelompok yang mereka sasar, yaitu anak muda, adalah pengguna aktif media tersebut. Agar lebih efektif, komunitas yang akun Twitter-nya di-follow sekitar 5.000 orang ini juga melakukan berbagai acara offline. Acara-acara tersebut di antaranya menyebarkan informasi lewat artikel dan poster tentang bahaya rokok saat Car Free Day, membuat program Smoke Free Agent, mengadakan talkshow serta terapi berhenti merokok saat perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

 

”Jadi, tidak sekadar memberi informasi dan menyarankan saja, tapi komunitas ini juga membantu perokok untuk berhenti lewat terapi totok,” tutur Yosef. Terapi yang dinamakan Seft ini akan membedakan rasa sebelum dan sesudah merokok dengan mengembalikan rasa seperti tidak merokok sebelumnya. ”Terapi harus dilakukan sesering mungkin, minimal 2–3 kali selama 15 menit dan dilakukan oleh yang mengerti terapi totok ini,” ujarnya.

 

Kendati demikian, terapi ini baru benar-benar berhasil jika ada niat yang teguh dari si perokok untuk berhenti. Indonesia Bebas Rokok yang juga bekerja sama dengan Komnas Anak, Komnas HAM, dan Komnas Pertembakauan ini rencananya juga akan meluaskan kampanyenya ke daerah-daerah yang kurang terjangkau di seluruh Indonesia, juga kepada anak-anak jalanan untuk berhenti merokok. rehdian khartika

 

Sumber:
http://www.koran-sindo.com/node/338962

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*