Pertanian Tembakau

20140603_075550_daun-tembakau

Daun tembakau diklaim sebagai “emas hijau” karena keberadaannya memberi dampak kepada tiga sektor sekaligus: pertanian, tenaga kerja, buruh, industri, hingga penerimaan negara lewat cukai. Klaim ini menjadi dasar pokok pemerintah tak kunjung meratifikasi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau atau traktat yang berlaku internasional tentang pengendalian produk tembakau yang dibuat negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia.

Di Indonesia, tembakau bukan tanaman pokok karena tak tumbuh dan dibudidayakan di semua daerah. Di seluruh daratan Indonesia, total luas lahan pertanian tembakau meliputi 228.448 hektare. Dari luas tersebut hanya 173.542 hektare atau 72,81 persen lahan yang produktif dan menghasilkan 116.995 ton per tahun. Jika dibandingkan dengan luas arealnya, produksi ini hanya 62 persen dari total produksi daun tembakau yang bisa dihasilkan per tahun. Secara produktivitas lahan tembakau menghasilkan 763,77 kilogram per hektare per tahun.

Tembakau terkonsentrasi di tiga provinsi yang meliputi 89 persen dari total luas wilayah pertanian tembakau seluruh Indonesia: Jawa Timur dengan luas 108 ribu hectare atau 55 persen dari total luas lahan pertanian tembakau seluruh Indonesia, Jawa Tengah seluas 44 ribu hektare atau 22 persen luas lahan tembakau, dan Nusa Tenggara Barat seluas 24 ribu hectare atau 12 persen (Elfarisna, 2014). Sebagian kecil sisanya tersebar di Sumatera dan Jawa Barat.

Penyebab tak tersebarnya tanaman tembakau di seluruh wilayah Indonesia karena tanaman ini sangat rentan terhadap kondisi lingkungan. Bibit tembakau tak bisa hidup dan tumbuh di daerah sangat kering dengan curah hujan yang jarang, juga tak bisa di lingkungan yang basah dengan curah hujan yang tinggi. Karena itu tembakau hidup di daratan menengah, bukan pegununang maupun tak mendekati laut.

Lingkungan yang berbeda juga menghasilkan jenis dan kualitas tembakau yang berbeda. Ada empat jenis yang terkenal: tembakau Madura yang dihasilkan oleh 64.442 hektare, tembakau Temanggungan yang dihasilkan oleh 33.079 hektare, tembakau Weleri/Kendal dari 9.043 hektare lahan, tembakau Mranggen dari 11.928 hektare, dan tembakau Paiton yang dihasilkan 12.527 hektare lahan. Tembakau-tembakau tersebut sebagian besar dipasok untuk pabrik rokok kretek, sebagian kecil lain untuk rokok lintingan dan diekspor.

Pada 2013 jumlah tembakau yang diekspor sebanyak 32.094.465 kilogram senilai US$ 150.682.223.

Sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi pengelolaan tembakau melibatkan banyak tenaga kerja sejak pembibitan hingga pembuatnnya menjadi rokok dan cerutu. Saat ini yang terlibat dalam bisnis tembakau sebanyak 6.414.000 jiwa terdiri dari petani tembakau sebanyak 2,3 juta, petani cengkeh sebanyak 1,9 juta, tenaga kerja di pabrik rokok 164 ribu, pengecer rokok atau pedagang asongan sebanyak 1,15 juta, serta percetakan dan transportasi 900 ribu orang.

KONDISI PETANI

270653_petani-tembakau-membawa-hasil-panen_663_382

Jika tembakau menumbuhkan industri besar yang menyumbang cukai Rp 100 triliun per tahun dan memproduksi orang terkaya di Indonesia, keadaan sebaliknya terlihat dari kondisi petani. Bertahun-tahun orang terkaya di Indonesia diduduki oleh para pemilik pabrik rokok: Budi dan Michael Hartono dari Djarum dan Putera Sampoerna yang dulu pemilik PT H.M Sampoerna Tbk lalu menjualnya kepada Philip Morris, perusahaan tembakau besar dari Amerika Serikat.

