danger

YLKI: Penerapan KDM Tak Ganggu Aktivitas Ekonomi Hotel

Jakarta – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan penerapan Kawasan Dilarang Merokok (KDM) yang diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta No. 88/2010 tentang Perubahan Atas Pergub No. 75 Tahun 2005 tentang KDM tidak mengganggu aktivitas ekonomi perhotelan.

 

Aturan KDM yang diterapkan di puluhan hotel di Jakarta tersebut justru semakin meningkatkan kenyamanan para tamu serta menghemat biaya perawatan dan pemeliharaan hotel.

 

Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, pihaknya melakukan survei untuk mengukur loyalitas dan kepatuhan konsumen dan kepatuhan hotel dalam menerapkan KDM. Survei dilakukan di 100 hotel Jakarta, mulai dari hotel bintang tiga sebanyak 55%, bintang empat sebanyak 29%, dan bintang lima sebanyak 16%. Survei dilaksanakan pada 11-24 November 2013 dengan margin error sebesar 4,33%.

 

“Survei ini mencakup lima wilayah dan lokasi hotel diambil secara acak. Survei dilakukan dua tahap, yaitu tahap observasi lokasi hotel dan wawancana responden dengan tatap muka,” kata Tulus dalam acara diskusi tentang “Untung-Rugi Menerapkan KDM di Hotel” di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (28/1).

 

Dari hasil survei tersebut terlihat banyak tamu hotel sangat mendukung penerapan aturan KDM di hotel-hotel Jakarta. Sebanyak 72% responden menyatakan setuju jika hotel menerapkan KDM secara ketat. Sedangkan sisanya sebanyak 15% menyatakan sangat setuju, 12% tidak setuju, dan 1% sangat tidak setuju.

 

Ternyata penerapan aturan KDM secara ketat tidak akan membuat tamu setia beralih ke hotel lain yang tidak menerapkan KDM. Survei YLKI menyatakan, sebanyak 91% atau 454 tamu hotel tetap mengunjungi hotel tersebut. Lalu sebanyak 9% atau 46 tamu yang menyatakan akan beralih ke hotel lain.

 

Begitu juga saat ditanyakan tindakan responden jika tempat hiburan seperti bar, diskotek, dan karaoke dalam hotel menerapkan KDM. Sebanyak 381 responden atau 77% menyatakan tetap akan mengunjungi tempat hiburan tersebut. Sedangkan 119 responden atau 23% menyatakan beralih ke tempat hiburan lain.

 

Responden yang menyatakan tidak setuju tempat hiburan di hotel memberlakukan aturan KDM hanya 145 responden atau 29%. Sedangkan yang menyatakan setuju mencapai 316 responden atau 63%. Sisanya menyatakan sangat tidak setuju 2% dan sangat setuju 6%.

 

“Tidak hanya itu, responden setuju jika pelanggar KDM di hotel dikenakan sanksi denda. Sebanyak 67% menyatakan setuju dan tidak setuju 22%,” ujarnya.

 

Kisaran denda yang diingini oleh 48% responden ada di antara Rp 250.000 hingga Rp 500.000, lalu 29% responden menyatakan setuju sanksi denda diberikan antara Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Sebanyak 23% responden menyatakan setuju diberikan sanksi denda diatas Rp 1 juta.

 

“Jadi dari hasil survei ini disimpulkan, mayoritas konsumen hotel, sekitar 70%, bukan perokok. Konsumen akan tetap loyal meski hotel menerapkan KDM secara ketat. Paling penting, DKM tidak akan mengganggu aktivitas ekonomi hotel,” tukas Tulus.

 

Sumber:
http://www.beritasatu.com/aktualitas/163287-ylki-penerapan-kdm-tak-ganggu-aktivitas-ekonomi-hotel.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*