Survei

RINGKASAN EKSEKUTIF – GATS INDONESIA

 SURVEI GLOBAL PENGGUNAAN TEMBAKAU PADA ORANG DEWASA: LAPORAN INDONESIA 2011

 

PENDAHULUAN

Survei Global Penggunaan Tembakau pada Orang Dewasa (GATS, Global Tobacco Survey Adult) adalah standar internasional untuk memantau secara sistematis penggunaan tembakau pada orang dewasa untuk mengetahui indikator pengendaliannya. GATS di Indonesia dilakukan pada 2011 dan 2012 dalam bentuk survei rumah tangga nasional yang representatif terhadap semua laki-laki dan perempuan berusia 15 tahun ke atas, yang dirancang untuk menghasilkan data internasional yang dapat dibandingkan antar negara.

GATS di Indonesia dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bekerjasama dengan National Institute of Health Research and Development (NIHRD), Kementerian Kesehatan. Bantuan teknis diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, The World Health Organization) serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC, Centers for Disease Control and Prevention). Dukungan finansial untuk survei ini disediakan oleh Bloomberg Philanthropy.

GATS akan meningkatkan kapasitas negara dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program pengendalian tembakau. Program ini juga akan membantu negara-negara dalam melaksanakan paket kebijakan 6M dari WHO :

• Memantau penggunaan tembakau & kebijakan pencegahannya .
• Melindungi masyarakat dari asap tembakau dengan membentuk kawasan bebas rokok.
• Menawarkan bantuan berhenti menghisap tembakau.
• Mengkampanyekan bahaya tembakau.
• Menegakkan larangan terhadap iklan rokok, promosi, dan kegiatan sponsor .
• Menaikkan pajak tembakau.

 

Metodologi

GATS menggunakan kuesioner, desain sampel, pengumpulan data dan prosedur manajemen yang sesuai standar penelitian. Populasi target mencakup semua orang yang menganggap Indonesia sebagai tempat tinggal mereka yang mencakup 98,4 persen dari total populasi. Survei ini menggunakan desain empat tahap sampling kluster stratifikasi.

Pada tahap pertama, dipilih 50 unit sampel primer kota dan 50 unit sampel primer desa, dengan memilih 8.994 rumah tangga sebagai responden. Wawancara dilakukan pada 8.581 dengan memilih secara acak salah satu anggota rumah tangga tersebut. Ada total 8.305 wawancara individu yang dilakukan dengan tingkat respons keseluruhan sebesar 94,3 persen.

GATS Indonesia mengumpulkan informasi tentang berbagai indikator yang akan membantu negara untuk memantau penggunaan tembakau dan langkah-langkah kunci pengendaliannya. Kuesioner terdiri dari topik-topik berikut ini:

• penggunaan tembakau (merokok tembakau (rokok putih, rokok lintingan, rokok kretek, dll), tembakau tanpa asap, dan rokok elektronik),
• penghentian, perokok pasif,
• sisi ekonomi dari rokok putih dan rokok kretek,
• media,
• pengetahuan terhadap rokok dan bahaya merokok,
• sikap dan persepsi tentang efek kesehatan dari merokok dan penggunaan tembakau tanpa asap.

GATS merupakan survei pertama yang pernah dilakukan di Indonesia yang menggunakan pengumpulan data elektronik melalui wawancara memakai telepon seluler. Untuk membandingkan hasil survei dengan data global lihat Peta Tembakau Indonesia

 

Temuan kunci

Penggunaan tembakau:

• Jumlah perokok 67,4 persem laki-laki, 4,5 persen perempuan
• Sebanyak 61,4 juta atau 36,1 persen ini menggunakan tembakau dalam bentuk asap dan tanpa asap.
• Tembakau adalah sumber utama merokok dengan jumlah 59,9 juta atau 34,8 persen.
• Sebanyak dua dari tiga laki-laki merokok tembakau (67,0 persen; 57,6 juta), dibandingkan dengan 2,7 persen (2,3 juta) dari perempuan.
• Di kalangan orang dewasa, 1,5 persen laki-laki, 2,0 persen perempuan dan 1,7 persen dari keseluruhan orang dewasa saat ini menggunakan tembakau tanpa asap.
• Hampir 45 persen dari pengguna tembakau perempuan saat ini menggunakan tembakau tanpa asap. Di antara populasi orang dewasa, 56,7 persen laki-laki dewasa (48,7 juta), 1,8 persen perempuan dewasa (1,6 juta), dan 29,2 persen (50,3 juta) dari keseluruhan orang dewasa adalah perokok harian.
• Mayoritas perokok mengkonsumsi rokok dalam segala bentuk (rokok kretek, rokok putih atau pabrikan dan rokok lintingan tangan), sementara hanya 0,3 persen di antara mereka yang mengkonsumsi rokok tembakau lainnya seperti pipa, cerutu, shisha, dll.
• Rokok kretek merupakan jenis yang paling populer bagi para perokok (31,5 persen, hampir 90 persen dari perokok saat ini), diikuti oleh rokok lintingan tangan (4,7 persen) dan rokok putih (2,2 persen). Rokok kretek lebih umum digunakan oleh laki-laki (60,9 persen) dibandingkan perempuan (2,3 persen).
• Penggunaan tembakau lebih banyak di daerah perdesaan (39,1 persen) dibandingkan perkotaan (33,0 persen). Pola yang serupa juga diperoleh untuk jenis rokok (kecuali untuk rokok putih) dan penggunaan tembakau tanpa asap.
• Prevalensi pengguna rokok kretek tinggi terdapat pada kelompok usia 25-44 tahun (34,6 persen) dan 45-64 tahun (35,2 persem) dibandingkan dengan kelompok usia termuda 15-24 tahun (25,2 persen) dan kelompok usia tertua yang berumur 65 tahun atau lebih (21,5 persen).
• Rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari sebanyak 13 batang untuk pria dan 8 batang untuk perempuan.
• Usia awal merokok rata-rata 17-18 tahun.

 

Pencegahan

• Hampir separuh perokok merencanakan atau sedang berpikir berhenti merokok, namun hanya 10,5 persen yang merencanakan berhenti dalam 12 bulan ke depan.
• Lebih dari seperempat perokok (30,4 persen) yang telah berusaha berhenti merokok dalam 12 bulan terakhir
• Di antara perokok yang mengunjungi fasilitas kesehatan, 40,5 persen merokok tembakau dan 34,6 persen dari mereka disarankan berhenti merokok.
• Perokok yang mencoba berhenti dalam 12 bulan terakhir, 7 persen meminta bantuan konseling dan 70,7 persen tanpa bantuan apapun.

 

Perokok pasif

• Pekerja dalam ruangan sebanyak 14,6 juta (51,3 persen) terpapar asap rokok di ruang kerja dengan jumlah laki-laki 58 persen dan perempuan 41,4 persen.
• Sebanyak 133,3 juta (78,4 persen) orang dewasa terpapar asap rokok di rumah.
• Sebanyak 85,4 persen pengunjung restoran terpapar asap rokok, 70 persen pemakai angkutan umum.
• Prevalensi paparan asap tembakau di kalangan orang dewasa yang mengunjungi fasilitas perawatan kesehatan dan gedung-gedung pemerintah atau kantor masing-masing adalah 17,9 persen dan 63,4 persen.

 

Implikasi kebijakan

GATS memberikan informasi penggunaan tembakau dan indikator kunci pengendaliannya dengan memakai data sosio-demografis. Sehingga para pembuat kebijakan dan masyarakat bisa memilahnya untuk membuat intervensi sesuai tujuan pengendalian tembakau. Berdasarkan temuan dan kerangka 6M, rekomendasi khusus dari temuan GATS adalah:

• Kampanye pengendalian tembakau mencakup semua jenis produk tembakau yang bisa diakses semua orang.
• Pengamatan periodik dari penggunaan tembakau dilanjutkan untuk menerapkan paket kebijakan 6M.
• Penguatan penyedia layanan kesehatan dan menciptakan fasilitas penghentian rokok dalam pengaturan perawatan kesehatan.
• Menerapkan kebijakan 100 persen kawasan bebas asap rokok yang mencakup semua tempat umum dan tempat kerja untuk sepenuhnya melindungi mereka yang bukan perokok.
• Memanfaatkan pesan anti-merokok di media yang efektif dan peringatan bergambar tentang kesehatan pada semua produk tembakau.
• Menerapkan pembatasan periklanan dengan penegakan hukum yang terbukti memiliki dampak signifikan dalam mengurangi penggunaan tembakau.
• Menaikkan harga produk tembakau agar tidak terjangkau masyarakat luas.

 

Kerjasama Organisasi:

- Kementerian Kesehatan
- Badan Pusat Statistik (BPS)
- National Institute of Health Research and Development
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
- Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit
- Yayasan CDC
- John Hopkins Bloomberg School of Public Health
- RTI International