Penelitian Lembaga Demografi Universitas Indonesia dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia menunjukkan ironi tembakau karena kesejahteraan pemilik pabrik tak berbanding lurus dengan petani tembakau. Penelitian pada Juli-September 2008 di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat yang melibatkan responden sebanyak 451 buruh tani dan 66 petani penggarap.

Dilihat dari kondisi rumah petani, sebanyak 42 persen petani pengelola (pemilik, penyewa, dan bagi hasil) tinggal di rumah berlantai tanah, sebanyak 44 persen tinggal di rumah berlantai semen, dan hanya 8 persen yang memiliki rumah dengan lantai keramik. Keadaan tersebut tak berbeda dengan kondisi buruh tani. Sebanyak 58 persen tinggal di rumah berlantai tanah, 35 persen di rumah berlantai semen dan 4 persen memiliki rumah berlantai keramik.

Tingkat pendidikan petani dan buruh tani tembakau juga sangat rendah. Sebagian besar petani pengelola (64 persen) berpendidikan SD kebawah, begitu pula pada buruh tani, sebagian besar (69 persen) juga berpendidikan SD ke bawah. Padahal buruh tani yang menjadi objek penelitian umumnya andal mengelola lahan tembakau karena mereka berpengalaman merawat hingga mengolah lahan pertanian tembakau.

Kondisi sosial ekonomi tersebut disebabkan rendahnya upah. Rata-rata upah buruh harian sebesar Rp 15.899 atau Rp 413.374 per bulan jika hari kerja sebanyak 26. Upah ini hanya 47 persen dari upah secara nasional. Jika dibandingkan dengan upah minimum kabupaten, upah buruh tani lahan tembakau juga hanya setengahnya, bahkan jauh lebih rendah pada kabupaten-kabupaten yang industrinya maju.

Di Bojonegoro, Jawa Timur, buruh tani menerima upah Rp 17.756 per hari atau Rp 461.656 perbulan. Jumlah ini setara dengan 73 persen dari upah minimum kabupaten sebesar Rp 630.000 perbulan. Di Kendal, Jawa Tengah, upah harian buruh tani tembakau Rp 16.037 atau Rp 416.962 per bulan yang hanya 68 persen dari upah minimum kabupaten sebesar Rp 615.000 perbulan. Di Lombok Timur buruh tani menerima upah Rp 13.920 per hari atau Rp 361.920 perbulan, setara 49 persen upah minimum sebesar Rp 730.000 perbulan. Dengan upah sebesar itu hanya 8 persen buruh tani yang bisa menabung.

Meskipun beban kerjanya sama, rata-rata upah harian buruh tani perempuan sebesar Rp 14.099, lebih rendah daripada upah buruh laki-laki yang Rp 17.438. Buruh anak lebih mengenaskan lagi. Anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan di lahan tembakau tak sekadar membantu orang tua tapi mereka bekerja penuh seperti orang dewasa. Mereka mendapat upah Rp 5.548 per hari atau hanya sepertiga dari rata-rata upah buruh tani dewasa yaitu Rp 15.899. Buruh anak bekerja di pertanian tembakau rata-rata selama 4,48 jam perhari.

Kecilnya pendapatan buruh tani tembakau kian diperparah oleh perilaku merokok di kalangan mereka. Sebanyak tujuh dari sepuluh buruh tani laki-laki merokok dan tiga persen buruh perempuan. Besarnya pengeluaran untuk rokok adalah Rp 3.545 perhari atau Rp.106.350 per bulan. Ini setara dengan 26 persen penghasilan buruh tani tembakau perbulan.

Buruh anak-anak juga sudah merokok. Sebanyak 17 persen buruh anak sudah merokok sambil bekerja. Rata-rata pengeluaran rokok buruh tani anak adalah sebesar Rp 4.942 perhari atau 148.260 per bulan atau 89 persen dari upah yang mereka terima.

Petani tembakau memperoleh keuntungan rata-rata selama satu kali musim tanam sebesar Rp. 4.061.800. Jika satu musim rata-rata berlangsung selama 4 bulan, petani hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1 juta. Penghasilan ini relatif kecil jika dibandingkan dengan risiko usaha yang ditanggung oleh petani pengelola seperti cuaca, risiko hama, dan risiko turunnya harga daun tembakau.

Setidaknya ada lima risiko usaha di lahan pertanian tembakau:

1. Perubahan cuaca
Tanaman tembakau sangat peka terhadap perubahan cuaca, khususnya perubahan curah hujan, jika curah hujan tinggi maka kualitas daun tembakau dipastikan akan turun.

2. Perubahan harga
Harga sangat ditentukan oleh kualitas daun tembakau. Penentu kualitas adalah para grader (pembeli/tengkulak) tembakau yang berasal dari perusahaan rokok. Dalam menentukan kualitas tembakau terdapat 40 tingkatan, mulai dari harga Rp 500 sampai dengan Rp 25.000 per kilogram tergantung levelnya Di perusahaan sudah ada penentuan harganya pada setiap grader.

3. Hama tanaman
Tanaman tembakau harus dirawat dengan ”sabar dan teliti” layaknya merawat bayi.

4. Turunnya pembelian
Jika persediaan daun tembakau di pabrik rokok masih banyak.

5. Modal usaha yang besar
Umumnya diperoleh dengan berutang.

PERSEPSI PENGALIHAN USAHA

Dengan kecilnya penghasilan usaha pertanian tembakau, responden penelitian Lembaga Demografi Universitas Indonesia menyatakan keinginan untuk beralih usaha menanam komoditas lain. Sebanyak 65 persen buruh tani tembakau menyatakan ingin mencari pekerjaan lain, dengan jawaban terbanyak di bidang perdagangan.

Meskipun satu dari dari petani pengelola menyatakan bahwa usaha menanam tembakau mempunyai prospek lebih baik, namun 64 persen dari mereka menyatakan ingin beralih ke usaha lain seandainya ada yang memberikan keuntungan lebih atau minimal sama. Mereka yang ingin beralih ke jenis tanaman lain, sebanyak 57 persen hendak beralih ke bidang pertanian lain.

Jenis pertanian yang hendak dikembangkan oleh kelompok petani ini paling banyak adalah padi (29,7 persen), jagung (18,9 persen), sayur-sayuran (16,2 persen), cabe (18,1 persen) dan kacang-kacangan (2,7 persen). Dari 36 persen petani yang hendak menjalankan usaha tanaman tembakau, alasan terbanyak atas pilihan tersebut adalah karena tidak ada pilihan lain (32,7 persen).

PENYAKIT PEKERJA TEMBAKAU

238584ffc72bc6a1f6cc8da2a5e7dca2

Dikenal sebagai “racun nikotin tembakau hijau” atau green tobacco nicotine poisoning yang menyerang para pekerja di pertanian tembakau. Saat merajang daun tembakau yang baru dipanen, zat nikotin yang terkandung di daun tembakau sudah bisa dihirup orang yang berada di sekelilingnya. Karena itu gejala umum yang dijumpai di kalangan pekerja tembakau adalah pusing, mual, gatal-gatal, dan gangguan syaraf.

Tak hanya racun nikotin yang terhisap saat mengeringkan daun tembakau, zat pestisida yang disemprotkan untuk mengusir hama juga terhirup yang menjadi penyebab “racun hijau” ini. Di Malawi dilaporkan bahwa 80 ribu anak-anak pekerja di lahan tembakau mengalami gejala keracunan seperti ini. Di Malawi, anak-anak yang bekerja di lingkungan tembakau jauh lebih rentan terhadap penyakit dan rata-rata berpendidikan rendah. Bukan saja terbentur pada tak ada biaya untuk pendidikan, mereka tak bisa ke sekolah karena sering sakit dan kekurangan giji, sebagai efek dari “racun hijau” yang bersarang di tubuh mereka.

Seperti di Indonesia, petani tembakau juga strata paling rendah di kalangan pekerja tembakau yang hanya menhasilkan US$ 40-US$ 100 per tahun. Bedanya dengan Indonesia, Malawi sudah meratifikasi FCTC yang sekaligus untuk memerangi pabrik dan pertanian tembakau mempekerjakan anak di bawah umur.

Referensi

Kondisi Petani Tembakau di Indonesia. Elfarisna. 2014. Seminar Nasional Pertanian Tembakau di Aula Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tobacco Plantations in Malawi. 2014.Britanny Varner-Miller. The Guardian. (http://guardianlv.com/2014/01/tobacco-plantations-in-malawi/)

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.